Beranda » Joko Intarto » Kisah Agen Koran di Tenggilis

Kisah Agen Koran di Tenggilis

Suatu hari, di tahun 1992. Adzan subuh masih sejam lagi. Rumah-rumah di kawasan Tenggilis, Surabaya Selatan, masih gelap. Tapi ada satu rumah yang sudah mulai hidup. Banyak sepeda onthel dan sepeda motor berjejer di halaman. Sementara pengunggangnya duduk-duduk.

Hari itu, saya kebetulan libur. Iseng-iseng, saya ingin membuktikan, apakah benar Dahlan Iskan punya usaha agen koran. Karena itu, saya ikut menumpang mobil pengantar koran yang membawa jatah agen Dahlan Iskan.

Begitu mobil berhenti, pria-pria muda yang tadi duduk-duduk, segera berhamburan menyambut mobil pembawa koran. Bergotong royong mereka membawa koli demi koli ke tempat pembagian.

Sesaat kemudian, keluarlah Ibu Nafsiah Dahlan Iskan, yang selalu menyebut dirinya “Emak”. Setelah mengomando anak buahnya untuk membagi koran dan memberitahu beberapa pelanggan baru dan yang berhenti, Emak tiba-tiba memanggil saya. “Ini siapa, kok Emak belum kenal?” tanyanya.

“Saya Joko, wartawan. Tadi numpang mobil ekspedisi, ingin lihat kegiatan agen koran,” jawab saya.

Ternyata Emak adalah agen koran Jawa Pos yang tangguh. Lebih dari dua ribu pelanggan korannya. Sebuah angka yang sangat besar untuk ukuran agen koran saat itu.

Sekitar pukul 06.00, Dahlan Iskan datang. Dia memang biasa pulang pagi, setelah mengontrol mesin percetakan yang juga baru berhenti. “Lho Anda ke sini?” tanya Dahlan. “Ikut mobil koran Pak. Tapi sekarang mobilnya sudah pergi,” jawab saya.

Setelah masuk rumah beberapa waktu, Dahlan menemani saya di teras, sambil membaca-baca koran edisi hari itu. “Pak Bos ini kan direktur utama Jawa Pos. Kok masih buka agen koran?” tanya saya membuka percakapan.

Mendengar pertanyaan saya, Dahlan kemudian menceritakan sejarah sampai punya keagenan koran Jawa Pos. Ternyata, saat Dahlan merintis pengembangan Jawa Pos pada 1982, tidak ada agen koran yang mau mendistribusikan, karena Jawa Pos koran kecil yang susah laku.

Karena distribusi adalah salah satu kunci keberhasilan bisnis koran, Dahlan membuat terobosan. Seluruh karyawan ditawari menjadi agen di rumah masing-masing. Yang menjalankan keagenan boleh istrinya, suaminya, adiknya, kakaknya, siapa saja. Pokoknya penanggung jawabnya adalah karyawan. “Saya yang kasih ide, masak saya nggak kasih contoh?” jelas Dahlan.

Strategi itu ternyata sangat jitu. Jawa Pos akhirnya memiliki jaringan keagenan yang sangat kuat dan militan. Disebut militan, karena hanya mau mendistribusikan Jawa Pos. Jaringan agen militan Jawa Pos itu sampai hari ini masih menjadi tulang punggung distribusi dan penjualan iklan Jawa Pos.

Untuk menyemangati karyawan Jawa Pos generasi pertama yang selain bekerja juga menjadi agen itulah, Dahlan Iskan pada setiap ulang tahun Jawa Pos, selalu ikut menjual koran di jalan-jalan. Bukan untuk seremonial atau pencitraan, tetapi betul-betul menjual koran, karena Dahlan Iskan adalah bagian dari agen itu.

Kisah keagenan Dahlan Iskan itu betul-betul membekas di hati. Karena itu, saat Dahlan menugaskan saya mengelola koran di Palu, pada akhir 1993, saya dan semua karyawan membuka usaha keagenan koran.

Targetnya bisa mendistribusikan koran ke pelanggan di seputar rumah masing-masing. Salah satu mantan agen itu, adalah Yusran Yunus, yang sekarang bekerja sebagai wartawan Bisnis Indonesia, di Jakarta.

Demikian pula, ketika saya diminta membuka pasar Indo Pos di Jakarta pada 2003. Sebagai direktur utama Indo Pos, saya pun membuka agen di rumah, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Awalnya saya sendiri yang mencari pelanggan dan mengantar koran. Setahun kemudian, saya mempunyai loper 19 orang, dengan melayani sekitar 700 pelanggan, dari Kelapa Gading hingga Sunter, Kemayoran, Cempaka Putih dan Pulomas. Pak Abu Sofyan, yang sekarang manager humas PT Pos Indonesia, adalah pelanggan pertama keagenan saya.

Saya tidak tahu bagaimana nasib keagenan koran Dahlan Iskan setelah menjadi Menteri BUMN. Hari ini saya ada tugas ke Surabaya selama 4 hari. Saya akan berusaha napak tilas ke Tenggilis, membuat reportasenya untuk Anda.

Tunggu ya…….

Joko Intarto, sebuah perjalanan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: