Beranda » Joko Intarto » Akal Sehat Dahlan Iskan » Tiga Bisnis Yang Pantang Dimasuki

Tiga Bisnis Yang Pantang Dimasuki

Akal Sehat Dahlan Iskan (6)

Tersandung masalah gara-gara daging sapi tidak hanya dialami tokoh politisi. Saya sudah lebih dulu mengalaminya, 13 tahun yang lalu.

Pada tahun 2000, saya mengelola usaha bakso Malang. Namanya bakso Kapiten, mirip-mirip dengan bakso Karapitan yang terkenal itu. Outlet penjualannya lumayan banyak. Saya punya 14 gerobak, lima becak, satu warung dan ada enam gerai di kantin perkantoran. Karyawannya sekitar 35 orang.

Setiap malam, usai membereskan pekerjaan rutin di kantor, saya berangkat ke Kampung Melayu, Jakarta Timur. Di sana, saya menyempatkan menemani karyawan yang sedang menyiapkan bakso, bakwan, tahu dan mi untuk dijual besok pagi.

Tengah malam, saya baru tiba di rumah. Begitulah rutinitas saya selama setahun. Berangkat pagi, pulang menjelang pagi.

Meski pun saya kerjakan secara diam-diam, bisnis sapi saya bocor juga. Dalam tempo singkat seluruh teman saya di kantor Jakarta sudah tahu kalau saya punya bisnis bakso.

Suatu ketika, sampailah kabar itu ke Dahlan Iskan. “Kabarnya Anda punya bisnis bakso?” tanya Dahlan sambil makan siang. Saya mengiyakan dengan hati dag dig dug. “Anda bisa bikin baksonya?” tanya Dahlan. Saya menggeleng.

“Ada tiga bisnis yang berisiko tinggi kalau pelaku bisnisnya tidak bisa mengerjakan sendiri,” kata Dahlan. “Restoran, penjahit dan salon,” nasihat Dahlan.

Restoran, kata Dahlan, sangat tergantung pada keahlian kokinya. Jasa penjahitan tergantung pada keahlian penjahitnya. Salon rambut juga tergantung pada keahlian penatanya. “Bila mereka pergi, pelanggannya akan ikut pergi,” kata Dahlan.

“Kalau keahlian itu tidak Anda kuasai, saran saya tidak usah masuk ke bisnis itu,” ujar Dahlan mengakhiri nasihatnya.

Bulan demi bulan berlalu. Semua terasa bai-baik saja. Memasuki bulan keenam, mendadak koki saya mengundurkan diri. Alasannya pulang kampung ke Bojonegoro.

Sehari, dua hari, seminggu, saya tunggu-tunggu, koki itu tidak pernah kembali lagi. Saya tiba-tiba teringat nasihat Dahlan. “Inikah saatnya bisnis bakso saya akan mati?” tanya saya dalam hati.

Segera saya mencari koki lain. Tetapi hasilnya bukan rasa bakso Malang, melainkan bakso Solo. Ketika dapat koki yang bisa menghasilkan bakso Malang, rasanya kurang cocok dengan lidah pelanggan.

Waktu terus berjalan. Penjualan makin menurun. Sementara biaya cenderung naik terus. Akhirnya, bakso Kapiten benar-benar tak terselamatkan.

Sekarang, tinggal tersisa tiga kotak bumbu dan satu gerobak bakso yang saya simpan sebagai kenang-kenangan.

Joko Intarto, sebuah pandangan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: