Beranda » Joko Intarto » Akal Sehat Dahlan Iskan » Wafat pun Beriklan, Apalagi Saat Hidup

Wafat pun Beriklan, Apalagi Saat Hidup

Akal Sehat Dahlan Iskan (7)

Dalam pemasaran, kata Dahlan Iskan, media perlu memperhatikan kebudayaan suatu masyarakat. Mengikuti nasihat Dahlan, salah pun menyempatkan waktu untuk belajar kebudayaan masyarakat Tionghoa. Sebab, merekalah yang paling banyak beriklan.

Masyarakat Tionghoa memang banyak yang hidup sebagai pengusaha dan pedagang. Tetapi, masyarakat Tionghoa tidak hanya beriklan untuk urusan bisnis. Mereka juga memasang iklan terkait kebudayaan. “Orang Tionghoa itu, wafat pun masih beriklan. Apalagi saat hidup,” kata Dahlan Iskan kepada saya, suatu ketika.

Pada suatu hari di tahun 1999, seorang tamu memasuki ruang kerja saya. “Saya mau pasang iklan,” kata pria paruh baya itu.

Setelah duduk, pria itu bertanya lagi. “Anda menerima iklan seperti ini?” ujar pria itu sembari menyodorkan secarik kertas berbahasa Mandarin.

Pada tahun 1999, pemerintah baru saja mencabut aturan diskriminatif terhadap budaya Tionghoa, yang dibuat Orde Baru. Meski demikian, masih banyak media yang belum berani memasang iklan berbahasa Mandarin.

Padahal, tujuh tahun sebelumnya, Jawa sudah menerbitkan rubrik dalam bahasa dan huruf Mandarin dan baik-baik saja. Namanya Tekat Sayang. Rubrik ini terbit setiap hari, dengan pelafalan dan terjemahannya menggunakan huruf latin. Iklan berbahasa Mandarin juga dibolehkan, terutama iklan kematian.

“Ini iklan apa Pak?” tanya saya. “Ini sebuah doa agar seluruh warga negara berbahagia, hidup damai, murah rezeki dan dihindarkan dari bencana,” jelasnya.

“Huruf Mandarin ini boleh dipasang?” tanyanya. “Semua huruf boleh dipasang. Mau Latin, Mandarin, Jepang, Korea, Arab, India, asal bayar,” jawab saya sambil bercanda. Wajah Pak Tua itu mendadak sumringah.

“Ini iklan dipasang dalam rangka apa?” tanya saya dengan penasaran. “Ini doa menyambut perayaan Hari Bulan Purnama, ,” jelas pria itu.

Sejak pemasangan iklan tersebut, Pak Tua itu sering datang untuk memasang iklan. Kadang iklan perkawinan tamasya, kadang iklan duka cita dan iklan ucapan selamat. Menurut Pak Tua itu, ada empat peristiwa yang biasa diiklankan oleh masyarakat Tionghoa: kelahiran, perkawinan, buka toko dan kematian.

Nasihat Dahlan untuk memahami kebudayaan agar sukses dalam pemasaran itu benar adanya.

Joko Intarto, sebuah pandangan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: