Beranda » Joko Intarto » Dahlan Iskan Dikira “Sopir Dahlan Iskan”

Dahlan Iskan Dikira “Sopir Dahlan Iskan”

Suatu hari pada tahun 1995.

Sudah menjelang tengah hari ketika handphone saya berdering. Saya lihat layarnya. “Bos Dahlan”. Itu kalimat yang tertera di layar. “JTO, Anda bisa jemput saya di Bandara pukul 13.00 siang ini? Saya naik Garuda Indonesia,” kata Dahlan Iskan.

“Bisa, tapi tidak ada mobil di kantor,” jawab saya.

“Pinjam mobil BMW Pak Margiono saja. Oke ya,” kata Dahlan sambil menutup pembicaraan.

Bergegas saya starter sepeda motor menuju kantor, mencari Margiono, direktur harian Rakyat Merdeka (waktu itu namanya masih harian Merdeka).

Setelah bertemu Margiono, kunci mobil sedan BMW warna hitam pun diserahkan. Beres? Belum. Justru inilah awal masalahnya.

“Ada sopir pak? Saya nyetirnya belum lancar. Belum punya SIM juga. Nggak berani bawa Pak Dahlan,” kata saya. “Waduh, saya juga gak bisa keluar kantor. Begini saja, cari Pak Eddy, sopir ekspedisi koran,” usul Margiono.

Maka, jadilah saya dan Eddy sopir ekspedisi itu berangkat ke Bandara menjemput Dahlan Iskan, di terminal Garuda Indonesia. “Seumur hidup, baru kali ini saya mengemudi sedan. BMW pula,” kata Eddy, sopir ekspedisi itu.

“Biasanya nyetir mobil apa?” tanya saya. “Truk tronton, truk engkel. Paling kecil Mitsubishi elsapek,” jawab Eddy. “Elsapek? Mobil apa itu?” tanya saya setengah penasaran. “Itu L-300, pick up,” jelas Eddy.

Saya terkekeh mendengar penjelasan Eddy soal L-sapek. “Tiga ratus itu san pek Pak, bukan sa pek,” jelas saya. “Teman-teman bilangnya sapek, saya ikut aja,” jawab Eddy. Kami lantas tertawa bersama.

Sambil ngobrol sepanjang jalan, sampailah kami di Terminal Garuda Indonesia. “Wah kita terlambat 30 menit. Jangan-jangan Pak Dahlan sudah pergi naik taksi,” kata saya. “Habis gimana, saya tidak berani ngebut,” jelas Eddy.

Saat Eddy mengemudikan mobil dengan perlahan di sepanjang terminal, saya celingak-celinguk mencari-cari Dahlan Iskan di antara ratusan orang yang berjejer menunggu penjemput masing-masing. Ternyata Dahlan menunggu di ujung terminal, sambil berdiri membaca koran Jawa Pos.

Bergegas saya turun dan mengajak masuk ke mobil. “Lho Anda sudah bisa menyetir mobil sekarang?” tanya Dahlan dengan wajah sumringah. “Belum Pak Bos. Ini bawa sopir ekspedisi. Tapi dia belum lancar. Biasanya bawa truk. Belum pernah bawa sedan BMW,” terang saya to the point.

Dahlan segera masuk ke mobil. Dia naik di samping sopir (memang begitu kebiasaannya sampai sekarang). Maka, saya duduk di bangku belakang.

Mobil bergerak perlahan meninggalkan Bandara menuju Tol Wiyoto Wiyono. “Langsung ke restoran Suan Thai di dekat Senayan,” kata Dahlan kepada sopir. “Siap Pak,” jawab Eddy sambil terus mengemudi perlahan.

“Depan kosong tuh, ayo lebih cepat biar tidak terlambat sampai di restoran,” pinta Dahlan. “Siap Pak,” jawab Eddy. Tapi mobil tidak bertambah cepat. Konstan pelan pada kecepatan 40 – 50 kilometer per jam.

Karena Eddy tidak berani memacu mobil lebih cepat, Dahlan pun berinisiatif mengambil-alih kemudi. “Di tempat pemberhentian Damri itu, Anda berhenti. Saya yang nyetir,” kata Dahlan.

“Siap Pak,” jawab Eddy sambil menepikan mobil.

Dahlan dengan sigap turun dan berganti posisi. Saya tetap di belakang. Eddy di samping Dahlan. Entah merasa bingung atau sebab apa, tiba-tiba Eddy minta izin untuk tidak ikut di mobil. “Kalau saya balik ke kantor pakai Damri saja bagaimana Pak?” tanya Eddy. “Oh begitu? Gak apa-apa. Biar saya yang bawa mobilnya,” jawab Dahlan, sembari mengulurkan uang untuk bayar tiket Damri.

Akhirnya, meluncurlah kami berdua. Dahlan pegang kemudi. Saya tetap duduk di belakang. Sebab, belum sempat berpindah tempat duduk, Dahlan sudah tancap gas. Mobil melesat menuju Restoran Suan Thai.

Sepanjang jalan, beberapa kali handphone Dahlan berbunyi. “Suara wanita samar-samar terdengar di telinga saya. “Kami sampai semanggi, pakai sedan BMW hitam,” jawab Dahlan.

“Kita akan ketemu seorang pengusaha, anak orang penting di Indonesia. Kita mau minta waktu beliau, untuk hadir dalam acara peresmian pabrik kertas milik Jawa Pos Group,” jelas Dahlan.

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di tujuan. Begitu masuk halaman gedung, ada empat pemuda dengan baju seragam sipil, menyambut kami.

“Mobil Pak Dahlan Iskan?” tanya seorang petugas kepada “sopir” BMW. “Betul,” jawab Dahlan.

Sejurus kemudian, petugas yang ada di dekat pintu belakang kiri, membuka pintu. “Silakan Pak Dahlan Iskan masuk ke restoran, sudah ditunggu Ibu,” kata petugas itu kepada saya.

Antara bingung dan ingin tertawa, saya pun keluar dari mobil dengan segera. Sementara, petugas yang di depan menyuruh “sopir” BMW itu untuk memarkir kendaraan di ujung gedung. “Silakan parkir di sana ya, ada 1 tempat parkir di ujung,” kata petugas itu, setengah berteriak.

Dengan kawalan empat petugas berseragam sipil itu, saya masuk restoran Suan Thai. Mungkin sesuai prosedur, keempat petugas itu masuk lebih dulu.

Setelah menerima laporan, “Ibu” itu pun menemui saya. Saya terkejut. Ibu itu juga terkejut. Saya kenal dia, tapi dia sama sekali tidak kenal saya. Ibu itu ternyata Mbak Tutut, putera Presiden Soeharto.

“Anda bersama Pak Dahlan?” tanya Ibu itu. “Iya Mbak,” jawab saya.

“Lha mana Pak Dahlan?” tanya Mbak Tutut. “Lagi markir mobil. Beliau yang nyetir, saya menemani. Tapi Bapak-bapak ini mengira saya Pak Dahlan dan yang menyetir itu sopirnya. Jadi, saya disurun turun duluan ketemu Mbak Tutut. Sedangkan Pak Dahlan disurun memarkirkan mobil di ujung gedung,” jelas saya.

“Mohon maaf, mohon maaf. Anak-anak buah saya yang salah,” kata Ibu itu, dengan wajah malu, atau mungkin marah. Keempat petugas berseragam sipil itu tampak salah tingkah. “Siap, kami salah,” kata mereka hampir berbarengan.

Kekakuan suasana segera mencair dengan kehadiran Dahlan di restoran.

Kami semua tertawa terpingkal-pingkal, ketika kejadian itu diceritakan lagi. Berulang-ulang, Mbak Tutut menghapus air matanya, karena tak henti-hentinya tertawa.

Joko Intarto, catatan pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: