Beranda » Joko Intarto » Akal Sehat Dahlan Iskan » Lancar Diskusi Saat Macet

Lancar Diskusi Saat Macet

Akal Sehat Dahlan Iskan (17)

Kemacetan kota Jakarta memang sudah kelewatan. Jarak yang hanya beberapa kilometer kadang membutuhkan waktu tempuh berjam-jam. Kemacetan bisa terjadi kapan saja, di mana saja dan oleh sebab apa saja.

Ada demonstrasi, jalanan macet. Ada tawuran pelajar, jalanan juga macet. Metromini dan mikrolet yang ngetem juga bikin jalanan macet. Kadang tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba saja jalanan macet. Rupanya pejabat tinggi mau lewat. Huf!

Tapi tidak semua kemacetan membikin pening. Sebab, sering juga saya diuntungkan oleh kemacetan itu. Bukankah macet bisa menjadi alasan pada setiap keterlambatan? Macet di Jakarta memang sulit diprediksi.  Karena itu, macet menjadi alasan tipuan yang paling bisa dimaklumi.

Terkait macet, ada seorang kawan menyarankan agar saya memakai driver saja. Memang keluar ongkos gaji. Tapi sepanjang jalan bisa bekerja terus.  Presentasi juga bisa lebih fresh karena emosi, energi dan konsentrasi tidak terkuras untuk menembus jalanan yang macet.

Saran itu saya ikuti. Maka, saya rekrut seorang sopir tembak mikrolet menjadi sopir pribadi.  Namun sial, sopir saya tidak mengenal jalan. Pernah saya minta mengantar ke Depok. Selama perjalanan, saya memilih tidur saja. Eh, setelah saya bangun, mobil ternyata menuju Tangerang.

Disopiri bekas sopir tembak, saya sering dag dig dug. Sebab, cara menyetirnya tidak beda dengan sopir mobil angkutan umum Jakarta. Zig-zag dari jalur kanan ke jalur kiri sesuka hati. Klakson mobil di belakang berbunyi berulang kali. Kadang masih ditambah dengan makian dengan koleksi kebun binatang.

Pada suatu sore, Dahlan menelepon saya. Dia akan berangkat dari Surabaya menggunakan Garuda Indonesia dan minta dijemput di Bandara Soekarno-Hatta pukul 19.00.  Karena tabrakan dengan jadwal presentasi, sopir saya yang menjemput.  “Tunggu di Terminal 2 Bandara,” pesan saya kepada sopir.

Empat jam sudah berlalu, harusnya Dahlan sudah tiba di Jakarta. Tapi, sampai saat itu tidak ada kabar sama sekali. Penasaran dengan situasi, saya hubungi sopir saya. “Sudah dua penerbangan Garuda yang mendarat, Pak Dahlan belum turun juga,” kata sopir saya.

Cek per cek, ternyata sopir saya menjemput dari terminal kedatangan luar negeri. Harusnya dia menjemput di terminal kedatangan domestik. Pantas saja tidak ketemu.

Segera saya telepon Dahlan untuk menyampaikan permintaan maaf, karena sopir saya salah posisi. “Lho, Anda punya sopir? Aku saja nggak punya sopir,” kata Dahlan sambil tertawa.

Nada jawaban Dahlan tidak marah. Juga tidak kecewa. Tapi jawaban itu cukup membuat saya terpukul dan malu hati.  “Jadi Pak Boss naik apa dari Bandara ke Jakarta?” tanya saya. “Naik taksi,” jawab Dahlan dengan ringan.

Pada kesempatan lainnya, Dahlan kembali minta dijemput. Melalui pesan pendek, dia mengirim pesan, “Jemput di Bandara Soekarno-Hatta pukul 19.00. Jangan suruhan sopir lagi.”

Dalam perjalanan, Dahlan menjelaskan mengapa ingin saya jemput sendiri. “Bukan saya tidak mau dijemput sopir. Tapi itu tidak beda dengan saya naik taksi. Saya minta Anda yang jemput, karena kita bisa diskusi. Dua jam dalam kemacetan, cukup untuk membahas banyak hal, juga mengambil beberapa keputusan besar,” kata Dahlan.

Begitulah cara Dahlan menghargai waktu. Macet pun dinikmati untuk berdiskusi.

Joko Intarto, pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


1 Komentar

  1. imron khoirudin mengatakan:

    great idea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: