Beranda » Joko Intarto » Pemimpin Dilarang Cengeng

Pemimpin Dilarang Cengeng

Terkaget-Kaget dengan Jurus Bisnis Dahlan Iskan (4)

Hari ini, Dahlan mengancam mencopot sejumlah direktur utama BUMN karena masih mengajukan permintaan Penyertaan Modal Negara (PMN). Menurut Dahlan, Dirut BUMN tidak boleh cengeng dengan merengek-rengek meminta tambahan dana dari pemerintah.

Dahlan memberi tenggat hingga Rabu sore, 26 Februari 2013, kepada semua dirut bermasalah untuk menarik surat pengajuan PMN. “Bila sampai Rabu Sore tidak dicabut, dirutnya akan saya copot” ancam Dahlan dengan tegas.

Kejadian yang mirip-mirip, pernah saya alami 20 tahun lalu. Saat saya berpamitan menuju Palu untuk mengelola surat kabar group Jawa Pos, Dahlan Iskan menegaskan pesannya. “Jangan telepon saya selama tiga bulan. Jangan tinggalkan Palu selama tiga bulan. Jangan minta-minta bantuan selama tiga bulan.”

Saya tidak tahu, mengapa Dahlan berpesan begitu. Sesampai di Palu, barulah saya paham makna di balik nasihat Dahlan. Perusahaan yang saya kelola benar-benar penuh masalah. Gedung kantor dalam pengawasan BNI. Gedung percetakan dalam pengawasan BRI. Keduanya menjadi jaminan atas kredit yang gagal bayar.

Setelah melihat pembukuan, pusing saya bertambah. Kas hanya bisa untuk membayar gaji tiga bulan. Sementara dana operasional nyaris tidak ada. Justru utang jatuh tempo yang bejibun.

Di percetakan, kondisinya juga tidak kalah menyedihkan. Kertas tersisa 4 roll. Berarti akan habis dalam 2 bulan. Tinta masih beberapa drum, bisa untuk setahun. Plate alumunium akan habis dalam tiga bulan.

Saya tiba-tiba ingin marah kepada Dahlan. Sebab, kondisi ini tidak pernah disampaikannya. “Perusahaan kita di sana sangat prospek. Pertumbuhannya bagus,” jelas Dahlan berulang-ulang.

Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berganti. Situasi perusahaan belum kunjung membaik. Sementara itu, stok bahan baku dan uang kas makin menipis. Perusahaan pun di ambang kebangkrutan! Benar-benar bikin galau.

Ingin rasanya telepon ke Surabaya untuk minta bantuan utang kertas ke Jawa Pos. Tapi, bukankah saya tidak boleh menelepon Surabaya selama tiga bulan? Mau mengadu ke Dahlan, ingat pesannya agar tidak meneleponnya selama tiga bulan. Diam saja? Pasti sebentar lagi ambruk.

Tak mau ambil risiko ambruk, saya putuskan mengambil risiko didamprat Dahlan. “Saya mau pinjam modal kerja dari Jawa Pos. Kertas saya hampir habis,” jelas saya. “Tidak ada pinjaman dari Jawa Pos. Jual asset, utang bank, utang rentenir. Terserah. Mau hidup terserah, mati juga terserah,” kata dahlan dengan nada tinggi, kemudian menutup telepon.

Gagal merayu Dahlan, saya kemudian pergi makan malam. Sengaja saya cari makan yang enak, di salah satu kafe yang ada di Palu saat itu. Kafe itu menyuguhkan makanan Eropa dan live music.

Ketika sedang menikmati alunan musik, sekitar 3 meter di depan saya, terlihat bayangan kepala pria dengan rambung njegrak. Mungkinkah dia Arpian? Arpian adalah sahabat lama yang bekerja di PT Djarum. Saya berkenalan pada 1993 di Jakarta, menjelang Muktamar NU di Cipasung, Jawa Barat, yang mengangkat Gus Dur sebuah Ketua Umum.

“Pak Arpian?” sapa saya dengan ragu-ragu. Diterpa dentam-dentum musik, Arpian sepertinya mendengar. Tampak wajahnya mencari-cari suara saya. “Pak Arpian?” sapa saya lebih keras. Kali ini, Arpian berhasil menemukan posisi saya. “JTO……” kata Arpian.

Kami kemudian melanjutkan diskusi di kantor saya yang memprihatinkan itu. “Saya hampir kehabisan kertas. Kira-kira dua minggu lagi akan habis. Koran akan tutup, karena modal kerjanya habis,” kata saya.

Arpian manggut-manggut mendengar penjelasan saya. Wajahnya tercenung. “Saya akan bantu,” kata Arpian.

Diambilnya selembar kertas, kemudian dia tulis di situ. “Tolong pasang iklan melalui pembawa surat ini. Bayar cash.”

“Bawa surat ini ke perwakilan Djarum besok. Jangan pulang sebelum dibayar,” kata Arpian.

“Pasang iklannya Djarum, setengah halaman. Berapa edisi, terserah,” kata Arpian. “Saya tidak bisa cetak warna. Hanya hitam putih,” jelas saya. “Gak apa-apa. Pasang saja,” kata Arpian. “Materinya mana?” tanya saya. “Scan saja dari harian Kompas,” jelas Arpian.

Dengan uang dari Arpian, saya bisa membeli kertas untuk setahun. Perusahaan tidak jadi kolaps. Bahkan terus berkembang hingga sekarang.

Alhamdulillah….

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


2 Komentar

  1. Hendrawan mengatakan:

    Ijin, Saya COPAS tulisannya…penulis saya sertakan demi DI

  2. seovenia mengatakan:

    iya kalo cengeng entar beli susunya dimana? beli di negara asing?? hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: