Beranda » Joko Intarto » Penghormatan Dahlan Iskan Kepada Kaum Buruh

Penghormatan Dahlan Iskan Kepada Kaum Buruh

Sebuah SMS dikirim teman saya, di Jakarta yang membaca berita hari ini. “Pak Dahlan menolak meresmikan ground breaking RS Buruh. Pak Dahlan malah minta buruh yang meresmikan. Ini cari sensasi apa gak?” tanya kawan saya, yang tidak perlu saya sebut namanya.

“Sensasi?” tanya saya dalam hati, kepada diri sendiri.

Seketika ingatan saya melayang pada peristiwa peresmian gedung graha pena Surabaya, sekitar 15 tahun silam.

Graha Pena Surabaya, adalah gedung tertinggi yang dimiliki perusahaan koran di Indonesia. Gedung itu dibangun begitu megah, sebagai simbol kegigihan para agen, pengasong dan loper koran di Jawa Timur.

Dahlan Iskan secara tegas menjelaskan hal itu dalam pidato pembukaannya. Saya dan kawan-kawan protes, sambil ngedumel. “Sialan, yang dianggap kerja keras kok hanya mereka. Kita karyawan kan juga kerja keras,” protes saya. Teman saya pun mengiyakan.
“Karena kerja keras merekalah, Jawa Pos tumbuh besar. Karyawan Jawa Pos di redaksi, pemasaran, percetakan, ekspedisi, memang juga bekerja keras. Tapi itu tidak istimewa, karena mereka adalah karyawan Jawa Pos. Itu sudah jadi kewajiban. Tapi agen, pengasong, loper? Mereka bukan siapa-siapanya Jawa Pos. Tapi mereka bangun dini hari, mengantar koran tepat waktu ke pelanggan. Tidak peduli sehat atau saki, tidak peduli hujan. Tidak peduli hari libur. Merekalah pahlawan dan pembela Jawa Pos yang sejati,” lanjut Dahlan.
“Deggggg!” Hati saya tersentak seketika mendengar lanjutan pidato Dahlan.
Seketika saya tersadar, bahwa mereka, agen, loper, pengasong koran, memang lebih hebat dari saya dan karyawan. Mereka bukan karyawan, tidak digaji, tidak ada hubungan kerja. Tetapi faktanya mereka adalah yang melayani pelanggan setiap hari, tanpa kenal libur, tanpa kenal sakit, tanpa kenal hujan.

Dahlan kemudian memanggil salah satu pengasong koran yang hadir sebagai undangan kehormatan, agar maju ke mimbar, menekan sirine tanda peresmian ground breaking Graha Pena, kantor koran berlantai 21, yang tertinggi dan termegah di Indonesia, hingga hari ini.

Seorang bocah kecil mengenakan kaos bertulis “Jawa Pos, selalu ada yang baru” kemudian maju. Dengan wajah bingung, dia mendekati tombol sirine.

“Teeeeeeeet………” Sirine berbunyi. Peresmian pun selesai.

Para undangan bertepuk tangan. Menteri Penerangan Harmoko, Mbak Tutut, Gubernur Jawa Timur, tampak sumringah. Sementara, pengasong koran itu tampak meneteskan air mata.

“Saya terharu. Baru sekali ini, ada loper koran diminta meresmikan gedung di depan pejabat tinggi,” kata loper itu sesenggukan.

Tulisan ini saya buat, agar masyarakat luas mengerti, begitulah Dahlan Iskan. Cara berpikirnya memang kurang lazim. Tapi, bukan berarti, Dahlan mencari sensasi, apalagi pencitraan.

Dahlan Iskan memang orang yang tahu diri.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: