Beranda » Joko Intarto » Virus Dahlanis di Hotel Bintang Lima

Virus Dahlanis di Hotel Bintang Lima

Ruang pertemuan berkapasitas 400 tempat duduk itu benar-benar sesak. Semua kursi terisi. Dari deret paling depan hingga paling belakang tidak ada yang kosong.

Petugas hotel terpaksa menambah kursi. Tapi, ternyata tamu masih terus berdatangan. Alhasil kursi habis lagi. Beberapa orang tamu terpaksa duduk lesehan di karpet ruang meeting.

Begitulah suasana pertemuan para pimpinan perusahaan yang ingin berjumpa dengan sang idola, Dahlan Iskan. Untuk bertemu Dahlan, mereka rela duduk berdesakan, bahkan lesehan di Hotel Aston Marina, Ancol, Kamis (11 April).

Satu pembicara selesai presentasi. Masuk sesi dua. Tokoh yang dinanti-nanti belum kunjung tiba. Saya mulai gelisah. “Jangan-jangan Dahlan tidak datang,” kata hati saya. “Ah, gak mungkin. Dahlan pasti datang. Dia orang yang tepat janji,” kata hati saya, menenangkan diri.

Saat saya keluar ruang menuju toilet, tampak pria berbaju putih dan celana panjang hitam dengan sepatu kets. “Ah itu dia!” teriak saya dalam hati.

Dahlan tampak duduk “ngelesot” di luar ruang meeting sambil membaca buku. Saya amati buku itu. Sepertinya buku yang sangat saya kenali cover-nya. Ternyata dugaan saya tidak meleset. Dahlan sedang membaca buku “Akal Sehat Dahlan Iskan” yang baru di-launching Dahlan di Bandung, Sabtu lalu (6 April).

Joko Intarto

Saya, Alwi Hamu dan Dahlan Iskan, lesehan di lorong meeting room Hotel Aston, Marina, Ancol, Kamis malam (11/04/2013).

“Malam Pak Bos,” sapa saya kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan. “Hai! Saya cari-cari Anda nih,” kata Dahlan. “Ada yang bisa saya bantu, Pak Bos?” tanya saya. “Mau minta tanda tangan,” kata Dahlan, sembari menyodorkan buku “Akal Sehat Dahlan Iskan”.

Sambil ikut duduk lesehan di lorong itu, saya tandatangani buku itu. Buku ini sebenarnya karya ketiga saya. Buku yang berkisah tentang pelajaran manajemen, bisnis dan jurnalistik dari tokoh yang digadang-gadang banyak orang untuk menjadi presiden itu. Dua buku lainnya, sudah lenyap bersama banjir besar yang merendam rumah saya pada 2002 dan 2007.

“Buat Guru Saya: DAHLAN ISKAN.” Demikian yang saya tulis pada buku itu sebelum saya bubuhkan tanda tangan.

Kamis malam itu, saya bawa 20 eksemplar buku “Akal Sehat Dahlan Iskan”. Saya coba-coba saja edarkan untuk mengusir rasa kantuk para peserta.
Di luar dugaan, tak lebih dari 10 menit, semua buku ludes terjual. Ada yang beli satu. Ada yang sampai 10 unit. Beberapa yang belum kebagian memesan agar hari ini saya bawa lagi.

“Saya mau beli 50 untuk semua karyawan saya,” kata seorang peserta pria, yang saya lupa namanya.

“Besok masih datang Pak? Saya butuh beberapa puluh untuk hadiah customer. Biar makin kenal Dahlan Iskan,” kata peserta lain yang juga tidak sempat berkenalan.

Hari ini, saya akan kembali menjajakan buku “Akal Sehat Dahlan Iskan” pada forum pertemuan para pimpinan perusahaan yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara itu. Saya optimis bisa menjual 500 eksemplar, karena banyak yang ingin menjadikan buku itu sebagai alat memperkenalkan pribadi Dahlan Iskan kepada kolega dan mitra usaha masing-masing.

Apakah mereka juga Dahlanis? Entahlah. Mungkin Dahlanis yang kaya-raya. Meetingnya saja di hotel berbintang lima. Tiket masuknya Rp 1,9 juta rupiah, untuk sesi acara dua hari. Itu harga tanpa menginap. Bila dengan menginap, harganya naik menjadi Rp 2,5 juta.

Dalam hati, saya merasa sangat bangga. Dahlanis ternyata tidak hanya menginspirasi orang biasa. Dahlanis telah berubah menjadi virus yang menjangkiti orang-orang kaya.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi
Follow me @intartojoko


1 Komentar

  1. @ndokaja mengatakan:

    Beli bukunya JTO ahhh.., bisa minta ttd dimana ya? Pls info…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: