Beranda » Joko Intarto » Obrolan Politik Saat Makan Siang

Obrolan Politik Saat Makan Siang

Senin siang, 11 Februari 2013. Setelah muter-muter, akhirnya saya memilih makan siang di rumah makan khas Lombok, di Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan.

Di dalam restoran sudah ada 3 orang tamu yang sedang makan ayam plecing dan sate pusut. Saya tengok sekilas, mereka berwajah Tionghoa. Logat bicaranya pun membenarkan dugaan saya.

Saya dapat tempat duduk tak jauh dari mereka. Jadi, pembicaraan mereka cukup terdengar jelas dari tempat duduk saya. Aneka macam topik dibahas mereka bertiga. Dari bisnis sampai politik.

Tiba-tiba, mereka membahas soal peluang Dahlan Iskan, Mahfud MD dan Jokowi maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden. “Saya kurang setuju kalau Jokowi jadi capres atau cawapres,” kata tamu yang tua. “Soalnya janji Jokowi masih banyak yang belum direalisasikan,” lanjutnya.

“Kasihan juga Jokowi kalau didorong ke sana. Tapi pendukung Jokowi banyak yang mendukung agar maju sebagai capres,” sergah tamu pria muda. “Twitternya ramai tuh,” lanjutnya.
“Kalau saya seneng Pak Dahlan dan Pak Mahfud,” kata tamu perempuan muda. “Dua-duanya pasangan yang pas. Yang satu paham ekonomi. Yang satu ahli hukum. Keduanya juga tegas dan konsisten,” lanjut perempuan itu.

“Jokowi sebenarnya bagus. Tapi, Jakarta ini sudah parah. Perlu segera dibereskan dulu agar layak sebagai ibukota Negara. Indonesia ini Negara sangat besar, kok ibukotanya jelek begini. Macet, banjir, angkutannya tidak layak. Rumah kumuh, trotoar penuh kaki lima. Air bersih susah. Toilet umum jorok. Coba kita ke Negara lain. Rasanya malu kita sebagai orang Indonesia kalau sedang di luar negeri yang bagus-bagus penataannya,” jelas tamu yang tua.

“Sayangnya Pak Dahlan dan Pak Mahfud kan tidak punya partai. Kira-kira bagaimana itu. Ada gak yang mengusung? Kalau Pak Jokowi kan ada partainya,” sambung tamu wanita.

“Namanya politik. Semua serba mungkin. Tapi bener, saya lebih senang Jokowi menjadi gubernur yang berhasil dan dikenang sepanjang masa oleh warga Jakarta. Soal capres mah, ibarat nonton film, Jokowi itu sudah punya tiket. Cuma belum boleh masuk. Kalau 2019, pasti gak ada saingannya sudah habis. Lawannya tua-tua semua kayak saya,” kata tamu yang tua sembari terkekeh. Dua kawannya ikut-ikutan tertawa.

Bersamaan dengan derai tawanya, saya selesai makan siang. Sebuah kalimat tamu pria tua it uterus terngiang di telinga saya. “Namanya politik, semua serba mungkin.”

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi (mendengar diskusi tanpa disengaja)

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: