Beranda » Joko Intarto » Mahalnya Waktu di Kebun Kopi

Mahalnya Waktu di Kebun Kopi

Manajemen Ujian Nasional Tanpa Akal Sehat (2-habis)

Hari Selasa (17 April) Jawa Pos edisi Jakarta menurunkan sebuah berita di halaman 1. Judulnya, “Setelah Ditunda, Terancam Gagal lagi”. Berita ini masih tentang pelaksanaan ujian nasional (UN) yang tertunda di wilayah Sulawesi Tengah.

Menurut pengumuman Kemendiknas, UN di Sulteng ditunda menjadi Rabu (17 April) atau hari ini. Tetapi sejumlah pihak menyangsikan UN bisa terlaksana sesuai jadwal tunda. Sebab, soal-soal UN itu baru tiba di kota Palu, ibukota Sulteng, hari Senin. Padahal, butuh paling cepat empat hari untuk mendistribusikan soal ke lokasi sekolah yang jauh.

Berita itu, sekali lagi, menunjukkan betapa bobroknya birokrasi Kemendiknas dalam mengelola UN. Hanya untuk membuat jadwal penundaan saja kok salah. Seharusnya, pejabat Kemendiknas bertanya lebih dahulu kepada percetakan, kapan soal UN Sulteng selesai dicetak dan kapan jadwal sampainya di kota Palu. Kemudian ditambah waktu kirim ke sekolah terjauh berapa lama.

Pencetakan soal UN terpusat membutuhkan tiga waktu yang sangat panjang. Pertama waktu untuk mencetak seluruh soal. Dengan volume cetak yang demikian besarnya, waktu yang dibutuhkan untuk menggandakan soal-soal itu pasti sangat lama. Untuk mempercepat proses, caranya hanya menambah unit mesin cetak dan meningkatkan speed mesinnya saja.

Saya tidak tahu apa mesin cetak yang digunakan di percetakan soal UN itu dan berapa kecepatannya. Tetapi akal sehat saya yang telah bergelut dengan mesin cetak koran selama 20 tahun mengatakan, tidak mudah untuk menambah unit mesin cetak. Sebab, tidak ada mesin cetak yang diproduksi di Indonesia. Semua mesin cetak diimpor dari luar negeri.

Katakanlah impor mesin cetak bisa menggunakan pesawat cargo seperti saat Dahlan Iskan mendatangkan mesin cetak dari Berlin, Jerman Timur, untuk koran “Rakyat Merdeka” pada tahun 2001, waktu perakitannya juga lama. Semakin besar kapasitas dan tinggi kecepatannya, semakin rumit dan lama perakitannya.

Belum lagi waktu untuk mencari mesin itu sendiri. Mulai mencari penjual, pendana, menawar, menyepakati cara pembayaran, penyelesaian dokumen impor dan dokumen transaksi. Semua butuh waktu yang panjang. Mungkinkah tender pencetakan soal UN itu sudah dilakukan jauh hari menyesuaikan waktu penambahan unit mesin cetak?

Bila tidak menambah mesin sendiri, percetakan bisa juga menggunakan mesin cetak milik pihak ketiga yang “existing”. Bisnis “maklon” itu memang biasa dalam bisnis percetakan. Sebab, investasi sebuah mesin cetak baru juga tidak murah. Sementara setelah mesin siap kerja, order belum tentu ada terus. Kecuali ketentuan tender membolehkan konsorsium, langkah menyewa jasa percetakan lain sama dengan menunjuk sub kontraktor yang tidak dibolehkan.

Waktu kedua yang diperlukan adalah mengirim kertas soal UN itu dari percetakan ke Ibukota Provinsi yang menjadi pusat distribusi daerah. Pengiriman pasti ada yang lewat darat, laut, udara, atau gabungan bermacam moda pengiriman sesuai dengan lokasi geografis masing-masing kota. Dengan jumlah kertas ujian yang begitu besar, pengiriman melalui darat dan laut adalah pilihan termurah. Agak lama, tetapi marginnya lumayan bila dibanding pengiriman melalui kargo udara.

Bila tender pengadaan jasa cetak hanya mengandalkan faktor harga termurah, rasanya pengiriman udara bukan menjadi pilihan para peserta. Padahal, pengiriman melalui darat dan laut itu selain lama juga sangat rawan dari sisi keamanan. Risiko kebocoran di jalan bisa diatasi dengan pengawalan polisi. Tetapi kemungkinan angkutan itu mengalami kecelakaan atau terhadang faktor alam bisa saja terjadi.

Pada 2001, saya pernah bisnis sapi potong dengan menjual sapi Sumbawa di Jakarta. Saat cuaca normal, dalam lima hari sapi-sapi itu sudah sampai di penampungan Ciputat, Tangerang Selatan. Tapi suatu ketika, sapi-sapi itu baru sampai Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, setelah 9 hari karena gelombang laut yang kelewat besar. Semua kapal dilarang berlayar untuk keselamatan awak kapal dan penumpang maupun barang dan hewan yang diangkut.

Waktu ketiga yang harus diperhitungkan adalah pengiriman dari pusat distribusi lokal ke alamat tujuan. Di seluruh kawasan pulau Jawa, lokasi terjauh dari kota provinsi pasti bisa ditempuh dalam sehari perjalanan. Tetapi di Sulawesi, Papua, Ambon, Sumatera dan Kalimantan, situasinya sangat berbeda. Alat transportasi terbatas. Sarana jalan raya umumnya kurang memadai. Belum lagi harus menyeberangi pulau, melintasi hutan dan gunung-gunung.

Pada tahun 1993 – 1998, koran “Mercusuar” yang saya kelola selalu tiba dua hari terlambat di kota Luwuk Banggai, kota terjauh yang berada di teluk Banggai. Kota ini lebih mudah ditembus dengan kapal laut dari Kendari, ketimbang melalui darat dari Palu. Jaraknya sekitar 400 kilometer dari Palu. Kurang lebih setara dengan jarak Jakarta – Semarang. Terlambat sehari itu, bila semua kondisi alam normal-normal saja. Kalau jalur Kebun Kopi sedang bermasalah, koran bisa sampai di Luwuk dua atau tiga hari kemudian.

Manajemen distribusi, adalah manajemen waktu. Itulah sebabnya, perusahaan media cetak begitu bersemangat menerapkan sistem cetak jarak jauh. Kecepatan pengiriman dan besarnya penghematan ongkos kirim adalah alasan akal sehatnya.

Karena itu, saya jadi tidak habis mengerti, mengapa pejabat Kemendiknas yang bertanggung jawab membuat pengumuman penundaan jadwal UN di Sulteng tidak memahami sulitnya distribusi. Mungkin, dia bukan seorang pejabat yang senang “blusukan” seperti Dahlan Iskan dan Jokowi. Atau, dia malah belum pernah melakukan perjalanan darat dari Palu ke Poso lewat Kebun Kopi yang sangat berbahaya itu.

Jangan-jangan, pejabat itu tidak tahu kalau mengirim soal ke Poso dari Palu bisa lebih lama dibanding mengirim soal dari Gorontalo atau Makassar. Sebab, Kebun Kopi memang jalur berbahaya. Longsor bisa terjadi setiap saat yang membuat satu-satunya jalan penghubung Palu – Poso itu macet total berhari-hari. Entah sudah berapa ratus mobil teronggok di dasar jurang itu, tanpa ada yang berminat mengangkatnya lagi.

Padahal, jalur itu hanya berjarak sekitar 25 kilometer saja, meliuk-liuk membelah lereng pegunungan di satu sisi dan jurang ratusan meter di sisi lainnya. Kalau sopir “meleng” sedikit saja, mobil bisa nyelonong ke jurang. Bahkan, mobil yang berjalan pelan dengan penuh kehati-hatian saja bisa masuk jurang, karena saat melintas tertimpa bongkahan batu gunung sebesar rumah.

Saya pernah tinggal di Palu selama 5,5 tahun, dari 1993 – 1998. Pengalaman sulitnya melintasi Kebun Kopi, membuat akal sehat saya mengerti betapa berharganya waktu.

Joko Intarto
Praktisi media
Penulis buku “Akal Sehat Dahlan Iskan”
Terbit 6 April 2013, dalam proses cetak ulang
Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: