Beranda » Joko Intarto » Distribusi Soal UN Tanpa Akal Sehat

Distribusi Soal UN Tanpa Akal Sehat

Penundaan pelaksanaan ujian nasional (UN) di sejumlah provinsi di Indonesia adalah peristiwa yang tidak masuk akal sehat. Bagaimana mungkin, sebuah perhelatan besar dan berskala nasional yang hanya dilaksanakan sekali setahun itu bisa gagal. Parahnya, kegagalan itu terjadi justru pada saat teknologi informasi begitu memadai dan mudah didapatkan.

UN boleh saja ditunda. Tetapi alasan penundaannya harus masuk akal. Misalnya, di wilayah itu terjadi bencana alam yang sangat luas dampaknya. Atau, karena terjadi kerusuhan sosial yang tidak memungkinkan terselenggaranya UN.

Tapi, alasan yang dikemukakan Kementerian Pendidikan Nasional terlalu sederhana. Hanya karena masalah distribusi. Alasan ini tentu bertentangan dengan akal sehat.

Distribusi adalah aktivitas pengiriman dari satu titik ke titik lainnya. Dalam kasus UN, yang didistribusikan adalah soal UN dari percetakan ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Dalam prinsip distribusi, kecepatan, ketepatan, keamanan barang dan biaya kirim menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Barang yang dikirim dengan cepat, tepat, aman tetapi mahal, masih bisa ditoleransi. Apalagi kalau bisa ditemukan cara mengirim yang cepat, tepat, aman dan murah. Tentu menjadi nilai tambah tersendiri.

Bisakah mengirim UN dengan cepat, tepat, aman dan murah? Di masa lalu, kondisi ini sulit dipenuhi. Tetapi sejak internet begitu luas jangkauannya, pengiriman soal UN yang cepat, tepat, aman dan murah bukanlah sebuah persoalan besar.

Naskah UN adalah sekumpulan soal yang dicetak dengan medium kertas. Di masa lalu, soal-soal itu dicetak di suatu percetakan, lalu dikirim ke seluruh alamat tujuan sesuai jumlah dan perkiraan waktu kirim masing-masing.

Cara pengiriman “zaman batu” itu jelas berbiaya mahal. Pengiriman fisik kertas ke seluruh daerah di Indonesia yang sangat luas membutuhkan alat transportasi yang begitu banyak. Berarti energi yang dibutuhkan juga luar biasa besar. Perusahaan ekspedisi akan menghitung kiriman berdasarkan berat fisik kertas, waktu tempuh, risiko perjalanan dan biaya keamanan barang dari tangan-tangan usil sepanjang jalan.

Belum lagi sistem distribusinya juga dikendalikan oleh jalur birokrasi berjenjang. Dari pusat ke provinsi, baru ke kabupaten, kecamatan dan akhirnya ke sekolah-sekolah tujuan. Berapa waktu untuk mengirim naskah dari percetakan di Jakarta ke sebuah sekolah di lereng Jaya Wijaya dengan hirarki yang birokratis itu?

Sistem cetak jarak jauh adalah solusi cerdas untuk distribusi naskah UN yang cepat, tepat, aman dan murah. Semua file naskah bisa dikirim ke server, kemudian didownload oleh siapa pun yang memiliki otoritas, kemudian dicetak di percetakan lokal.

Takut bocor? Itu alasan klasik yang bisa diatasi. Ada berbagai mekanisme otorisasi digital yang bisa digunakan untuk menjamin soal-soal itu tetap aman.

Sistem cetak jarak jauh bisa memangkas proses pracetak dan memperpanjang waktu cetak dan distribusi fisik di daerah tujuan. Bandingkan dengan metode cetak terpusat yang membutuhkan waktu pracetak dan cetak dan distribusi yang lama.

Secepat-cepatnya mesin cetak bekerja, kapasitasnya tetap terbatas. Apalagi kalau unit mesinnya juga terbatas. Sebanyak-banyaknya kapasitas mesin cetak itu, waktu cetak juga terbatas, hanya 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Sistem cetak jarak jauh telah diaplikasikan berbagai media cetak di Indonesia sejak 1995. Artinya, sudah 18 tahun metode cetak jarak jauh itu dimanfaatkan. Saat itu, transmisi data bahkan masih mengandalkan koneksi satelit yang sangat mahal. Sekarang, ketika internet sudah bisa dinikmati secara luas, justru muncul sebuah drama konyol: mengirim soal UN secara manual.
Dalam soal distribusi kertas berkategori dokumen negara, Kementerian Pendidikan Nasional sebaiknya belajar pada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sejak pemilihan umum 10 tahun lalu, KPU memanfaatkan sistem cetak jarak jauh itu dengan maksimal.

Naskah cetak berupa file didistribusikan ke seluruh percetakan melalui fasilitas online. Percetakan di setiap daerah hanya perlu mendownload lalu mencetak dalam pengawasan petugas keamanan. Hasil cetak didistribusikan di area yang terjangkau secara serentak, dengan sistem pengamanan yang bisa distandarkan.

Perlu akal sehat untuk memahami distribusi yang cepat, tepat, aman dan murah. Sayangnya, birokrasi menyukai yang sebaliknya..

Joko Intarto
Penulis buku Akal Sehat Dahlan Iskan, launching 6 April 2013


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: