Beranda » Joko Intarto » Mewahnya Ubi Papua dan Baju Tanah Abang

Mewahnya Ubi Papua dan Baju Tanah Abang

Suatu hari Minggu pagi di bulan September 2012, saya bertemu Dahlan Iskan secara tidak sengaja, di depan Kantor PLN Gambir. Saat itu, saya sedang menemani kawan-kawan yang sedang mengambil gambar mobil listrik karya Pak Dasep Ahmadi yang sedang diujicoba di keliling Monas.

Mendadak sebuah Mercy hitam yang sangat saya kenal berhenti di depan saya. Kaca depan kemudian terbuka perlahan. Dahlan yang ditemani Sahidin, sopirnya, menyapa tergesa-gesa. “Mau ikut saya?” tanya Dahlan.
“Kemana Pak Bos?” jawab saya. “Ke Bandung. Siang nanti balik Jakarta,” kata Dahlan.

Tanpa menjawab lagi, saya pun masuk mobil melalui pintu belakang. Ini untuk pertama kalinya, saya bertemu Dahlan, setelah menjadi Menteri BUMN. Sembari duduk, otak saya berpikir keras. Mimpi apa saya semalam, kok tiba-tiba bertemu Dahlan dan diajak ke Bandung. Apalagi, sudah setahun saya tidak berjumpa.

“Bagaimana kabar keluarga?” tanya Dahlan.

Pertanyaan Dahlan itu seketika membuyarkan lamunan saya. “Baik Pak Bos,” jawab saya. “Ngomong-ngomong, ngajak saya ke Bandung ada apa Bos?” lanjut saya.
“Tidak ada apa-apa. Tadi lihat Anda di jalan itu, terus tiba-tiba pingin ngobrol saja. Sudah lama tidak ketemu,” ujar Dahlan.

Singkat cerita, sampailah kami di Bandung. Setelah berceramah di kampus ITB dan meninjau mobil listrik karya Pindad, kami kembali ke Jakarta.

Pukul 16.00 kami memasuki Tol Cikunir, Bekasi Barat, suasana jalanan sudah mulai padat. Maklum, orang-orang Jakarta sudah mulai balik dari liburan di luar kota. Sebuah mobil sedan, Toyota Camry warna hitam, tiba-tiba menyerobot antrean.

“Repot juga kalau Menteri tidak pakai pengawal polisi ya. Main serobot jalur saja orang-orang itu,” ujar saya.

“Punya pengawal itu memang enak. Tapi, masyarakat sebenarnya jadi susah. Mereka terlalu sering dipaksa mengalah oleh pengawal. Seakan-akan hanya kita yang butuh cepat,” terang Dahlan.

“Tapi kalau kita butuh cepat, bagaimana dong?” kejar saya. “Perencanaan waktunya harus baik. Kalau tidak punya pengawal, berangkatnya ya jangan mepet-mepet. Kalau pakai pengawal butuh 1 jam, ya kita berangkatnya 2 jam lebih awal,” kata Dahlan.

“Kita mampir ke apartemen ya. Makan malam dulu. Ada menu yang sangat spesial hari ini,” ajak Dahlan. “Siap,” jawab saya bersemangat karena membayangkan makan malam di rumah menteri, pasti menunya super istimewa.

Tak berapa lama kemudian, mobil Mercy bernomor polisi L 1 JP yang membawa kami sampai ke apartemen.

Bergegas kami naik lift menuju kediaman Dahlan.

Masuk ke dalam, saya langsung celingak-celinguk ke meja makan. Kosong melompong. Hanya ada setumpuk majalah dan koran yang belum dibaca. Di dapur pun tidak ada tanda-tanda makanan. Hanya sebuah dandang alumunium kecil terletak di atas kompor gas.

“Panasi saja makanan di dandang kecil itu,” kata Dahlan.

Sambil menghidupkan kompor, saya buka dandangnya. Isinya adalah ubi. Jumlahnya 8 potong. “Ubi dari mana Pak Bos?” tanya saya. “Itu bukan ubi, tapi talas asli Papua,” jelas Dahlan.

“Kalau mau gulai kambing, ada di kulkas,” sambung Dahlan.

Ternyata di kulkas sebuah panci berisi gulai kambing dengan 8 potong daging. Segera saya panaskan gulainya. “Itu bikinan istri saya. Saya bawa dari rumah Surabaya kemarin. Anda sudah tahu kan, gulai kambing paling enak di dunia itu bikinan istri saya,” terang Dahlan memuji istrinya yang memang jago masak gulai kambing.

Setelah panas, makanan saya sajikan. Saya agak bingung ketika hendak makan, karena menurut saya, talas dan gulai kambing bukan pasangan menu yang cocok di lidah saya. “Mau nasi? Ada tuh di magic jar,” kata Dahlan sambil menunjukkan tempatnya di dekat rak piring di dapur.

Pada saat yang bersamaan, Sahidin, sopirnya masuk ke apartemen. “Sahidin, ayo makan sekalian,” ajak Dahlan.

Sahidin bergegas mengambil nasi. Tapi karena nasinya hanya sedikit, Sahidin jadi ragu-ragu. “Gimana nih, nasinya kurang kalau buat bertiga. Saya tadi pagi masaknya hanya sedikit. Soalnya yang di apartemen hanya Pak Dahlan doang,” kata Sahidin sambil berbisik kepada saya.

“Kenapa? Nasinya hanya hanya sedikit ya? Gak apa-apa. Kita bagi buat bertiga. Kalau kurang kenyang, habiskan saja talasnya,” kata Dahlan sambil tertawa.

Saat kami sedang makan bersama satu meja, datang staf Dahlan menelepon, mengingatkan bahwa 2 jam lagi ada satu acara lagi yang harus dihadiri, yakni undangan pengajian. Bergegas kami selesaikan makan.

Dahlan segera mandi dan berganti kaos putih. Saya yang tidak membawa baju ganti, tetap dengan kaos oblong merah berlogo Telkomsel. “Anda ikut pengajian ya,” ajak Dahlan. “Boleh. Tapi saya tidak bawa baju koko,” jawab saya. “Saya ada baju koko banyak. Baru beli minggu lalu,” sahut Dahlan, sambil meminta Sahidin mencarikan baju koko.

Sahidin pun membawa baju koko yang masih terbungkus plastic dan ditali rafia. “Ada satu lusin, baru dibeli minggu lalu di Pasar Tanah Abang,” jelas Sahidin.

Saya mengambil satu. Dahlan satu. Sahidin juga mengambil satu.

Sepanjang perjalanan menuju pengajian, berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran saya. Dari sejak wartawan sampai menjadi menteri, dari masih miskin hingga sudah kaya-raya, dari saat tinggal di perumahan Tenggilis sampai di apartemen mahal di SCBD, gaya hidupnya Dahlan yang sangat sederhana itu tidak pernah berubah.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: