Beranda » Joko Intarto » Terkaget-Kaget dengan Jurus Bisnis Dahlan Iskan » Redaksi Terlambat, Sopir Bisa Tamat

Redaksi Terlambat, Sopir Bisa Tamat

Terkaget-Kaget dengan Jurus Bisnis Dahlan Iskan (7)

“Dahlan Iskan mengamuk di pintu tol!” Kejadian pada 2012 itu begitu hebohnya. Twitter mencatatnya sebagai trending topic. Media cetak, online, televisi dan radio mengupaskan hingga beberapa hari kemudian.

Aneh? Semua orang yang belum mengenal Dahlan memang menganggap cara marahnya berlebihan. Bahkan ada yang menuduh Dahlan sedang membuat pencitraan.  Tapi, bagi saya yang pernah menjadi karyawannya selama 20 tahun, menilai hal itu belum seberapa.

Belum seberapa? Ya. Dari dulu, Dahlan memang paling tidak senang dengan orang yang tidak bisa menghargai waktu. Terlebih, tidak bisa menghargai waktu orang lain. Bukankah orang lewat jalan tol karena tidak bisa menunggu waktu?

Pengelola jalan tol memang tidak boleh hanya memastikan semua mobil yang masuk harus membayar. Tetapi, lebih dari itu, mereka harus punya pemahaman bahwa yang masuk jalan tol adalah mereka yang berkepentingan dengan waktu.

Betapa berharganya waktu, dengan mudah dipelajari dan dirasakan para karyawan perusahaan media. Proses kerja di perusahaan media itu bertingkat-tingkat dan sambung-menyambung, 24 jam sehari. Nonstop!

Wartawan mulai bekerja pagi hari mengumpulkan informasi. Pada saat yang sama, petugas iklan mulai menginput data dan menata halaman. Bagian pemasaran koran mulai merekap penjualan dan mengirim tagihan.

Saat petang, wartawan masuk kantor untuk menulis berita. Wartawan harus menunggui berita sampai seluruhnya selesai diedit redaktur dan ditata layouter. Pada saat yang sama, bagian pemasaran merekap order agen untuk diserahkan ke percetakan.

Saat layouter menata berita, petugas pracetak mulai bekerja mempersiapkan film dan plate. Pada saat bersamaan, pegawai percetakan mulai mempersiapkan kertas, mengecek mesin dan mengisi tinta. Saat yang sama pula, bagian ekspedisi mulai menyiapkan armada pengangkut koran.

Saat ekspedisi mulai bekerja, bagian pemasaran sudah harus berkeliling dari agen ke agen untuk mengecek penyerapan koran di pasar. Pada pagi buta itu, mereka juga menarik uang setoran penjualan koran hari sebelumnya, untuk disetorkan di bagian keuangan pada jam kerja.

Begitulah ritme kerja di perusahaan media setiap hari. Jadwal ketat dan sambung-menyambung. Bila redaksi terlambat 10 menit, maka pracetak akan terlambat 20 menit. Akibatnya percetakan akan terlambat 40 menit.

Karena cetak terlambat, sopir ekspedisi yang terpaksa ngebut agar koran tiba di alamat agen tepat waktu. Terlambat sedikit saja, sopir pasti didamprat agen.

Apalagi, saat itu Jawa Pos membuat program garansi tepat waktu. Koran pesanan yang tiba di alamat agen lebih dari toleransi 10 menit dijadikan konsinyasi alias bayar kalau laku. Risikonya jadi triple. Didamprat agen, pemasaran dan keuangan!

Suatu hari, saya numpang mobil ekspedisi jalur Semarang melalui pantai utara. Selain gratis, saya bisa pulang ke rumah orang tua di Purwodadi, Jawa Tengah. Tengah hari, saya bisa mencegat mobil ekspedisi di Pati untuk kembali ke Surabaya.

Saat itu, koran terlambat cetak hampir 1 jam. Biasanya pukul 00:30 mobil Semarang sudah berangkat. Hari itu baru berangkat pukul 01:30. Padahal, jadwal tiba di agen Semarang adalah pukul 06:00. Jarak Surabaya – Semarang yang biasanya ditempuh 5,5 jam harus dicapai dalam 4,5 jam!

Bila biasanya mobil Semarang menurunkan jatah koran di agen Gresik dan Tuban, hari itu mobil hanya menurunkan jatah koran mulai agen Lasem hingga Semarang. Agar bisa mengejar waktu, jatah koran agen Gresik dan Lamongan diangkut mobil cadangan.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 05:15 ketika mobil Mitsubishi biru muda itu masuk kota Demak. Sekitar 30 kilometer lagi, truk akan sampai kota Semarang. Dalam situasi lalu lintas yang makin padat itulah truk yang saya tumpangi mengalami kecelakaan.

Mencoba menghindari seorang pria yang jatuh dari sepeda, truk dibanting ke kanan. Sementara dari arah depan melaju sebuah truk gandeng. Truk koran dibanting lagi ke kanan. Akhirnya, truk berhenti setelah menabrak pohon pengaman jalan.

Truk ringsek di bagian kanan depan. Kaca spion pecah. Sopir ekspedisi luka ringan di tangan dan wajah terkena sabetan ranting pohon yang menyeruak lewat jendela. Saya yang sedang tiduran di atas tumpukan koran di bak belakang “terbang” dan terbanting ke dinding mobil.

“Lebih baik beritanya biasa saja tetapi selesai tepat waktu, daripada beritanya luar biasa tetapi terlambat. Saya tidak mau ada lagi sopir yang celaka karena keterlambatan berita,” lanjut Dahlan.

Saya bertemu Dahlan beberapa bulan setelah kejadian ngamuk di pintu tol. Ceritanya, saya diajak makan siang di Restoran Babah Elit Jalan Veteran, di belakang Masjid Istiqlal.Sambil makan, saya mengusulkan cara efektif mengajarkan manajemen waktu bagi pengelola jalan tol.

“Bagaimana caranya?” kata Dahlan. “Suruh mereka magang di ekspedisi koran, biar merasakan sakitnya didamprat agen,” kata saya. Dahlan tertawa mendengar usul saya.

Dalam manajemen waktu, Dahlan Iskan memang layak ditiru.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


2 Komentar

  1. lumpiarivai mengatakan:

    Luar biasa. Betul2 murid pak Boss yg berhasil mencangkok gayanya. Tak bisa berhenti baca sebelum artikel terakhir.

  2. ha3…mau komentar ternyata isinya ternyata sama persis dengan bang Lumpiarivai….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: