Beranda » Joko Intarto » Akal Sehat Dahlan Iskan » Filosofi “Susu Kuda Liar”

Filosofi “Susu Kuda Liar”

Akal Sehat Dahlan Iskan (15 )

Banyak orang bercita-cita hidup kaya. Padahal untuk menjadi orang kaya itu ternyata tidak gampang. Kalau Anda bercita-cita menjadi kaya, berarti Anda harus siap menjalani proses yang mungkin penuh penderitaan.

Dahlan Iskan risau karena banyak orang yang jatuh miskin gara-gara ingin kaya dengan mudah. Mereka berbondong-bondong ikut money game berkedok investasi. Dahlan pantas risau, karena bisnis tipuan itu, bisa menjerat siapa saja, termasuk karyawannya.

Money game menggunakan bermacam-macam kemasan produk, mulai dari investasi logam mulia, perkebunan, daging sapi, sembako, hingga peternakan. Ada yang dikemas sebagai konsep bisnis dengan pembagian bunga, ada juga yang memberi embel-embel “syariah” dengan berbagi keuntungan.

Sepintas, money game memang sungguh sebuah model bisnis menjanjikan. Bagaimana tidak? Investor hanya perlu setor uang senilai paket. Selanjutnya cukup ongkang-ongkang kaki dan setiap bulan terima setoran. Pembagian keuntungan (bunga) per bulannya lumayan besar, di atas suku bunga rata-rata bank.

Tidak perlu pintar, tidak perlu keahlian.  Hanya perlu punya uang, dapat penghasilan setiap bulan. Siapa tidak ngiler?

Pada saat krisis ekonomi era 90-an, money game berkedok investasi itu sangat marak. Seperti kebetulan saja, bisnis ini mencuat seiring dengan banyaknya karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat krisis.

Awalnya tawaran investasi muncul dalam iklan-iklan kecil seperti iklan baris dan kolom. Lama-lama, iklannya makin besar. Pernah ada iklan beberapa edisi sebulan dengan ukuran setengah halaman.

Pemain money game ada yang lokal, ada pula yang asing. Ada penawaran investasi bebek, salak sampai kelengkeng. Dari Tiongkok, ada yang menawarkan investasi perkebunan leci. Macam-macamlah.

Dalam sebuah pertemuan Jawa Pos Group, Dahlan Iskan menegaskan agar semua pimpinan perusahaan memastikan tidak ada karyawan yang ikut money game. “Prinsip bisnis itu: realistis. Bisnis yang realistis itu adalah yang keuntungannya realistis. Jangan mudah percaya pada tawaran bisnis yang fantastis. Karena fantastis itu tidak realistis,” kata Dahlan.

Dahlan kemudian memberi nasihat bisnis yang sangat mudah dipahami. Pertama, tidak ada pengusaha yang mau cerita berapa besar keuntungannya dan bagaimana cara mendapat untung besar. Makin besar untungnya, makin diam pengusaha itu.

Kedua, bertanyalah pada orang yang tepat. “Kalau ada bisnis yang keuntungannya fantastis, orang bank pasti berlomba menawarkan modalnya,” kata Dahlan.

Ketiga, tidak ada bisnis yang mudah. Dahlan kemudian mencontohkan betapa sulitnya memproduksi susu kuda liar. “Memeras susu kuda jinak saja sulitnya bukan main. Apalagi kuda liar. Tapi, bisnis sangat-sangat sulit itu pun dilakukan, karena bisnis yang sulit sudah banyak saingan,” kata Dahlan. Kami semua tertawa mendengar nasihat ketiga ini.

Menjelang akhir dasawarsa 90-an, banyak money game berkedok investasi menjadi urusan polisi. Beberapa pelakunya tertangkap dan masuk bui. Sebagian lagi masih buron dan belum diketahui batang hidungnya hingga kini.

Saya belum pernah memerah susu kuda liar. Tapi saya percaya, tidak ada kekayaan yang diperoleh hanya dengan ongkang-ongkang kaki, tanpa pengetahuan dan tanpa kemampuan.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


4 Komentar

  1. danydewa19 mengatakan:

    Ongkang2 tapi dapat duit emang enak. Cuman otak jadi tumpul. Cepet mati. Kerja…kerja…kerja lebih mantap. Otak terasah dan ada kebanggaan mencapainya. Thanks to tulisan ini

  2. @ndokaja mengatakan:

    Betul, “memeras susu kuda jinak saja bukan main sulitnya, apalagi kuda liar…., dan itupun dilakukan…” . Nasihat yg sangat bijak.

  3. ed mengatakan:

    ada, anggota dewan

  4. brilianti mengatakan:

    saya suka tulisan ini, kondisi masyarakat mencerminkan kondisi bangsa, semuanya pengen serba instan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: