Beranda » Joko Intarto » Belajar Jurnalistik dari Suheng Dahlan Iskan » “Rukun Iman Berita” yang Tak Terlupakan

“Rukun Iman Berita” yang Tak Terlupakan

Pada edisi sebelumnya, sudah saya sampaikan enam “rukun iman” berita. Sudah habiskah? Belum dong. Masih ada empat rukun lagi, karena jumlahnya ada 10.

Rukun ketujuh, adalah unik. Semua peristiwa yang unik layak menjadi berita. Berita sapi sonok di Madura yang bisa menari dan suka makan roti, adalah contoh berita unik yang disukai pembaca.

Rukun kedelapan, disebut eksklusif. Berita-berita investigasi adalah contoh berita eksklusif yang tidak dimiliki media lain. Ini sangat layak menjadi berita. Pembaca pun menyukai berita-berita seperti ini.

Rukun kesembilan adalah tren, baik tren gaya hidup maupun tren prilaku. Ketika publik pada era 80-an demam dengan breakdance, media harus mau menulis berita-berita breakdance, agar pembaca mau mengikuti media.

Rukun kesempuluh adalah prestasi. Kisah-kisah keberhasilan seseorang, penemuan di bidang science, technology, menjadi berita yang makin digemari pembaca. Bahkan menjadi buku-buku motivasi yang mencatat best seller.

Dengan bekal ilmu rukun iman berita itu, saya mencoba mencari berita yang sesuai rukun iman. Ternyata, ilmu jurnalistik dari Dahlan itu ampuh betul.

Dari semua berita yang pernah saya tulisa, yang paling dramatik adalah kisah ibu dari Cilacap yang bertemu anak semata wayangnya, setelah berpisah 35 tahun.

Ceritanya ibu malang itu naik bus ke Mojokerto untuk menjemput jenazah suaminya yang meninggal kecelakaan di Mojokerto. Sesampai di Jombang, bus yang ditumpanginya bertabrakan. Ibu mengalami patah tulang belakang yang menyebabkan lumpuh dan koma.

Setelah 15 tahun dirawat di RSUD dr Soetomo, ibu itu sadar dari tidur panjangnya. Dua puluh tahun kemudian, kondisi ibu makin bagus. Ibu itu sudah bisa berbicara dan bisa mengingat bayinya yang dititipkan tetangganya saat meninggalkan desanya. Saat itulah saya bertemu dan menuliskan kisahnya.

Kisah yang saya tulis bersambung selama 4 hari itu rupanya dibaca seorang insinyur pertanian yang bekerja di Lampung. Setelah pertemuan sekitar satu jam, keduanya memastikan sebagai ibu dan anak.

Lelaki itu ternyata bayi yang 35 tahun lalu dititipkan tetangganya. Karena tidak ada kabar berita, bayi itu dibawa tetangganya, hidup sebagai transmigran dan diasuh layaknya anak sendiri.

Betul-betul sebuah pertemuan yang sangat membahagiakan sekaligus mengharukan. Saya pun tak sanggup menahan air mata.

Kejadian itu saya tulis 21 tahun lalu. Saya pun sudah lupa nama mereka. Tetapi tangis kebahagiannya masih membekas dalam ingatan saya.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: