Beranda » Joko Intarto » Akal Sehat Dahlan Iskan » Desa Mengepung Kota

Desa Mengepung Kota

Akal Sehat Dahlan Iskan (4)

Pada era 80-an, koran Jakarta sungguh perkasa di daerah. Karena itu, koran-koran Jakarta diberi istilah “koran nasional”.

Sebaliknya, koran daerah tidak sanggup menembus Jakarta. Bahkan tidak bisa menang di wilayah seputarnya. Karena itu, koran daerah digelari “koran lokal”.

Pada tahun 90-an, Jawa Pos sudah tampil sebagai koran dengan beragam informasi seperti koran nasional. Cetaknya bahkan lebih bagus karena sudah full color. Sementara koran nasional masih black and white. Koran nasional perlahan tapi pasti mulai melokal.

“Selamat tinggal era koran nasional”. Demikian judul artikel Dahlan Iskan pada awal 90-an.

Sejak Jawa Pos merajai pasar Jawa Timur, koran nasional makin sulit ditemukan. Keberhasilan Jawa Pos di Surabaya, disusul koran-koran Jawa Pos Group di seluruh provinsi, kecuali Jakarta.

“Tidak ada lagi koran nasional. Yang ada adalah koran lokal Jakarta,” kata Dahlan Iskan pada saat terbit perdana harian Indo Pos, Jakarta, 10 tahun lalu.

Benarkah koran nasional telah tamat? Ternyata belum. Koran Jakarta rupanya membuat serangan balik, dengan menerbitkan edisi daerah, dengan cetak di daerah menggunakan sistem cetak jarak jauh. Pertarungan koran lokal dengan koran Jakarta edisi lokal kembali terjadi.

Tak ingin kehilangan pasarnya, Dahlan Iskan menggebrak dengan jurus baru. Pakar-pakar marketing menyebut jurus ini “desa mengepung kota”.

Meluncurlah koran-koran lokal kabupaten sebagai sisipan Jawa Pos yang dikenal dengan nama “Radar” mulai Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Sebanyak 20 koran Radar menyisip di Jawa Pos.

Langkah ini pun segera diikuti koran-koran Jawa Pos Group lainnya di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Semua membuat koran-koran kabupaten sebagai senjata menahan serangan balik koran Jakarta.

Jawa Pos Group pernah menerbitkan 52 koran kabupaten secara serentak. Semua koran itu masih hidup dan tumbuh sehat hingga hari ini.

Suatu ketika, Dahlan mengumpulkan pimpinan koran kabupaten itu di Surabaya. “Adakah yang mau menutup korannya karena tidak sehat?” tanya Dahlan. Ternyata tidak ada satu pun yang mau mematikan korannya.

Hari ini, serangan balik koran-koran Jakarta masih berlangsung. Koran daerah dan koran Jakarta masih harus membuktikan, siapa yang paling panjang nafas.

Joko Intarto, sebuah pandangan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: