Beranda » Joko Intarto » Ketika Panther Menggantikan Mercy

Ketika Panther Menggantikan Mercy

Akal Sehat Dahlan Iskan (14)

Walau terjadinya di Asia pada tahun 1997, dunia usaha baru bisa bangkit akibat krisis moneter itu pada tahun 2000. Perusahaan koran termasuk yang terkena dampak cukup berat. Apalagi yang mengandalkan kertas impor dan utang mesin cetaknya belum lunas.

Berhemat adalah solusi yang bisa dilakukan. Ukuran kertas dikecilkan, kesalahan cetak diminimalkan, dasi-dasi dilarang, biaya-biaya yang tidak terlalu penting ditunda, biaya operasional diperketat.

Sudah cukup? Menurut Dahlan Iskan, langkah berhemat saja, masih belum cukup. Harus ada satu lagi yang harus dilakukan seluruh karyawan tanpa kecuali. “Kita semua harus punya sikap sadar krismon,” kata Dahlan.

Dahlan kemudian menjelaskan yang dimaksud dengan sikap sadar krismon itu. “Bayangkan Anda sebagai penumpang kapal Titanic yang terancam tenggelam,” terang Dahlan.

Dalam kondisi kapal yang terancam karam, seluruh penumpang dan awak kapal harus saling bekerja sama dengan satu pemahaman, bahwa kapalnya akan tenggelam. “Prioritas pertama, menyelamatkan kapalnya agar perjalanan bisa dilanjutkan sampai tujuan. Bila kapal tidak bisa diselamatkan, harus disiapkan sekoci-sekoci untuk menyelamatkan penumpangnya,” jelas Dahlan.

Untuk memberi contoh karyawan, Dahlan mengandangkan mobil Mercedes Benz dan Jaguar kesukaannya. Dahlan menggantinya dengan mobil sederhana, sama seperti mobil-mobil karyawan.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Saat Dahlan membutuhkan mobil biasa, saya yang bertugas sebagai pemasaran iklan di Jakarta mendapat tawaran barter. Astra menawarkan dua unit Isuzu Panther dan Bimantara menawarkan barter satu unit Bimantara Cakra (Hyundai Accent).

Dahlan membeli satu unit Bimantara Cakra itu untuk dipakai bekerja sehari-hari, dan satu unit Panther untuk dinas luar kota. Mobil itu sengaja dibeli Dahlan, karena Dahlan memutuskan perusahaan tidak boleh membeli mobil dinas selama krisis.

Saat itu, Dahlan sangat sering dinas ke luar kota, mengunjungi beberapa perusahaannya di Jawa Timur, seperti pabrik kertas di perbatasan Gresik dan Mojokerto serta perusahaan koran-korannya di tujuh kota Jawa Timur.

Sejak memakai Cakra dan Panther, Mercy dan Jaguar milik Dahlan otomatis menganggur. Karena menganggur juga menjadi beban, Dahlan menyarankan agar mobil itu dijadikan mobil rental saja.

Bila mau, tidak ada orang Jawa Pos yang bisa melarang Dahlan tetap menggunakan mobil mewahnya. Tapi Dahlan memutuskan sebaliknya. Dia ganti mobil mewah itu, sebelum ada yang mengusulkan.

Dahlan mengaku tidak malu mengganti mobil mewah dengan mobil murah. Mengapa? Pertama, mobil murah yang dipakainya itu, masih jauh lebih nyaman dibanding mobil dinas pertamanya, Daihatsu Taft, yang sudah diwariskan kepada Djono Wikanto Oesman (DWO). Kedua, mengganti mobil mewah dengan mobil murah adalah cara Dahlan menjaga perasaan karyawan dan masyarakat yang sedang bangkit dari krisis.

Dahlan kembali menggunakan mobil Mercy setelah masyarakat benar-benar bisa beradaptasi dengan dampak krisis moneter itu tahun 2003. Sejak itu, saya menggunakan mobil Isuzu Panther warna gold yang sebelumnya dipakai Dahlan. Hampir lima tahun, mobil itu saya gunakan untuk bekerja sehari-hari.

Pikiran dan langkah Dahlan, kadang melawan kelaziman. Tetapi, saya percaya, itu bukan pencitraan. Memang seperti itulah Dahlan Iskan.

Joko Intarto, sebuah pandangan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: