Beranda » Andung Yuliyanto » Mobil Listrik Indonesia dan Dompet yang tertinggal

Mobil Listrik Indonesia dan Dompet yang tertinggal

Dahlan Iskan : Mobil Listrik Indonesia dan Dompet yang tertinggal
(Catatan dari Launching dan bedah Buku Electric Car di Gramedia Matraman Jakarta)

Tanggal 28 April kemarin saya sempat ikut launching dan bedah buku Electric Car karya Pendawa Putra Petir, yang merupakan salah satu binaan dari mega proyek Dahlan Iskan. Dari Surabaya kami berlima, berangkat hari jumat pagi. Pada hari pelaksanaan, minggu itu, direktur dan komisaris kami JP Books juga menyempatkan diri untuk hadir. Misbahul Huda sebagai komisarisnya, saat itu diminta sebagai salah satu pengisi seputar pengalaman belajar tentang kepemimpinan yang ditularkan dan yang dipraktekannya selama ini dalam mempimpin perusahaan. Hampir 30 tahun, Misbahul Huda berkarir di salah satu anak perusahaan jawa pos, milik Dahlan Iskan. Untuk sebuah gaya kepemimpinan dan management beliau terpengaruh dengan gaya kepemimpinan seorang Dahlan Iskan yang set-set wet.

Luas ruangan dilantai dua gramedia matraman Jakarta, hanya mampu menampung seratus lima puluhan kursi, di depannya ada seperti teras ukurannya sekitar sembilan meter persegi, untuk open both jualan buku, merchadise maupun sebagai tempat menyediakan minuman dan jajanan pasar untuk menyuguh tamu.

Sampai hari minggu pagi, kira-kira jam 11 siang, semua panitia masih terlihat tenang, masih optimis bahwa acara nanti akan dihadiri banyak pengunjung, target tamu yang diperkirakan 150 itu pasti akan terlampaui. Disamping acara ini didukung kalangan Dahlanis, sayapun juga sempat woro-woro di wall facebooknya Dahlanis. Jadi tidak terlalu berlebihan jika saya berharap pengunjung akan membludak bukan.

Acara akan dimulai pukul tiga sore, saat itu akan dibedah dua buku, karya Wartawan senior jawa pos Joko Intarto, dan Komisaris JP Books, Misbahul Huda. Perkiraan waktunya kurang lebih satu jam, untuk dua sesi ini. Baru setelahnya, pukul empat sore, akan dilanjutkan sesinya Pak Dahlan. Siang itu semuanya masih on schedule, sampai kira-kira pukul setengah satu siang, ada kabar bahwa jadwal kedatangan pak Dahlan dimajukan, beliau akan tiba pukul tiga sore. Dari situ panik mulai menjalar dalam diri.

Kepanikan pertama adalah bahwa pak Dahlan tidak terbiasa duduk diam, rasanya sangat sayang dan kurang menghargai kalau membiarkan Pak Dahlan duduk diam, sembari menunggu giliran berbicara yang masih satu jam kedepan. Untuk level seorang menteri, waktu satu jam itu sangat mahal. Artinya dalam kondisi seperti itu, kita harus membalik run-down acara, Pak Dahlan akan di switch, berbicara di sesi pertama pukul tiga sore nanti. Dengan demikian jadwal Panelis lainnya pun turut bergeser . Akhirnya kita sepakat susunan acara dibalik … ternyata ini adalah ide cerdas seorang Misbahul Huda.

Kepanikan kedua adalah, daya tarik acara ini ada di sosok Pak Dahlan. Terbayang ketakutan terjadi anti klimak, sesi setelah Pak Dahlan meninggalkan ruangan. Artinya setelah Pak Dahlan tampil, bagaimana mempertahankan antusiasme pengunjung untuk tetap nyaman duduk dikursi, sambil mengikuti acara selanjutnya, yang telah tersusun rapi. Sempat membayangkan juga, jika pak dahlan hanya berbicara tiga puluh menit saja, lanaas apa terjadi ? kemungkinan enam puluh persen penonton akan ikut pulang, dan acara yang sudah disettting selam dua jam itu pasti akan sia-sia.

Game dan bebrapa doorprize buku, helm maupun tas seadanya ini, yang akan kita olah dan maksimalkan untuk daya tariknya. Lumayan membantu juga untuk bisa mempertahankan antusiasme pengunjung. Meskipun mungkin tujuannya hanya sekadar mendapat doorprize, tapi tidak mengapa dari pada tidak ada pengunjungnya.

Ini adalah kepanikan ketiga, yang juga dirasakan beberapa temen-temen panitia saat acara itu. Kepanikannya adalah, sampai jam dua siang, pengunjung masih dua orang…..gubrak… sampai-sampai beberapa pengunjung toko buku yang keblasuk pun, atau yang salah jalan, saya ajak masuk dan duduk, sekadar memenuhi kursi biar tidak malu kalau pak Dahaln hadir. Dengan iming-iming sebuah pin cantik bergambar dahlan iskan, rupanya bisa membujuk mereka. Tekhnik rupanya lumayan berlaku, kira-kira hampi tiga puluhan pengunjung bisa memenuhi kursi, sampai kedatangan pak Dahlan.

Jam tiga sore tepat, Agung pamudjo sebagai pembawa acara tampil, dengan diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya. Namanya juga seadanya dan dadakan, lagu kebangsaan ini dinyanyikan dengan sedikit fals-fals, dan tapi justru tampak natural jika dibandingkan seperti yang dinyanyikan dalam tivi-tivi itu. Narasumber pertama adalah Prof. Dr. Uge A Ridwan. Pak Uge, kami memanggilnya, bercerita tentang pertemuannya dengan Dahlan Iskan. Saat itu, Pak Uge bertemu dengan seorang lelaki yang tidur diatas tumpukan Koran, sekarang baru tahu bahwa dia itu Dahlan Iskan. Setelah membuka pertemuannya dengan Pak Dahlan, kemudian baru menyasar tentang keberadaan mobil listrik, sejarahnya, peluangnya dan kemungkinan perkembangannnya Indonesia. Disela-sela acara itu, saya masih disibukan dengan banyak koordinasi, untuk mengabarkan sejauh mana perjalanan Pak Dahlan. Setelah Hampir lima belas menit acara berlangsung, baru Pak Dahlan sampai di Gramedia Matraman.

Dengan sepatu kets, kombinasi warna hitam, abu-abu dan putih, bertulis DI, pak dahlan berjalan sedikit lebih cepat dari lainnya. Rombongan dan kolega yang mengiring, tampak berlari kecil menyamakan langkah irama kakinya. Sampai diruang acara, Pak Dahlan tidak langsung masuk. Berputar dahulu, sesekali berhenti melihat dan memegang buku, berfoto dengan para karyawan gramedia dan juga pengunjung. Semua diladeni dengan senang hati.

Setelah member kode ke panitia panitia, segera pembawa acara mempersilahkan Pak Dahlan masuk. Awalnya Pak Dahlan, seperti biasa, duduk dikursi bercampur dengan pengunjung. Setelah beberapa kali, dipersilahkan untuk duduk di depan, akhir beliau menduduki kursi tamu bagian depan, yang selanjutnya naik ke panggung duduk di sofa yang sudah disediakan. Profesor Uge masih bercerita tentang mobil listrik, pengunjung masih serius mendengarkan. Tak lama berselang, seolah tanpa dikomando, ketika pak dahlan sudah kelihatan siap, Professor Uge pun mengakhiri sesinya. Microphon dan waktupun berpindah di tangan kepada Pak Dahlan.

Yang paling disuka Pak Dahlan adalah kalu ada pertanyaan, karena pastinya ia tidak perlu repot-repot menyiapkan bahan materi. Beliau lebih menyukai sesuatu yang sifatnya spontan. Terkadang saking spontannya, ia lupa kalau tidak ada persiapan sama sekali. Ini contohnya, ada salah satu peserta yang memberikan komentar tentang bagaimana sosok Pak Dahlan menurut pandangannya, rupanya jawaban yang diberikan si Ibu itu, lumayan mengelitik dan agak unik. Pak dahlan tertarik dengan jawabannya “Coba diulang , Apa tadi ? “ pintanya memberikan perintah. “Ya, ya… saya setuju, dan sebagai hadiah, Anda saya beri uang satu juta …” katanya spontan sambil tangan kanannya merogoh ke saku belakang celana hitam miliknya. “ Oh, maaf… rupanya dompet saya ketinggalan …” dengan mimik merasa tidak bersalah, semua pengunjung pun tertawa riuh. “ Mas, aku pinjam uangnya satu juta …” katanya kepada salah satu sekretaris pribadinya lagi, “ Nanti saya tukar …”. Dengan cepat tangan Pak Dahlan menghitung uang ratusan ribu berwarna merah itu. Uang satu juta itu diangsurkan Pak Dahlan kepada Ibu tadi. Ada guratan rasa bahagia tersirat dari ibu itu, tatkala menuju panggung didepannnya. Entah itu bahagia karena dapat uang dadakan, atau karena dipuji atau karena bertemu Pak Dahlan. Dan mungkin bisa juga karena semuanya.

Cerita lainnya di acara itu adalah, ketika Pak Dahlan menantang pengunjung untuk mendebat idenya berkaitan dengan mobil listrik. Herannya ada juga, salah satu bapak yang mengangkat jarinya tanda tidak sependapat. Pak Dahlan sempat bertanya apa alasannya. Setelah lumayan berpanjang lebar, bersilang pendapat, akhirnya salah satu pengunjung ini setuju dengan pemikiran dan alasan Pak Dahlan yang selalu berdasar logika dan akal sehat. Tiba-tiba, sembari menuju panggung, dengan spontan“ Beri seratus ribuan lima ya …, untuk seorang yang telah bertobat di jalan yang benar ‘ …. katanya kembali meminta sekretaris pribadinya memberi uang sebagai wujud penghargaannya.

Untuk sesi Pak Dahlan yang seharusnya hanya 60 menit, ternyata molor lebih dari 90 menit, tapi semua tidak menyadari, semua menikmati. Antusias Pak Dahlan pun masih tetap terjaga. Apalagi ketika di buka sesi pertanyaan, seolah beliau mendapat suntikan energi baru, andrenalin seakan bergolak. Saya lihat ada lima orang yang mengacungkan jarinya. Dengan gaya khasnya, yang unpredictable, semua penanya ini diminta naik keatas panggung. Semua pertanyaan tentang mobil listrik dijawab sangat lugas dan gamblang, pertanyaan yang remehpun Pak Dahlan menjawabnya dengan serius.

Sembilan puluh menit berlalu, Pak Dahlan benar-benar sangat menikmati acara ini, seolah mampu menyihir pengunjung. Bisa juga , karena Pak Dahlan menganggap ini sebagai ajang untuk menjelaskan tentang konsep mobil listrik benar kepada masayarakat, sebagai end user nantinya. Jika selama ini konsep mobil listrik masih persepsi mahal dan dan banyak masalah, pada hari itu beliau menjlentrehkan semuanya. Mungkin juga, Pak Dahlan berpegang prinsip , jika sudah melangkah harus total, tidak memandang apakah ia sedang berbicara di level toko buku, maupun berbicara di Gedung DPR, semuanya dilakukan dengan baik, sebuah teladan sikap yang luar biasa. Dengan kehadiran Pak Dahlan kemarin, konsep mobil listrik bisa sangat cair dan membumi.

Hadir di acara itu, membuat otak saya seperti puzzle, memory saya mulai melengkapi dan menyatukan serpihan ingatan sosok Pak Dahlan yang sangat kontroversial. Memang saya tidak pernah bertemu dan dibimbing langsung oleh Pak Dahlan. Tapi dari sharing teman teman dan perjumpaanya beberapa kali dengan beliau, membuahkan gambaran tentang seorang Dahlan yang semakin lengkap, semakin utuh. Meskipun itu saya rangakai dari kesan pribadi yang tertangkap, dari pengalaman saya sendiri.

Konon katanya Pak Dahlan itu adalah orang yang otoriter, keras kepala, angkuh, tapi dalam acara itu saya tidak melihatnya sama sekali, justru yang saya lihat lemah lembutnya. Beberapa kali saya lihat, Pak Dahlan selalu menyempatkan waktunya, jika yang meminta foto itu anak kecil atau seorang wanita. Selalu ada waktu bagi mereka. Begitupun selama berfoto, Pak Dahlan tidak pernah canggung untuk merangkul maupun memeluknya. Seseorang dengan penampilan yang “kurang layak” pun atau bahkan cenderung gembel, tetap akan mendapat perlakuan sama. Kerendah hatian ini yang membuat Pak Dahlan selalu dinanti kehadirannya, setiap kali ada acara termasuk acara kemarin. Tidak ada protokoler yang ketat, semua dikerjakannya sendiri, semua serba natural, seperti orang biasa.

Malah setelah selesai acara itu, saya masih sempatkan nongkrong, sambil beres-beres ruangan, dan sempat terdengar rasan-rasan dari beberapa pengunjung, bahwa mereka mulai bisa menangkap gambar an besar mobil listrik karya Dahlan Iskan. Malah ada yang nyeletuk “Bagaimana kalau Dahalan Iskan dinobatkan sebagai bapak mobil listrik Indonesia”. Kiprahnya memang sudah terlihat, dengan penuh risiko, beliau berani menyetir mobil listrik karyanya , yang notabene belum jelas kondisi mesinnya, karena belum diuji publik. Dalam keadaan itu bisa juga mobil yang beliau kendarai meledak. Sebuah keberanian mengambil resiko yang luar biasa.

Belum lagi berapa milyar, uang harus dikeluarkan untuk sebuah proyek yang menurut istilah beliau sebagai “ proyek marathon”. Karena dalam sebuah Industri otomotif, itu bukan sebuah bisnis estafet, yang mendapat keuntungan dalam jangka pendek, tapi bisnis otomotif itu bisnis jangka panjang, keuntungan akan didapat setelah lebih dari lima tahun. Perrsoalan lainnya musuh dari mobil listrik ini adalah ekonomi dunia. Karena apa ? Pasar mobil dunia itu ada di Indonesia, dan jika tiba-tiba Indonesia mampu membuat mobil listrik, yang menurut beliau, bahan bakarnya jauh sangat irit, hanya sepertiga dari bahan bakar normal, pastinya akan merusak ekonomi dunia. Dan ini adalah sebuah ancaman besar bagi kapitalis industri mobil.

Begitulah seorang Dahlan Iskan, hari itu, memberikan kuliah setingkat pasca sarjana dengan bahasa anak SMA, disebuah toko buku gramedia. Kesemuanya itu dilakukan karena Beliau mencintai negerinya, sebuahpembuktian diri atas anugerah kehidupannnya yang kedua, setelah ganti hati. Semua dilakukan dengan penuh cinta, DEMI INDONESIA SEUTUHNYA.

Salam Dahlanis Indonesia

Andung Yuliyanto

1 Komentar

  1. yeribaru mengatakan:

    izin copas ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: