Beranda » Joko Intarto » Bingung Saat Panen

Bingung Saat Panen

Para pejabat negara sepertinya harus mengikuti pelatihan jurnalistik. Bukan untuk tujuan bisa menulis berita, tetapi untuk mengetahui bagaimana sebenarnya redaksi media mengelola semua informasi menjadi berita.

Dalam praktik sehari-hari, wartawan selalu mencari fakta jurnalistik. Fakta jurnalistik ini berbeda dengan fakta hukum. Fakta jurnalistik itu berangkat dari isu, gosip, rumor yang dikonfirmasi dengan peristiwa yang terjadi.

alam seminggu terakhir, para wartawan betul-betul “panen berita”. Mereka mendapat berbagai bahan yang berlimpah. Salah satunya: krisis harga bawang.
Dalam krisis harga bawang, fakta-fakta jurnalistik yang ada antara lain:

1. Harga bawang melambung tinggi membuat masyarakat resah.
2. SBY marah kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian karena bawang.
3. Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian berjanji akan memberi solusi dalam dua hari.
4. Menteri Pertanian tidak menepati janji karena dipanggil KPK terkait skandal impor daging sapi.
5. Menteri Perdagangan tidak menepati janji karena masih harus berkoordinasi.

Bagi wartawan, kelima fakta jurnalistik itu semuanya menarik. Sebab, semuanya menjadi “bahan baku” yang tidak akan habis-habis.

Tetapi kelima fakta jurnalistik itu menjadi problem, ketika jumlah halaman koran atau majalah terbatas. Keseluruhan fakta itu, bisa jadi harus dirangkum menjadi satu berita saja.

Kalau Anda seorang wartawan dan menghadapi situasi itu, maka yang bisa dilakukan adalah mengukur fakta jurnalistik mana yang paling menarik. Semua fakta jurnalistik itu semua menarik. Tapi harus dipilih satu yang paling menarik.

Kalau Anda sulit mengukur berdasarkan ketertarikan publik, ada ukuran lain untuk menentukan mana yang disebut paling menarik. Ukurannya adalah deadline. Wartawan bisa menggunakan deadline penerbitan sebagai penentu.

Katakanlah, kelima fakta jurnalistik itu diperoleh pada pukul 12:00. Sedangkan deadline pemberitaan pukul 19:00, maka wartawan harus segera memutuskan, apa yang bisa disajikan paling lengkap dan komprehensif kepada pembaca dalam tujuh jam.

Kalau saya yang menjadi wartawan, saya akan memilih fakta jurnalistik nomor lima sebagai yang paling menarik. Mengapa?

Pertama, masyarakat sudah bosan dengan gaya pemerintah yang lamban. Berbagai persoalan yang terjadi, sangat lambat diatasi. Melambungnya harga bawang bukan baru sehari terjadi. Tetapi sudah berhari-hari dan terus meningkat setiap hari.

Kedua, statement Menteri Perdagangan “masih menunggu koordinasi” adalah statement yang hanya cocok diucapkan pada pemerintahan zaman batu. Sebab, koordinasi pada zaman modern bisa dilakukan kapan saja, dari mana saja dengan perangkat teknologi informasi.

Dengan dua alasan itu, saya akan memilih angle “SBY tak perlu marah soal bawang kalau menteri punya Blackberry”. Dengan angle ini, dalam 7 jam saya bisa menulis bagaimana akal sehat Dahlan Iskan memangkas waktu rapat dan memperpanjang waktu kerja dengan Blackberry.

Joko Intarto


1 Komentar

  1. @ndokaja mengatakan:

    Kandidat presiden kok masih menunggu koordinasi…..itulah angle yg seharusnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: