Beranda » Joko Intarto » Belajar Jurnalistik dari Suheng Dahlan Iskan » Tape Recorder Haram, Mencatat Makruh

Tape Recorder Haram, Mencatat Makruh

Mencari dan mengumpulkan informasi adalah sebuah persoalan. Menuliskan informasi menjadi berita adalah persoalan lain. Masing-masing membutuhkan ilmu dan keahlian yang berbeda. “Bila mencari informasi menggunakan rukun iman berita, menulis berita menggunakan gaya penulisan,” jelas Dahlan Iskan, saat mengisi kelas jurnalistik untuk reporter baru Jawa Pos, 22 tahun lalu.

Gaya penulisan adalah teknik merangkai kata-kata sehingga informasi yang disampaikan bisa dimengerti pembaca. Gaya penulisan itu, lanjut Dahlan, sulit dijelaskan. Tetapi mudah dirasakan. “Kalau membaca berita Kompas, rasanya penuh informasi berat dan ilmiah. Sedangkan membaca Jawa Pos, rasanya ringan-ringan dan ngepop. Itu karena gaya penulisannya,” jelas Dahlan.

Ada dua gaya penulisan berita menurut Dahlan. Gaya pertama adalah “memberitakan”. Sedangkan gaya kedua adalah “menceritakan”.
Gaya penulisan “memberitakan” cenderung kaku, to the point, dan kurang warna-warni. Contohnya:

Akibat rem blong, sebuah bus jurusan Jogja – Semarang menabrak warung makan milik Haji Kartoseno, di Jalan Diponegoro, Ambarawa, kemarin siang. Sebanyak 3 penumpang dilaporkan tewas. Sepuluh lainnya luka berat dan ringan.
Dalam gaya “menceritakan”, penulisan bebas berimprovisasi sehingga yang membaca lebih emosional.
Misalnya:
Braaaaak! Pria berpeci hitam itu baru memesan soto, ketika sebuah bus sekonyong-konyong menabrak warung makan di Jalan Diponegoro. Padahal, warung soto milik Haji Kartoseno itu, sedang ramai-ramainya. Pria berpeci hitam itu tewas sebelum menyantap hidangan makan siangnya. Dua tamu yang duduk di samping pria berpeci hitam itu juga meninggal seketika. Sementara itu, sepuluh tamu lainnya sempat menyelamatkan diri. Namun, mereka mengalami cidera berat dan ringan.
Secara cultural, kata Dahlan, orang Indonesia lebih akrab dengan budaya cerita, ketimbang budaya membaca. Karena itu, gaya penulisan menceritakan juga disukai. Namun demikian, gaya memberitakan pun ada penggemarnya. “Dua-duanya benar secara jurnalistik, secara budaya dan secara bisnis. Kita tinggal pilih mau yang mana,” jelas Dahlan.

Agar berita mudah dimengerti, Dahlan menyarankan agar wartawan atau penulis belajar menyusun kalimat demi kalimat, alinea demi alinea dengan logika bertutur yang baik. “Jangan membuat kisah yang melompat-lompat. Itu membikin bingung pembaca dan redakturnya,” ujar Dahlan.

Sebuah berita juga harus memberi kenyamanan pembaca. Karena itu, kalimat sebaiknya tidak panjang-panjang. “Ukuran panjang dan pendek kan relatif. Bagaimana memastikan kalimat sudah terlalu panjang atau pendek?” tanya saya. “Bacalah sebuah kalimat dalam berita koran apa saja. Bila napas Anda sudah habis tapi tanda titiknya belum ketemu, itu kepanjangan.” Jawab Dahlan.

Langkah selanjutnya, gunakan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan sampai wartawan tidak bisa membedakan “di” yang digandeng dan “di” yang dipisah. Awalan “di” selalu digandeng untuk kata kerja pasif. Sedang “di” yang dipisah, menunjukkan keterangan tempat.

Perhatikan siapa yang akan membaca berita kita. Bila pembaca kita berpendidikan baik, maka buatlah berita yang tidak bombastis atau dilebih-lebihkan, biar kelihatan seru. Model berita ini hanya cocok untuk koran kuning atau koran berita kriminalitas. Demikian pula dalam pemilihan foto. Koran yang menyasar kelas menengah atas tidak suka dengan foto-foto vulgar dan sadis. “Ini lebih ke pemahaman wartawan terhadap psikologi pembacanya,” lanjut Dahlan.

Sebuah berita selalu diawali dengan sebuah kata atau kalimat yang disebut opening. Dahlan menyarankan agar wartawan atau penulis memulai dengan sesuatu yang menarik. “Teori jurnalistik lama mengajarkan kita agar memulai berita dengan sesuatu yang penting. Tapi pembaca ternyata lebih senang yang menarik,” kata Dahlan.

“Menemukan unsur menarik dalam proses pencarian berita sangat sulit. Apa saran Pak Bos?” tanya saya. “Jangan bawa alat perekam, catatlah sesedikit mungkin. Selebihnya, gunakan kemampuan pikiran Anda untuk mengingat data. Jadi, merekam dengan tape recorder hukumnya haram. Mencatat hukumnya makruh,” kata Dahlan.

Kebanyakan wartawan, memang menggunakan tape recorder untuk merekam pernyataan narasumber. Menurut Dahlan, cara ini tidak efisien dari sisi biaya dan waktu. Menggunakan tape recorder juga melemahkan kerja otak. Sebab, otak mempercayakan pada hasil rekaman itu, sehingga wartawan tidak bisa mengeksplorasi sebuah pernyataan menarik yang muncul di tengah wawancara. Wartawan baru sadar setelah mendengarkan rekamannya di kantor.

“Coba kalau tidak pakai tape recorder. Anda pasti mendengarkan pernyataan narasumber dan langsung mengejar bila ada statemen menarik di tengah wawancara. Itu salah satu fungsi istimewa otak kita. Karena sudah terekam di otak, maka seketika otak menganalisa rekaman. Mana yang menarik, mana yang penting akan langsung tahu. Begitu wawancara selesai, konsep beritanya pun sudah selesai di otak,” kata Dahlan.

Dahlan juga menyarankan agar sesedikit mungkin mencatat. Hanya hal-hal yang sangat rawan salah saja yang boleh dicatat. Tanggal dan tahun kelahiran narasumber, ejaan huruf nama dan pangkat narasumber, adalah yang boleh dicatat. Selebihnya, diingat-ingat saja. “Mencatat hukumnya makruh,” kata Dahlan.

Kalau berita sudah selesai ditulis, Dahlan mengingatkan agar wartawan membaca seluruhnya, minimal sekali lagi. “Saat membaca, jadilah orang yang paling bodoh. Bila orang paling bodoh saja bisa paham, maka berita itu sudah bagus,” pungkas Dahlan. (bersambung)

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: