Beranda » Joko Intarto » Belajar Langsung Dari Dahlan Iskan » “Tekat Sayang”, Sebuah Gagasan Kebangsaan

“Tekat Sayang”, Sebuah Gagasan Kebangsaan

Belajar Langsung Dari Dahlan Iskan (2)

Gong Xi Fat Cay……

Hari raya Imlek tahun ini, menurut saya adalah Imlek yang istimewa. Sebab, Imlek sudah dirayakan secara terbuka. Imlek sudah mencari hari besar yang diterima semua kalangan suku bangsa Indonesia.

Memang aneh juga. Walau suku-suku di Indonesia sudah berasimilasi dengan suku Tionghoa sejak berabad-abad lamanya, Imlek dan segala macam yang berbau budaya Tionghoa semasa Order Baru malah menjadi persoalan.

Istilah “pri” dan “non pri”, misalnya, buat saya merupakan istilah yang membingungkan. Di kantor Jawa Pos Surabaya, “pri” dan “non pri” malah dijadikan petunjuk toilet. “Pri” untuk toilet pria, dan “non pri” untuk toilet non pria alias toilet perempuan.

“Pri” dan “non pri “ memang sudah seharusnya tidak lagi dipersepsi sebagai istilah politik. Sebab, faktanya adalah migrasi dan asimilasi suku-suku sejak ribuan tahun yang silam, menjadikan kita hari ini sangat sulit untuk mengatakan saya, Anda, dan kita semua, sebenarnya suku apa.

Seorang teman saya, secara fisik berwajah Timur Tengah. Tapi kalau ditanya, dia selalu mengaku sebagai orang Madura. Kalau ditanya, “Kok mirip Arab?” Barulah dia menjawab, “Saya memang Arab. Tapi Arab Madura.”

Saya dikenalkan seorang teman yang pengacara kondang kepada seorang Kiai yang memiliki pondok pesantren besar di Jawa Timur. Wajahnya campuran Arab dan Maluku. “Ibu saya dari Maluku,” jelas Pak Kiai.

Tapi, Pak Kiai ini mengatakan bahwa dirinya orang Jawa. Pengetahuannya tentang falsafah Jawa, menurut saya sudah nglothok alias luar biasa.

Ada juga teman saya yang lain, berwajah Tionghoa. Dia fasih berbahasa Jawa. Tidak hanya ngoko, tetapi juga kromo madya dan kromo inggil. Kalau ditanya suku asalnya, dia bilang Jawa. Tapi kalau ditanya, “Bukan Tionghoa?” Dia akan menjawab, “Jawa Tionghoa” atau “Tionghoa Jawa”.

Arab yang Madura, Arab dan Ambon yang jawa dan Tionghoa yang Jawa, adalah potret nyata betapa kesukuan menjadi tidak penting lagi pada era Indonesia yang semakin modern ini. Namun, pada kenyataan sosial, kondisi ini memang masih belum sepenuhnya rampung.

Sebagai pemimpin koran Jawa Pos yang sangat berpengaruh, Dahlan Iskan merasa galau terhadap sering terjadinya gesekan sosial terkait paradigma “pri” dan “nonpri”. Karena itu, Dahlan menggagas sebuah rubrik pada tahun 1992 dengan nama “Tekat Sayang”, kependekan dari “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Saat itu, Dahlan belum bisa berbahasa Mandarin sama sekali.

Seuai namanya, “Tekat Sayang” adalah sebuah rubrik khusus yang terbit setiap hari dengan konten kebudayaan dalam huruf Mandarin disertai lafal dan terjemahannya dengan huruf latin. Cara menampilkannya mirip dengan Al-Quran yang menggunakan huruf Arab disertai cara melafalkan dan terjemahannya dalam huruf latin.

“Saya menduga, kita semua menilai orang Tionghoa itu maju dalam bisnis karena hanya memiliki kebudayaan ilmu dagang. Melalui rubrik Tekat Sayang, saya ingin agar kita semua mengerti bahwa masyarakat Tionghoa itu juga memiliki kebudayaan lain seperti seni, sastra, politik, hukum, kemasyarakatan,” kata Dahlan saat meresmikan edisi pertama rubrik Tekat Sayang, yang diterbitkan dengan ukuran seperempat halaman.

Setelah beredar beberapa hari, mulailah Tekat Sayang mendapat tanggapan pembaca. Ada yang senang, ada yang kontra. Awalnya lebih banyak yang kontra. Lama-lama, lebih banyak yang pro.

Selain dalam bentuk rubrik, Dahlan menggagas aktivasi Tekat Sayang dalam program homestay. Setiap liburan sekolah, dipilih 10 anak sekolah dari keluarga Tionghoa dan 10 anak sekolah dari keluarga non Tionghoa. Maksudnya, bisa Jawa, Madura dan lain-lain, yang dipilih dari penulis tanggapan itu.

Yang Tionghoa dititipkan ke keluarga non Tionghoa. Begitu pula sebaliknya. Homestay itu awalnya tiga hari, kemudian berkembang menjadi seminggu. Setelah selesai homestay, masing-masing anak dan orang tuanya diwawancai dan cerita mereka diterbitkan di Jawa Pos secara berseri.

Setelah dijalankan secara konsisten bertahun-tahun dan jumlah pesertanya setiap kalinya makin banyak, dampak program homestay itu luar biasa. Di antara keluarga-keluarga yang berbeda suku itu, akhirnya saling mengenal. Karena saling mengenal, mereka saling percaya. Karena percaya, mereka saling kerjasama dalam bisnis dan lain-lainnya, sampai sekarang. Bahkan mereka sudah menganggap sebagai saudara sendiri.

Perbedaan warna kulit tidak lagi menjadi penghalang bagi mereka itu untuk saling mengikat sebagai saudara. Jangan-jangan ada di antara peserta yang sudah ribuan itu, yang menjadi mertua dan menantu.

Tekat Sayang, adalah pikiran dan langkah besar seorang Dahlan Iskan dalam membangun persatuan dan kesatuan seluruh anak bangsa. Ketika konflik sosial meledak di mana-mana, rasanya pemerintah tidak perlu malu untuk meniru gerakan Tekat Sayang gagasan Dahlan 12 tahun lalu itu, dengan strategi dan konsep yang baru.

Bagaimana menurut Anda?

Joko Intarto, sebuah pendapat pribadi

Follow me @intartojoko


1 Komentar

  1. kabulsuprapto mengatakan:

    Setuju mas?! Tinggal pemerintahnya mau apa tidak mengadopsinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: