Beranda » Joko Intarto » Belajar Jurnalistik dari Suheng Dahlan Iskan » Berita yang Baik Menurut Dahlan Iskan

Berita yang Baik Menurut Dahlan Iskan

Belajar Jurnalistik dari Suheng Dahlan Iskan (4-Habis)

Dalam kelas jurnalistik yang saya ikuti tahun 1991, Dahlan Iskan melontarkan sebuah pertanyaan sederhana. “Apakah kriteria berita yang baik?” tanya Dahlan.

Kami, para peserta yang jumlahnya 9 orang, menjawab bergantian. Ada yang menjawab berita yang baik adalah berita yang berdasarkan fakta. Ada yang menjawab berita yang baik adalah berita yang disajikan secara cepat, akurat dan memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik professional.

“Jawaban Anda semua hampir betul. Tetapi, itu hanya kriteria sebuah berita. Belum berita yang baik,” jawab Dahlan. “Berita yang baik adalah berita yang membuat koran Anda laku,” sambung Dahlan. Kami semua tertawa mendengar jawaban itu.

“Laku” menurut Dahlan harus dimasukkan dalam kriteria jurnalistik oleh wartawan. Sebab, bila tidak mempertimbangkan unsur “laku”, wartawan hanya berprinsip asal menulis saja, tanpa memikirkan aspek pasar.

“Padahal, wartawan butuh gaji. Mencetak butuh mesin. Mesin butuh listrik, tinta dan kertas. Koran butuh distribusi. Distribusi butuh margin. Semua harus diongkosi. Dari mana ongkosnya? Dari koran yang terjual,” jelas Dahlan.

Dengan memasukkan kriteria “laku” pada karya jurnalistik, wartawan dibiasakan untuk berpikir tentang efisiensi, efektivitas, produktivitas dan selera pasar. “Kalau koran tidak laku, sebabnya pasti karena empat hal. Pertama karena beritanya, kedua karena beritanya, ketiga karena beritanya, keempat karena pemasarannya,” lanjut Dahlan.

Bagaimana agar beritanya menjadikan korannya laku? “Wartawan harus mengetahui selera pasar. Rukun iman berita, adalah konsep berita dalam perspektif konsumen atau pasar. Jadi kalau wartawan menulis tanpa berpikir selera pasar, yang dihasilkan adalah koran yang tidak laku. Padahal, untuk membuat koran yang tidak laku itu, wartawan minta gaji. Percetakan minta ongkos. Distribusi minta keuntungan. Logika bisnisnya di mana?” kata Dahlan.

Agar mengerti bahwa karya jurnalistiknya dipertaruhkan di pasar, Dahlan sering mengajak wartawan keliling ke agen-agen pada waktu subuh. Saya tergolong yang sangat sering diajak Dahlan. Sebab, saya selalu tidur di balai-balai yang disediakan manajemen Jawa Pos untuk wartawan yang ingin beristirahat seusai menulis berita. Celakanya, Dahlan tergolong hobi pula tidur di situ.

“Di Jawa Pos ada dua Joko yang hampir setiap malam tidur di kantor. Pertama, Djoko Susilo. Kedua, Anda,” kata Dahlan suatu malam.

Djoko Susilo adalah wartawan senior Jawa Pos. Setelah lama bertugas di Amerika Serikat, Djoko kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Setelah menjadi anggota DPR mewakili partai berlambang matahari itu, Djoko menjadi duta besar di Swiss, sampai sekarang.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: