Beranda » Joko Intarto » Ketika Zamroji Dipaksa Jadi Dahlan Iskan

Ketika Zamroji Dipaksa Jadi Dahlan Iskan

Kisah ini tentang Dahlan Iskan kali ini, bukan dari pengalaman saya, melainkan dari Zamroji, kepala pracetak Jawa Pos, pada tahun 1991. Sudah 22 tahun lalu kejadiannya, tetapi masih terus saya ingat ceritanya.

Hari itu, saya sedang menunggu proses cuci cetak foto untuk berita yang akan terbit, di kantor Jawa Pos Karah Agung, Surabaya. Sambil menunggu, saya mendekati yang Zamroji sedang menata dan memotong-motong film untuk cetakan Jawa Pos edisi besok pagi.

Sambil membaca-baca berita yang akan terbit di film itu, kami ngobrol ngalor-ngidul dan bercerita pengalaman lucu. Bergantian kami bercerita, sampailah pada pengalaman lucu Zamroji bersama Dahlan Iskan di Semarang.

Peristiwanya sendiri sudah lama. Saya lupa menanyakan tahun kejadiannya.Tapi, taksiran saya antara 1989 – 1990. Sebab, saat itu saya masih kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Selama kuliah, saya punya usaha agen koran dan melihat perubahan koran Kartika Lama menjadi Kartika Baru.

Zamroji sedang bertugas di kantor Surabaya, ketika Dahlan meneleponnya. Intinya, Zamroji keesokan paginya diminta ikut ke Semarang untuk menyaksikan kesepakatan take over manajemen harian Kartika oleh Jawa Pos.

“Saya pakai baju apa Pak?” tanya Zamroji meminta saran Dahlan, karena harus hadir dalam acara bisnis yang penting. “Terserah. Pokoknya Anda harus ikut. Kita ketemu di Bandara Juanda pagi-pagi,” jelas Zamroji menirukan jawaban Dahlan.

Dengan perasaan bingung dan bangga, Zamroji memutuskan untuk memakai setelah jas dengan dasi dan sepatu pantofel terbaiknya. “Mau beli perusahaan koran, mosok pakai kaos oblong,” kata Zamroji memberi alasan pemilihan bajunya.

Sesampai di Bandara Juanda, Zamroji terkejut dan tengsin saat bertemu Dahlan. Sebab, Dahlan hanya pakai polo shirt dan sweater yang dililitkan di leher sambil menenteng tas kresek berisi buku. Sepatunya juga kets seperti biasanya.

Ternyata, kata Zamroji, Dahlan juga terkejut melihat penampilannya yang necis seperti pengusaha sukses. Berjas lengkap, berdasi, dan sepatu kulit yang disemir mengkilat. “Bos Dahlan tertawa melihat penampilan saya. Saya juga tertawa melihat penampilan Pak Bos. Kami saling tertawa, ” kata Zamroji mengenang peristiwa itu.

Setelah mendarat di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Dahlan dan Zamroji pun turun dari pesawat. Di ruang penjemputan, sudah ada petugas dari Harian Kartika yang mengacung-acungkan kertas dengan tulisan “Dahlan Iskan”.

“Dari harian Kartika?” tanya Zamroji. Pembawa kertas itu mengangguk. Sejurus kemudian, rombongan di belakang petugas itu berebut memberi salam. “Selamat datang di kota Semarang, Pak Dahlan Iskan,” kata pimpinan rombongan kepada Zamroji, sambil mengajak berjabat tangan.

Zamroji saat itu benar-benar merasa canggung karena dikira sebagai Dahlan Iskan. Sementara, Dahlan Iskan yang asli ada di sampingnya. “Maaf, saya bukan Dahlan Iskan. Nama saya Zamroji, kepala pracetak Jawa Pos. Pak Dahlan Iskan yang ini,” kata Zamroji sambil menunjukkan jarinya kearah Dahlan.

Ternyata, petugas itu tidak percaya dengan penjelasan Zamroji. “Tahunya gimana,” pancing saya. “Dia memaksa saya menerima jabat tangannya. Katanya, ah… Pak Dahlan bisa aja. Jangan main-main….” kata Zamroji menirukan komentar utusan Kartika itu.

Tawa kami semua di ruangan pracetak langsung meledak mendengar cerita Zamroji.

Dahlan Iskan, memang pribadi yang unik. Terutama dalam hal gaya penampilannya sehari-hari. Pergi ke mana-mana tanpa baju ganti, bukan hal baru. Maka, waktu saya memimpin koran di Palu, bagian umum Jawa Pos mengingatkan agar kantor saya menyediakan baju ganti lengkap untuk Dahlan, bila sewaktu-waktu berkunjung.

Atas saran bagian umum Jawa Pos, saya siapkan dua stel baju lengkap luar dan dalam. Baju luarnya adalah kaos promosi koran, karena Dahlan sangat senang memakai kaos yang ada nama koran miliknya. Padahal, kaos itu sebenarnya berbahan murah, hanya untuk merayu loper-loper koran saja.

Sejak menjadi CEO PLN, gaya penampilan Dahlan sebenarnya sudah sangat “maju”. Walau bajunya masih terlalu sederhana kalau untuk pencitraan, saya menilai penampilan Dahlan sekarang ini, merupakan prestasinya yang besar dalam hal fashion.

Joko Intarto, sebuah penuturan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: