Beranda » Joko Intarto » Modal Pintar Saja Tidak Cukup

Modal Pintar Saja Tidak Cukup

Terkaget-Kaget dengan Jurus Bisnis Dahlan Iskan (3)

Ada nasihat Dahlan Iskan yang menurut saya aneh, tetapi ada benarnya juga. “Kalau merekrut karyawan, perhitungkan dengan seksama komposisinya. Sebaiknya jangan hanya yang pintar yang diterima,” kata Dahlan.

Nasihat itu menurut saya aneh, karena semua perusahaan membutuhkan SDM yang pintar. Nah, kepintaran itu diukur dengan syarat indeks prestasi pelamar, yang dicantumkan dalam iklan lowongan.

“Jadi, apa kita harus menerima juga karyawan yang indeks prestasinya rendah juga?” tanya saya. Dahlan tertawa mendengar pertanyaan saya.

Sejurus kemudian, Dahlan menjelaskan mengapa perusahaan tidak boleh merekrut hanya karyawan yang pintar. Menurut Dahlan, perusahaan membutuhkan karyawan yang pintar dan memiliki sikap kerja, sesuai dengan karakter pekerjaannya.

Setiap pekerjaan membutuhkan orang dengan sikap kerja yang spesifik. “Pekerjaan di keuangan akan bagus kalau dikendalikan orang-orang yang punya sikap kerja cerewet,” kata Dahlan. “Di luar pekerjaan, belum tentu dia cerewet. Tetapi dalam setiap analisa biaya, dia cerewet,” lanjut Dahlan.

Kenapa butuh yang cerewet? “Karena kalau tidak bersika[ cerewet, semua permintaan biaya akan disetujui tanpa bertanya. Kalau dia cerewet, pasti yang mengajukan harus betul-betul bisa menjelaskan. Kalau tidak bisa menjelaskan, pengajuan akan dicoret,” kata Dahlan.

“Selain sikap cerewet, orang keuangan harus bersikap berani. Terutama, berani menolak bon pimpinan,” lanjut Dahlan.

Kalau untuk akunting, Dahlan menyarankan merekrut orang yang sikapnya teliti dan tidak hobi jalan-jalan. Sebab, akunting membutuhkan konsentrasi yang tinggi terhadap data angka dan riwayat transaksi.

Petugas inkaso atau kolektor syaratnya lain lagi. “Kolektor butuh orang yang sikapnya rajin tetapi ndablek alias muka tembok. Kolektor kadang harus bekerja menagih di satu orang setiap hari, sampai dia bayar. Jadi perlu orang yang ndablek,” kata Dahlan.

“Jadi, itu maksudnya kita tidak boleh merekrut yang pintar saja?” tanya saya. “Dalam sebuah perusahaan, ada yang tugasnya berpikir. Ada juga yang tugasnya bekerja. Kalau semuanya pintar, nanti hasilnya hanya diskusi saja, tidak ada yang bekerja,” kata Dahlan sembari tertawa.

Bagaimana menemukan orang-orang dengan sikap yang sesuai kebutuhan pekerjaannya? “Pendekatan indeks prestasi boleh-boleh saja. Tapi jangan hanya karena parameter itu saja. Selama masa percobaan, pelajari sikap karyawan itu. Kemudian, analisa apakah sikap itu cocok dengan pekerjaannya,” kata Dahlan.

Ketika saya menerbitkan harian Indo Pos di Jakarta tahun 2003, Dahlan mendampingi saya dan kawan-kawan selama 1 bulan penuh. Selama 1 bulan itu, dia menemukan kejanggalan pada satu orang karyawan saya yang bertugas di bagian pemasaran.
Suatu pagi, sekitar pukul 09.00, karyawan tersebut dilihatnya sedang mengetik di komputer ruangan kerja. Bajunya rapi dan necis. Besok paginya, pada jam yang sama, Dahlan melihat karyawan itu dengan dandanan yang necis juga.

Hari ketiga, Dahlan memerintahkan saya agar menarik komputer karyawan itu. Setelah saya tarik, karyawan tersebut ternyata masih datang pada jam yang sama, dengan dandanan yang sama. Tidak ada komputer, karyawan itu sibuk menulis-nulis di bukunya.

Hari keempat, Dahlan meminta saya menarik meja dan kursinya. Pukul 09.00, karyawan itu bingung karena ruang kerjanya tidak ada meja, kursi dan komputer. Tapi dia masih terus berada di ruangan itu, walau duduk di lantai.

“Saya yakin, karyawan itu tidak pernah tahu di mana alamat agen. Mestinya, karyawan pemasaran koran bekerja sejak tengah malam sampai pagi. Tempat kerjanya dari agen ke agen, dari lapak ke lapak. Dari pengecer ke pengecer. Dari loper ke loper. Coba kita tes,” kata Dahlan.

Setelah saya panggil, Dahlan kemudian memberi bertanya. “Anda pemasaran di wilayah mana?” tanya Dahlan. “Pluit Pak,” jawab karyawan itu. “Tahu alamat agen pluit?” tanya Dahlan. “Tahu Pak,” jawab karyawan itu. “Bisa antar kita ke Agen Wangi?” tanya Dahlan. “Bisa,” jawab karyawan itu dengan mantapnya.

Akhirnya bertiga kami berangkat ke Pluit, naik mobil Mercy E280 milik Dahlan. Saya yang menyetir. Karyawan pemasaran itu duduk di samping saya. Sementara Dahlan di duduk di bangku belakang. “Tunjukkan di mana alamat Agen Wangi,” kata Dahlan kepada karyawan tersebut. “JTO, ikuti saja instruksinya,” kata Dahlan.

Meski alamatnya jelas, karyawan itu tidak berhasil mengarahkan mobil ke alamat Pak Muha. Saya lihat, karyawan itu tampak pucat dan gelisah. Akhirnya, setelah lelah berputar-putar, Dahlan mengajak kembali ke Graha Pena. Dahlan tidak berkomentar sama sekali sepanjang perjalanan.

Keesokan harinya, Dahlan kembali mencari karyawan itu di ruangannya. Tetapi hingga sore, tidak ada batang hidungnya. Hanya sepucuk surat yang dia titipkan melalui karyawan. Isinya, “Saya mengundurkan diri. Saya malu dengan Pak Dahlan.”

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


1 Komentar

  1. irnesya mengatakan:

    pelajaran yang berharga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: