Beranda » Joko Intarto » Akal Sehat Dahlan Iskan » Satu “J” Tiga Standar

Satu “J” Tiga Standar

Akal Sehat Dahlan Iskan (5)

Dahlan Iskan mengaku heran mendengar cerita serombongan ibu-ibu dari daerah yang akan menjadi audience talkshow salah satu stasiun TV swasta di Jakarta. “Kalau mereka dari Papua, berapa biayanya? Satu orang bisa habis lebih dari Rp 10 juta. Kalau rombongan 50 orang habis setengah miliar!” kata Dahlan, 11 tahun silam.

Padahal, mereka hanya disuruh duduk-duduk. Disuruh tepuk tangan. Disuruh yel-yel. Betapa mahal ongkos masuk TV.

Itulah salah satu yang mendorong Dahlan Iskan mengembangkan TV lokal di seluruh Indonesia. “Agar orang daerah tidak perlu datang ke Jakarta, kalau hanya untuk tepuk tangan di stasiun TV,” ucap Dahlan dengan bercanda.

Indonesia, lanjut Dahlan, memiliki kekayaan budaya, alam dan bahasa yang sangat kaya. Kekayaan lokal itu perlu diangkat ke dalam media TV lokal.

“Dengan TV lokal, keragaman budaya lokal akan terjaga. Orang daerah akan bangga dengan budaya daerahnya,” jelas Dahlan.

“Yang tak kalah penting, orang daerah juga bangga karena bisa membuktikan diri bisa mengelola TV. Jadi tidak hanya orang Jakarta yang hebat. Orang daerah juga hebat!” Kata Dahlan.

Setahun kemudian, Jawa Pos Group melahirkan stasiun TV lokal JTV di Surabaya dan Riau TV di Pekan Baru. Tahun berikutnya, sejumlah stasiun tv lokal dibangun di berbagai kota. Saat ini, Jawa Pos Group memiliki jaringan stasiun TV lokal berjumlah 34 stasiun. Jaringan ini berada dalam bendera Jawa Pos Multimedia Corporation atau JPMC.

Dari semua stasiun TV lokal itu, JTV punya cerita yang menarik terkait namanya. Perusahaan JTV bernama PT Jawa Pos Media Televisi. Karena itu, manajemen JTV mengajukan nama udara Jawa Pos TV.

Tapi Dahlan tidak setuju. “Namanya JTV saja,” kata Dahlan.

Rupanya Dahlan punya alasan khusus soal nama JTV itu. “Saya takut nanti TV-nya jelek, acaranya tidak menarik. Jadi saya minta jangan pakai Jawa Pos TV,” tutur Dahlan mengawali penjelasannya.

“Saya ingin lihat dulu bagaimana manajemen JTv mengelola stasiunnya. Kalau JTV nanti bagus, bolehlah disebut Jawa Pos TV. Kalau standar-standar saja, sebut saja Jatim TV,” lanjut Dahlan.

Kalau jelek? “Kalau jelek, namanya Jancuk Tv,” jawab Dahlan sambil tertawa.

Ups…..

Joko Intarto, sebuah pandangan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: