Beranda » Joko Intarto » Ketika Dasi Jadi Terlarang

Ketika Dasi Jadi Terlarang

Yang Ringan dan Yang Lucu Tentang Dahlan Iskan (7)

Dasi adalah sebuah produk budaya. Seutas kain yang diikatkan di leher itu, menjadi simbol status. Harga sebuah dasi mulai puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Dasi sudah menjadi simbol penampilan para eksekutif dan pejabat.

Budaya berdasi pernah menjadi persoalan besar di kalangan eksekutif Jawa Pos Group sekitar tahun 1996 – 1997. Harap maklum, semua eksekutif Jawa Pos berangkat dari kalangan orang biasa. Memulai karirnya pun dari level bawah. Apalagi, mayoritas mengawali sebagai wartawan yang mobilitasnya luar biasa.

Rupanya, bisnis tidak peduli sejarah dan latar belakang orang. Atas keinginan menghormati tamu-tamu dan kolega bisnis dengan lebih baik, dasi menjadi aksesoris yang diwajibkan untuk level pimpinan.

Cukup lama gerakan memakai dasi itu disosialisasikan. Tapi, keberhasilannya sangatlah rendah. Tidak banyak teman-teman saya yang memakai dasi dalam setiap pertemuan group. Berarti lebih banyak lagi yang tidak berdasi dalam kegiatan sehari-hari.

Penyebab utama kegagalan “dasinisasi” adalah, karena Dahlan Iskan juga tidak mau memakai dasi. Meski dasi dan jas selalu dibawa dalam setiap pertemuan group, tetapi selalu disimpan saja di dalam kamar hotel. Saya dan kawan-kawan biasanya bertukar info setelah mengintip pakaian apa yang dipakai Dahlan Iskan.

“Pak Bos tidak pakai dasi,” tulis teman-teman melalui SMS berantai. Setelah menerima SMS itu, kami dengan gembira ikut-ikutan tidak pakai dasi. Bisa ikut meeting group tanpa dasi adalah kegembiraan tersendiri bagi saya dan teman-teman.

Karena imbauan tidak mempan, gerakan “pemaksaan” pun dilakukan. Tapi cara memaksanya halus. Saya diberi “hadiah” berupa tiga buah dasi, dari salah satu owner Jawa Pos. “Tolong dipakai setiap hari,” kata owner itu.

Hari pertama memakai dasi saya lakukan di Surabaya. Tidak di kantor Jawa Pos, tetapi di mall. Saya masih canggung (lebih tepat malu) kalau tampil berdasi di hadapan kawan-kawan lama. Soalnya, mereka tahu betapa “klowornya” gaya berpakaian saya sehari-hari. Dahlan Iskan itu sudah santai dalam gaya berpakaian. Saya mungkin dua kali lebih santai.

Setelah “belajar” di mall, saya pakai dasi dalam penerbangan dari Surabaya ke Palu. Sampai di kantor Palu, saya umumkan cerita sejarah dasi yang saya pakai. Dua dasi yang saya simpan kemudian berpindah tangan, agar saya punya teman dalam berdasi.

Ketika kebiasaan berdasi berjalan sekitar tiga bulan, Dahlan mengumumkan sebuah kabar gembira dalam pertemuan group di Surabaya, “Mulai hari ini, semua dilarang pakai dasi!” kata Dahlan. Kami bertepuk tangan sambil bertanya-tanya ada apa gerangan?

Pada 1997, Indonesia dan sejumlah negara di Asia sedang mulai terlanda krisis moneter. Dahlan memperingatkan dampak krisis yang sangat hebat akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Karena itu, semua harus waspada. Semua harus merasa ada dalam bahaya krisis.

Salah satu caranya adalah menanggalkan dasi dari baju kerja sehari-hari. “Kalau masih memakai dasi, orang mengira kita masih kaya. Perusahaan kita masih hebat. Padahal, nilai tukar kita merosot tajam. Kita hari ini sudah lebih miskin beberapa kali lipat dari hari kemarin, karena merosotnya nilai tukar rupiah,” kata Dahlan, sembari menggambarkan nilai rupiah yang terjun bebas dari kisaran Rp 4.000 per 1 USD menjadi lebih dari Rp 10.000 per 1 USD.

Walau dilarang, ada satu orang yang tidak bisa menanggalkan dasi. Gara-garanya, dia bernazar akan memakai dasi selama 1 tahun, kalau koran baru yang dikelolanya di Palembang bisa sukses. Dia adalah Soeparno Wonokromo, yang bernazar untuk koran Palembang Pos. Jadilah, Soeparno satu-satunya eksekutif Jawa Pos yang berdasi hingga nazarnya tunai.

Bulan Februari 2013 lalu, saya menerima undangan rapat group di Surabaya. Ada ketentuan dress code dalam undangan itu: pakaian batik atau jas lengkap, khusus pada acara malam anugerah jurnalistik Dahlan Iskan Award. Ternyata, jas dan dasi belum diwajibkan lagi sampai hari ini.

Dahlan malah hadir dengan baju cheongsam warna merah menyala, karena beberapa saat sebelumnya merayakan Imlek bersama sahabat-sahabatnya, para pengusaha Tionghoa Surabaya.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: