Beranda » Joko Intarto » Setiap Hari Saja Bisa, Apalagi Hanya Setahun Sekali

Setiap Hari Saja Bisa, Apalagi Hanya Setahun Sekali

Manajemen Ujian Nasional Tanpa Akal Sehat (1)

Dua puluh tahun lalu, saya ingat persis bagaimana ngototnya Dahlan Iskan untuk menerapkan sistem cetak jarak jauh di Balikpapan agar Jawa Pos tiba tepat waktu di tangan pembaca. Tiba tepat waktu dalam prilaku pembaca koran adalah tiba sepagi mungkin.

Syukur-syukur koran tiba sebelum nangkring di toilet. Sebab, riset prilaku pembaca menyebutkan, lebih dari 59 persen orang membaca koran sambil BAB. Kalau koran datang kesiangan, pembaca memilih bacaan apa saja. Bila ini terjadi berulang-ulang, koran hebat sekali pun, akan ditinggalkan pembaca.

Itulah salah satu tantangan besar media cetak di era digital. Jarak yang jauh butuh waktu lama. Waktu lama berarti terlambat. Terlambat artinya menuju tamat. Agar tidak tamat, pengelola media harus bisa mengatasi dengan kreativitas dan teknologi.

Saat teknologi informasi belum semaju sekarang, upaya cetak jarak jauh itu dilakukan dengan mengirim film siap cetak port to port setiap subuh, dari Bandara Juanda, Surabaya, ke Bandara Sepinggan, Balikpapan. Selanjutnya, film dicetak di percetakan Manuntung (sekarang Kaltim Post) untuk diedarkan pagi itu juga di seluruh wilayah Kalimantan Timur.

Sebelum cetak di Balikpapan, Jawa Pos melayani pembaca di Kalimantan Timur dengan mengirim koran cetakan Surabaya. Caranya sama: port to port dari Bandara Juanda, Surabaya, ke Bandara Sepinggan, Balikpapan.

Apa istimewanya kalau cara mengirimnya juga sama: port to port. Sepintas memang biasa saja. Tapi, kalau diperhatikan dengan jeli, ternyata dua model pengiriman itu menghasilkan biaya yang berbeda.

Bila koran cetakan Surabaya dikirim ke Balikpapan, berarti yang dikirim adalah koran fisik. Bila 10 eksemplar koran beratnya 1 kilogram, berapa biaya kargo untuk mengirim 10.000 eksemplar koran Jawa Pos dari Surabaya ke Balikpapan? Bila biaya 1 kilogram sebesar Rp 1.000, maka Jawa Pos harus mengeluarkan biaya pengiriman Rp 1.000 x (10.000 kilogram : 10) atau Rp 10.000.000 per hari atau Rp 300.000.000 per bulan, atau Rp 3.650.000.000 per tahun!

Dengan mengirim film yang beratnya anggap saja 1 kilogram, berarti Jawa Pos hanya mengeluarkan biaya kirim Rp 1.000 x 1 kilogram atau senilai Rp 1.000 per sekali kirim. Anggaplah cargo memberlakukan minimum charge 10 kilogram. Maka, biaya maksimalnya hanya Rp 10.000 per hari, atau Rp 300.000 per bulan, atau Rp 3.650.000 per tahun.

Berapa yang dihemat dari perubahan teknik distribusi dari fisik koran menjadi fisik film? Sangat-sangat besar. Rp 3.650.000 dibanding Rp 3.650.000.000 ibarat tahi kuku dibanding seluruh tubuh kita.

Setelah internet berkembang sedemikian pesat dan luas ditambah perangkat komputer yang kian cerdas, pengiriman film pun ditinggalkan. Sejak 1995, Jawa Pos melakukan cetak jarak jauh dengan mengirimkan file film cetak ke server, kemudian operator percetakan di Balikpapan men-download melalui internet. Biaya untuk mengakses melalui internet mungkin menghabiskan Rp 100.000 per bulan.

Perbandingan antara biaya pengiriman file melalui internet yang Rp 100.000 per bulan dengan pengiriman fisik koran yang menghabiskan Rp 300.000.000 per bulan tentu lebih ekstrim lagi. Mungkin laksana kutu dengan gajah.

Kalau hanya untuk melayani 10.000 pembaca di Kalimantan Timur Jawa Pos harus mengeluarkan Rp 10.000.000 sehari, berapa biaya yang harus dikeluarkan Kemendiknas untuk mengirimkan soal dari pusat percetakan soal UN di Jakarta ke seluruh Indonesia?

Saya tidak bisa membayangkan, berapa ribu ton kertas yang harus dikirimkan ke seluruh daerah. Berapa ratus ribu kendaraan yang digunakan untuk mengangkut dari Jakarta hingga kota-kota besar di seluruh Indonesia. Berapa pula biaya yang dikeluarkan untuk itu semua.

Negara seharusnya bisa menghemat miliaran rupiah dana distribusi kertas soal UN, seandainya sistem cetak jarak jauh diterapkan. Seharusnya negara bisa mengalihkan dana distribusi itu membangun untuk sistem distribusi yang lebih aman di daerah-daerah, juga untuk meningkatkan mutu kertas ujiannya.

Mengapa Kemendiknas memilih menghamburkan uang begitu besar untuk distribusi yang tidak masuk akal? Komisi Pemberantasan Korupsi pasti bisa menemukan jawabnya.

Joko Intarto
Praktisi media
Penulis buku Akal Sehat Dahlan Iskan, terbit 6 April 2013
follow me @intartojoko


2 Komentar

  1. Mustail mengatakan:

    BEtapa Mental Birokrat kita,boros,boros dan boros….. karena tidak merogoh kantong sendiri ( mereka bisa hemat jika pake uang sendiri )………Akal Sehat kita Mengedepankan segi Efisiensi karena merogoh kantong sendiri……..

  2. sulung mengatakan:

    Tul, mentalitas birokrat yg maunya menambah kantong sendiri dari prosentase fee anggaran yg semakin gede

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: