Beranda » Joko Intarto » Ketika Dahlan Iskan Menjungkirbalikkan Logika

Ketika Dahlan Iskan Menjungkirbalikkan Logika

Sejak menjadi CEO PLN, Dahlan Iskan tidak pernah menggunakan mobil dinas yang disediakan Negara. Demikian pula setelah menjadi Menteri Negara BUMN. Padahal, mobil dinas menteri adalah Toyota Crown Royak Saloon yang harganya mahal dan dalam pengadaannya penuh kontroversi. Mayoritas masyarakat waktu itu menentang keras karena dianggap pemborosan. Artinya, mobil dinas tersebut tergolong mobil yang tidak murahan.

Ketimbang memakai Toyota Crown dinas, Dahlan memilih menggunakan mobil pribadinya. Sebuah mobil sedan Mercedes Benz hitam dengan nomor asli L 1 JP. Dahlan sebenarnya punya satu mobil lagi untuk mendukung aktivitasnya sebagai menteri, yakni sebuah sedan Jaguar. Tapi, sedan Mercedes Benz itu yang menjadi favoritnya.

Ada sebuah pemandangan ganjil, ketika Dahlan menjadi CEO PLN dan Menneg BUMN. Dulu, mobil CEO atau menteri selalu diistimewakan dalam hal parkir. Selalu ada tempat parkir untuk mobil big boss di depan lobby kantor. Posisinya begitu mencolok, sampai-sampai tamu harus mengalah bila mau masuk ke kantor tersebut.

Setelah Dahlan menjabat sebagai CEO PLN dan Menneg BUMN, lahan parkir di lobi itu kosong-melompong. Sebab, Dahlan melarang mobilnya diparkir di situ. Dahlan memerintahkan sopirnya untuk memarkir mobilnya di tempat parkir umum, seperti mobil karyawan lainnya.

Di parkir umum, Dahlan juga tidak membolehkan ada lokasi khusus untuk mobilnya. Kalau terlambat masuk, misalnya, mobil Dahlan terpaksa diparkir di mana saja yang memungkinkan. Sama seperti tamu PLN dan tamu Menteri BUMN yang kebingungan tidak dapat lahan parkir. Seperti pejabat yang terlambat masuk masjid saat salat Jumat. Terpaksa di shaf mana saja yang kosong.

Sebagai menteri, Dahlan sibuk luar biasa. Sehabis subuh, Dahlan sudah berangkat ke lapangan Monas untuk bersenam pagi. Kuda lumping Korea alias gangnam style adalah favoritnya. Menjelang tengah malam, Dahlan baru bisa istirahat. Saya tahu ini, karena saya menyewa ruang kerja di basement Graha Pena Jakarta. Lahan di depan kantor saya dijadikan lokasi parkir beberapa mobil. Dua di antaranya mobil Dahlan.
Sering kali saya pulang dini hari dan mobil Dahlan baru saja masuk. Beberapa kali saya masuk pagi-pagi karena sekalian mengantarkan anak saya berangkat sekolah. Sampai di kantor, mobil Dahlan pasti sudah pergi.

Dengan aktivitasnya yang sangat tinggi, Dahlan tidak hanya butuh mobil yang prima, tetapi juga butuh akses jalan raya yang lancar. Padahal, Anda tahu sendiri bagaimana situasi jalan raya di kota Jakarta saat hari kerja. Macet mengular di setiap traffic light. Belum lagi bila ada kecelakaan atau hujan. Karena itu, mobil pengawal atau voorijder sebenarnya sangat dibutuhkan Dahlan.

Tapi Dahlan menolak memakai pengawal. Dia merasa nyaman ditemani Sahidin, seorang sopir pribadinya. Tidak tahu persis, apa yang menyebabkan Dahlan menolak “memelihara” pengawal. Padahal, pejabat lainnya bisa menggunakan pengawal dan ajudan yang jumlahnya hingga belasan. Belum lagi pengawal dan ajudan istri, dan anak-anaknya.

Kadang muncul pikiran iseng saya. Jangan-jangan, Dahlan tidak mau menggunakan pengawal, karena apartemen di SCBD Jakarta Selatan yang ditempatinya bukan apartemen yang besar. Sebuah apartemen 3 kamar yang tidak di-dress up. Kalau harus menampung belasan pengawal dan ajudannya, belasan pengawal dan ajudan istrinya, tentu menjadi persoalan tersendiri.

Itulah cara Dahlan menjungkirbalikkan logika birokrasi. Mungkin, Dahlan berpendapat bahwa yang jadi CEO dan menteri hanya dirinya, tidak termasuk mobil dan rumahnya.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: