Beranda » Joko Intarto » Ketoprak Sayembara Pelipur Lara

Ketoprak Sayembara Pelipur Lara

Terkaget-Kaget dengan Jurus Bisnis Dahlan Iskan (6)

Setelah Iraq kalah melawan invasi Amerika Serikat pada 1990, oplah “Jawa Pos” yang sempat mencapai 700 ribu eksemplar per hari, kembali turun ke angka normal. “Jawa Pos” kembali dicetak pada kisaran 450 ribu eksemplar per hari.

Dahlan Iskan memandang turunnya oplah bukan karena masyarakat tidak mampu beli koran lagi. Oplah turun karena masyarakat sedang galau sehingga “malas” membeli koran. Kegalauan itu, kemungkinan karena Iraq yang menjadi jagoan pembaca kalah perang melawan Amerika Serikat.

“Semangat pembaca harus dibangkitkan, tidak boleh larut dalam kesedihan karena Iraq kalah perang,” kata Dahlan.

Dahlan kemudian mengusulkan ide membuat serial ketroprak sayembara. Ketoprak ini dibuat seri cerita bersambung setiap hari selama dua bulan. Ceritanya diseting dari sejarah kerajaan di Jawa Timur, dengan pemunculan tokoh pembunuh misterius.

Identitas pembunuh inilah yang harus ditebak pembaca. Cara menebaknya dengan menulis jawaban pada kartu pos, yang ditempeli kupon dari “Jawa Pos”. Pembaca boleh mengirim kartu pos sebanyak-banyaknya, setiap hari.

Agar lebih dramatis, cerita bersambung itu kemudian dipentaskan dan siarkan melalui stasiun TVRI Jawa Timur sebanyak 5 episode. Sebanyak empat episode setiap minggu pada bulan pertama. Episode kelima pada minggu terakhir pada bulan kedua.

“Ampak-Ampak Singgelapura”.Itulah judul ketoprak sayembara yang akhirnya dipilih. Judul ini kemudian dimainkan oleh grup ketoprak ternama Siswa Budaya. Hadiah cukup wah, bernilai ratusan juta rupiah.

Kampanye dirancang dengan cermat. Baliho, umbul-umbul, spanduk, kaos agen, pengecer dan karyawan diproduksi besar-besaran. Iklan di TVRI juga digencarkan. Hasilnya, “Ampak-Ampak Singgelapura” menuai sukses besar.

Tiap hari, Pak Pos datang mengantar puluhan ribu kartu pos ke kantor “Jawa Pos” di Jalan Karah Agung, Surabaya. Setiap kali datang, mobil Pos Indonesia menurunkan berkantong-kantong kartu pos.

Selama sayembara, saya mendapat tugas meliput kreativitas agen dan pengecer dalam menjual “Jawa Pos”. Ada yang menjual sudah dengan paket “Jawa Pos” dan kartu pos berikut prangko. Ada juga yang menambah dengan bonus pulpen murah.

Ada juga yang sudah mengisi kartu pos dengan kupon dan alamat tujuan “Jawa Pos”. Pembeli koran tinggal mengisi nama tokoh yang disayembarakan saja. Kemudian menyerahkan kembali kepada pengecer. Selanjutnya, pengecer itu akan memasukkan ke dalam kotak pos yang ada di agen dan kantor pos.

Ada juga agen yang kreatif. Mereka membeli kertas karton kemudian menyablon sendiri dengan desain seperti kartu pos. Warnanya juga macam-macam. Bila kartu pos asli warnanya orange, kartu pos ala agen koran ada yang putih, biru muda, kuning dan hijau muda.

Selama berkecimpung dalam industri media, baru sekali itu saya melihat agen dan pengecer yang begitu “gila” menjual “Jawa Pos”.

Dalam hitungan minggu, “kesedihan” pembaca karena kekalahan Iraq, seakan lenyap. Pembaca mulai emosional dengan mengikuti serial “Ampak-Ampak Singgelapura”. Oplah “Jawa Pos” kembali naik menjadi di atas 500 ribu eksemplar per hari.

Pada akhir program, saya menerbitkan kisah-kisah agen dan pengecer yang mendapat untung besar dari program ketoprak sayembara. Ada yang bisa membeli rumah, sapi, kerbau, sawah. Juga ada yang membeli mobil baru dan umroh sekeluarga.

Melalui ketoprak sayembara, Dahlan mengajarkan dua hal baru. Pertama, memasarkan koran tidak cukup hanya dengan membuat berita, tetapi juga harus belajar memahami emosi pembacanya. Kedua, media cetak dan televisi bukanlah dua media yang saling bersaing, tetapi saling menguatkan satu sama lain.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


2 Komentar

  1. andi mengatakan:

    Wah,jd teringat masa kecil pak Gto, saya yg trmasuk pmbaca “ampak2 singgelopuro” itu pak,apalagi syuting nya jg dekat rumah saya, gua selomangleng dan kalasan kediri jatim, jd ikut terbawa emosi,apalagi tmpil jg kirun cs,wah mantap..

  2. bocahcilik mengatakan:

    hahaha, ternyata, dulu diapusi dahlan iskan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: