Beranda » Joko Intarto » Belajar Langsung Dari Dahlan Iskan » Koran Daerah dan Kontrol Kekuasaan

Koran Daerah dan Kontrol Kekuasaan

Belajar Langsung Dari Dahlan Iskan (3)

Indonesia adalah Negara dengan wilayah yang sangat luas, berpulau-pulau dan bergunung-gunung. Empat puluh tahun setelah merdeka, keberhasilan pembangunan masih tidak merata. Spot-spot keberhasilan hanya terlihat di kota-kota besar Pulau Jawa. Kota-kota kabupaten di Pulau Jawa sebagian besar masih belum seperti kota.

Apalagi di luar Jawa, khususnya di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Sebagai produk yang bukan termasuk kebutuhan primer, bisnis media di kota-kota luar Jawa, sungguh menyedihkan. Oplah korannya tidak seberapa. Istilah Suroboyo-nya, sak becak. Artinya oplah cetaknya cukup diangkut dengan satu becak saja.

Dalam situasi seperti itulah, Dahlan Iskan dengan berani membangun industri media di daerah-daerah Pulau Jawa. Ekspansi Jawa Pos pertama adalah menerbitkan koran pagi dengan nama Cahaya Siang di Manado. Walau ekspansi ini gagal, Dahlan tidak menyerah.

Setelah berupaya dengan gigih, Jawa Pos berhasil menerbitkan koran di berbagai daerah, yang menurut ukuran orang normal, belum layak. Saya yang pada tahun 1993 ditugaskan Dahlan Iskan untuk mengelola koran di Palu, Sulawesi Tengah, merasa bahwa bisnis koran di Palu begitu sulitnya.

Tapi setahun sebelumnya, Dahlan sudah menerbitkan koran di Jayapura dengan nama Cenderawasih Post. Saya tidak bisa membayangkan berapa kali lipat sulitnya teman saya di Jayapura.

Pada sebuah pertemuan pimpinan group Jawa Pos dengan Dahlan Iskan, saya sempat bertanya secara pribadi. “Pak Bos, mengapa Pak Bos begitu bersemangat mengembangkan koran di daerah-daerah yang masih tradisional, sementara Pak Bos tahu bagaimana sulitnya kami-kami yang menjalankan bisnis itu. Toh oplahnya setelah diupayakan bertahun-tahun juga tidak besar-besar amat,” tanya saya.

“Menerbitkan koran di daerah, bukan tujuan bisnis. Menerbitkan koran di daerah itu merupakan alat, untuk mencapai tujuan yang lebih besar lagi,” jawab Dahlan.

“Salah satu fungsi koran atau media adalah alat kontrol kekuasaan. Fungsi lainnya adalah mencerdaskan masyarakat. Anda bisa membayangkan, bagaimana cara mengontrol kekuasaan di wilayah Indonesia yang sangat besar ini? Anda bisa bayangkan berapa banyak masyarakat yang jadi cerdas karena membaca koran?” lanjurnya.

“Kalau berpikir bisnis, ngapain kita bikin koran di daerah yang begitu terpencil, sulit transportasinya, sedikit peminatnya, sulit kompetensi SDM-nya. Kita lebih baik ke kota-kota besar saja yang sudah maju. Tapi, kalau itu kita lakukan, daerah maju semakin maju, daerah terbelakang semakin tertinggal,” lanjut Dahlan.

Pengalaman hodup Dahlan, sepertinya menginspirasi langkah-langkahnya dalam bisnis media. Dia paham benar bahwa di daerah, kekuasaan berjalan tanpa kontrol media. Karena tidak terkontrol, penguasa daerah zaman itu seperti raja saja. Istilah “semua bisa diatur” menjadi istilah yang sangat popular di kalangan pejabat dan politisi.

Setelah ada media, mulai ada berita-berita pejabat dilaporkan memeras, pejabat dilaporkan menerima suap, pejabat dilaporkan korupsi, politisi dilaporkan mengancam pejabat dan lain-lain. Berita-berita negatif tentang pejabat dan politisi menjadi menu sehari-hari. Masyarakat menjadi makin melek informasi, juga makin berani menyuarakan haknya, karena belajar dari media.

Tak jarang, media di daerah itu berkonflik dengan penguasa dan politisi lokal. Umumnya karena merasa tidak diuntungkan oleh pemberitaannya. Efek konfliknya juga beragam. Ada wartawan yang “hanya” diancam, ada yang benar-benar ditahan. Ada juga yang sampai meninggal dianiaya preman gara-gara menulis berita soal pelanggaran hukum oleh pejabat.

Kondisi ekstrim itu semakin lama semakin membaik. Sekarang pejabat daerah tidak bisa bertindak sembrono, karena media di daerah semakin kuat. Pejabat daerah juga semakin berhati-hati dalam bertindak, karena tidak mau namanya tertulis jelek di media.

Karena sifat pengembangan medianya yang seperti itu, berulang-ulang Dahlan menolak sebutan sebagai raja media di Indonesia, atau Rupert Murdoch-nya Indonesia. “Tujuannya supaya daerah lebih cepat maju, bukan agar korannya cepat kaya atau pemilik korannya kaya raya,” jelas Dahlan tentang alasannya membangun koran-koran kecil di daerah terpencil.

Maka, begitulah. Sejak era 1990, Jawa Pos berekspansi ke mana-mana. Sulawesi, Kalimantan, Papua dan Maluku. Setelah semua kota provinsi di Indonesia Timur dimasuki, Jawa Pos berekspansi ke Sumatera. Sebanyak 207 koran Jawa Pos group sekarang hadir di kota provinsi, dan kota kabupaten.

Joko Intarto, sebuah pandangan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: