Beranda » Joko Irianto Hamid » Dahlan Iskan, “Man jadda wajada” antara Wapres dan Presiden RI

Dahlan Iskan, “Man jadda wajada” antara Wapres dan Presiden RI

Dahlan Iskan Sang Pendobrak

Dahlan Iskan, “Man jadda wajada” antara Wapres dan Presiden RI  (Bag. 3)
Catatan: Joko Irianto Hamid (jurnalis lensaindonesia.com)

Sebagai “Presiden”, barangkali,  lebih seratus ribu karyawan dari semua anak perusahaan Grup Jawa Pos, kursi kepemimpinan sang “wartawan sejati” Dahlan Iskan, bukan hadiah dari laku “political will”.

“Kursi” supremasi daya hidup sosok “wartawan” ini dibeberkan di buku karya Sholihin Hidayat: “Dahlan Iskan Sang Pendobrak” (penerbit grup Kompas Gamedia), dan bukan pula diraih dari hasil kerja instan seperti fakta banyak politisi terkini. Juga bukan warisan dinasti kerajaan bisnis, atau warisan politik dinasti, termasuk fasilitas dari pemerintah.

Sebaliknya,  Dahlan mengawali dari ‘training’ memimpin hanya belasan orang yang bergabung di awal koran Jawa Pos bergerak (1982). Tentu, karunia itu berkat terobosan wartawan Dahlan Iskan mendasarkan kesadaran “good will”; semangat  “kerja, kerja, kerja”, yang kemudian dijadikan motto saat awal dipercaya negara, mengelola PLN.

Virus optimisme “kerja, kerja, kerja” itu pun,akhirnya disebarkan ke 144 perusahaan di bawah kementerian BUMN, yang ia kendalikan  saat ini. Contoh, Dahlan datang ke kantor Kementerian BUMN pukul 06.45, atau saat karyawan masih berkemas-kemas di rumah, maupun dalam perjalanan.  Ini kebiasaan lama Dahlan, tentu naïf bila dikaitkan tujuan sederhana pencitraan. Malahan, bila tak ada tugas luar, Dahlan juga tak jarang  pulang saat kantor Kementerian BUMN sudah sepi.

Sholihin Hidayat  mempertegas dalam bukunya ini, bahwa Dahlan Iskan selain simbol “kerja, kerja, dan kerja“, juga secara ekstrim menganalogikan bahwa ‘agama’ Dahlan adalah kerja. Etos kerja Dahlan digambarkan di atas rata-rata standar manusia Indonesia.

Itu dibuktikan Sholihin, sejak Dahlan merintis “kerajaan bisnis’ Jawa Pos, 30 tahun silam;

Ada kenangan lucu, saya (Sholihin Hidayat) dan Margiono (CEO Grup Rakyat Merdeka dan Ketua PWI Pusat) sepakat mengungguli kinerja Pak Dahlan (1982). Caranya, datang ke kantor mendahului Pak Dahlan, pulang lebih belakang.Waktu jam kantor pukul 07.00, saya dan Margiono datang pukul 06.00, ternyata Pak Dahlan sudah ada. Esoknya, saya dan Margiono datang jam 05.00, Pak Dahlan juga lebih dulu ada. (hal. 84)

Saking keselnya, Solihin dan Margiono kapok. Termasuk, tak mampu mengalahkan  pulang kantor paling akhir. Karena ditunggu sampai Subuh, ternyata Dahlan cetak-cetik di depan mesin ketik (belum ada komputer).

RAPAT PARA BOS USAI SUBUH

‘Kegilaan’ kerja  wartawan muda Dahlan yang 30 tahun silam masih tinggal di rumah kontrakan, faktanya sampai sekarang  –meski posisinya sudah ‘big boss’ “kerajaan besar Jawa Pos” dan usia hampir berkepala 6– tetap tak berubah. Malahan,   dipercaya Negara, mengelola PLN atau pun sekarang jadi Menteri BUMN, terkesan lebih “gila” lagi. Nyaris tidak mudah dikalahkan ‘kegilaan’ kerja anak-anak muda model apa pun. Termasuk, naïf bisa ditandingi standar kerja orang-orang yang pernah menjalani operasi organ tubuh, misalnya, apalagi operasi ganti hati seperti yang pernah dijalani Dahlan sewindu lalu.

Sholihin menyoba mengapresiasi  lebih jauh etos kerja paling takjub dari seorang pejabat Negara, yang wartawan ini. Misal, Dahlan pernah mengadakan rapat BUMN dengan 1000 bos pabrik gula se Indonesia di Hotel Borobudur Jakarta, dimulai pukul 05.00 (usai salat Subuh) dan selesai pukul 08.00 (jam masuk kantor). Rapat membahas rencana target kerja lebih keras lagi di tahun 2013. (hal. 122)

Terbersit, Dahlan bukan sekadar menguji kesunggguhan bos-bos pabrik gula seluruh Indonesia. Barangkali, target Dahlan yang begini, beda dengan kebiasaannya mengajak –rapat usai Subuh– para direksi di grup Jawa Pos. Di balik itu, mungkin, para bos gula kumpul di Jakarta,  nginap di hotel bintang lima, dan dipaksa rapat subuh, selain bermakna jadi ‘suplemen’ mult spirit fokus kerja, sekaligus agar ‘terjaga’ dari udara “malam” hedonis Jakarta.

Itulah salah satu contoh ‘kegilaan’ Dahlan yang tak sekadar ‘bergila-gilaan’, apalagi dikaitkan dengan tujuan ‘sepele’ pencitraan. Kelebihan Dahlan, adalah menularkan kerja harus tepat, cepat, tangkas, dan benar. Mafhum, Sholihin Hidayat lagi-lagi menarik benang merah pada sosok Presiden RI ke-4 Gus Dur yang statement dan gagasannya senantiasa membuat orang  tergagap-gagap dan “uzlah”. Sebaliknya, Dahlan “dakhilun” Iskan digambarkan berdaya hidup “pendobrak” kebuntuan yang senantiasa mencengangkan  standar orang Indonesia.

Banyak orang yang cerdas, kreatif, dan konsisten, tapi tidak banyak orang yang bersabar mengawal dan menjaga konsistensinya hingga mencapai tujuan. (hal 44)

MAN JADDA WAJADA

Penulis buku ini juga melengkapi dengan ilustrasi yang cukup kontemplatif tentang Dahlan dalam persepsi seorang guru Madrasah Aliyah. Penulis seperti sengaja merekam ketika Dahlan Iskan –yang juga jebolan Madrasah Aliyah– berkunjung ke sekolah Madrasah Aliyah, di mana sang guru tadi mengajar. Begini;

“Kalian harus bangga sebagai murid Madrasah. Harus berani bercita-cita seperti Pak Dahlan. Sebab, Allah tidak akan mengubah nasib kalian, sebelum kalian bertekad merubah nasib sendiri… Saya berdoa selalu, dari Madrasah Aliyah ini, akan ada yang menjadi Gubernur, bahkan Presiden RI”, kata si guru Aliyah di depan kelas.

“Bukan gaya berpakaian kalian, bukan penampilan fisik kalian yang bisa mengantarkan menuju kesuksesan. Tapi, kesungguhan dan keseriusan kalian dalam belajar yang akan menentukan nasib di kemudian hari. Pegangilah ucapan Nabi Khidir ini; “Man jadda wajada”. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan keberhasilan. (sopo sing temen bakal tinemu).  (hal 81)

Penulis seperti sangat antusias ingin mengungkap jauh, daya dobrak Dahlan bukan cuma dibuktikan pada ide atau gagasan –gagasan ‘gila’ atau genuine, maupun pola pengaplikasian yang tidak standar umum. Gaya hidup maupun penampilan keseharian Dahlan pun diungkap  cenderung ‘mendobrak’ pola-pola konvensional yang lebih berorientasi simbolik ketimbang berkaitan dengan produktifias. Misal, ikut sidang kabinet di Istana, contohnya, maupun saat memimpin rapat para Dirut perusahaan BUMN. Dia tetap konsisten dengan kebiasaannya bersepatu kets dan kemeja lengan pendek, atau kemeja lengan panjang yang digulung.

Satu lagi. Adagium yang tidak berhenti sekadar wacana, senantiasa  disebarkan Dahlan Iskan, bukan cuma di jajaran kementerian BUMN yang membawahi 144 perusahaan milik rakyat Indonesia. Penulis buku ini, juga menyoba menguak bahwa Dahlan amat memahami komitmen memajukan bangsa ini. Karenanya, virus optimisme kerja, kerja, dan kerja harus ditularkan pada generasi terkini, khususnya anak-anak muda di kampus-kampus.

Dahlan pun digambarkan rajin mendatangi puluhan kampus dan pondok pesantren. Seperti ceramah di Universitas  Syah Kuala, Banda Aceh, Universitas Beuren Lhoksemawe, Universitas Sumatera Utara Medan, Universitas Airlangaa, Universias Brawijaya, universitas Diponegoro Semarang, Universitas Gjahma da Yogyakarta, Universitas Udayana Bali, Universitas Pertanian Bogor, Universtas Negeri Jakarta, Universitas Indoensia, Intitut Teknologi Bandung, Institut 10 Nopemer Surabaya (ITS), dan masih banyak lagi.

“Mengajarkan optimisme melihat masa depan, baik masa depan sendiri maupun masa depan bangsa, harus dilatih sejak mahasiswa. Lulus, terjun di dunia usaha tidak gagap dan terbiasa menghadapi tantangan. Usia 30-35, menempati posisi manajer madya (Indonesia punya satu juta manager madya tangguh). Ini sekaligus modal bangsa ini untuk jadi negara maju,” kata Dahlan, menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Universitas Banda Aceh..

“Kegilaannya” mengabdikan hidup untuk kemaslahatan kerja sebagai “wartawan sejati” sekaligus pelaku wirausaha yang “Man jadda wajada” –sayang, tanpa diimbangi menjaga stamina tubuh–  karenanya, Dahlan harus ikhlas menerima realitas  takdir operasi ganti hati di China.

Buku ini juga mengupas, toh Dahlan tetap konsisten sebagai ”wartawan sejati”. Selama menjalani operasi ganti hati –sebelum jadi Dirut PLN—termasuk pemulihannya di sebuah rumah sakit China, misalnya, dia tetap bersemangat menulis laporan peristiwa medis yang dialami dan dimuat Koran  grup Jawa Pos. Tulisan-tulisannya yang tergolong reportase super eksklusif itu kemudian dibukukan. Bahkan, buku itu penjualannya tergolong  “box office”.

Tekad Dahlan berhenti berbisnis setelah operasi hati, ternyata dijawab Allah supaya mengabdikan ilmu dan pengalamannya kepada nusa dan bangsa. (281)

Begitulah Dahlan, dalam kondisi kesehatan yang cukup ‘mengkhawatirkan’ keluarga dan kerabat besarnya, toh dia malah bersemangat menerima amanah negara –diminta Presiden SBY untuk menjadi Dirut PLN– dengan penuh keikhlasan untuk mengabdi.

KONSISTEN MENULIS

Selama menjabat Dirut PLN pun, dia juga tetap  konsisten dengan jati dirinya sebagai “wartawan sejati”. Dahlan rajin menulis laporan kepada pembaca media terkait persoalan-persoalan PLN, misal, layaknya reportase wartawan senior yang menguasai betul obyek-obyek  persoalan yang ditulis. Praktis, masyarakat menjadi paham kenapa Indonesia di abad global masih “byar pet”,  masih ada masyarajakat Indonesia, yang belum menikmati energy PLN.

Bahkan, sejak mendapat amanah baru sebagai Menteri BUMN, Dahlan masih terus menulis. Paling tidak seminggu sekali, dia menulis “Manufacturing Hope” di media grup Jawa Pos.

Saya ini sanga kenal dengn Aristoteles, Einstein, Imam Al Ghozali, Imam Syafii, Ibnu Sina,  Al Farabi, Al Khuwairizmi, dan tokoh-tokoh besar dunia lainnya. Walau pun tidak  pernah, bahkan tidak akan pernah bertemu mereka, tapi saya memahami pikiran-pikiran kearifan mereka.

Barangkali, seperti itulah yang ingin diwujudkan Dahlan Iskan dengan tetap konsisten “Man jadda wa jada” dalam mempraktikkan daya hidupnya; sebagai pebisnis, pejabat publik, termasuk jati dirinya sebagai wartawan yang oleh penulis disebut sebagai “wartawan sejati”.

Gebrakan dan terobosan Dahlan selama menjadi pejabat publik, bukan berarti  berhenti membuat orang tecengang seperti ketika memimpin “kerajaan Jawa Pos”. Pro kontra terus mengalir keras. Proyek besarnya menjadikan Indonesia bebas dari lampu ‘byar pet’, misalnya. Pasca menjadi Dirut PLN pun, dia masih terus di-“kejar-kejar” para politisi di Senayan, dengan dalih minta pertanggungjawaban akuntanbilitas penggunaan anggaran APBN.

Dahlan toh, bergeming. Dahlan tak gentar.  Penulis menyitir ungkapan Presiden AS John F Kennedy: “Jangan kamu bertanya apa yang diberikan Negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu. (hal 277)

Lebih heboh  lagi ketika Dahlan  larut “perang” terbuka dengan para politisi di Senayan. Ada anggota DPR yang mengusulkan agar Dahlan Iskan dibawa ke dokter atau psikiater. Hal itu dikarenakan Dahlan menuduh beberapa anggota dewan memeras BUMN tanpa memberikan bukti hukum. (hal 250) .

…Orang harus berani mencoba dengan cara “setengah gila” untuk menghadang laju korupsi di negeri  ini. Orang harus berani mendobrak tembok raksasa dengan cara “setengah gila’. Sebab, cara-cara normal sudah tidak mempan lagi. Demikian kesimpulan penulis seraya memberi ilustrasi; Sejarah bangsa kita mencatat “orang-orang setengah gila” seperti peristiwa besar 10 November 1945, rakyat jelata hanya bersenjata bamboo runcing, linggis, ketapel mampu mengusir dan mengalahkan sekutu yang bersenjata modern.

Akankah  gerak laku Dahlan yang dikesankan seorang guru Madrasah Aliyah;   “Man jadda wajada”, kelak bisa seperti harapan dan doa si guru Aliyah itu; bisa menjadi Presiden RI atau Wapres RI?

Membangun jati diri bangsa harus dimulai dari peneladanan oleh para pemimpin. Bilamana para pemimpin sudah bertindak jujur, mau kerja keras, dan hidup sederhana, maka dengan sendirinya rakyat akan berbaris di belakanganya. (293)

Begitu konklusi penulis, yang bukunya akan dikupas Host popular di program talk show “Mata Najwa” Metro teve, si Najwa Shihab pada Rabu siang (8 Mei 2013)  di Kantor Bulog Jakarta. Buku yang kabarnya cukup laris sebelum di-launching Rabu lusa itu, selama pembahasan juga akan menghadirkan  si penulis buku dan “Sang Pendobrak” Dahlan Iskan. (Tamat)

http://www.lensaindonesia.com/2013/05/06/dahlan-iskan-man-jadda-wajada-antara-wapres-dan-presiden-ri.html


2 Komentar

  1. […] Dahlan Iskan, “Man jadda wajada” antara Wapres dan Presiden RI […]

  2. sekar pamungkas mengatakan:

    Termasuk Pencitraan kah ??…Di tunggu Pak bukunya…Man Jadda Wajadda..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: