Beranda » Nurseffi Dwi Wahyuni » Blak-blakan Dapur BUMN

Blak-blakan Dapur BUMN

Wawancara Khusus Dahlan Iskan (I): Blak-blakan Dapur BUMN
Nurseffi Dwi Wahyuni

Liputan6.com, Jakarta : Mengurus 142 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bukanlah hal yang mudah. Tujuh hari dalam sepekan dihabiskan Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk memantau perkembangan dan menyelesaikan masalah masalah di perusahaan milik pemerintah tersebut.

Semua BUMN, menurut Dahlan, harus untung. Pasalnya, jika merugi perusahaan pelat merah tidak bisa memberikan manfaat ke masyarakat. Segala kemudahan diberikan mulai dari memangkas birokrasi, serta memberikan kewenangan dan kepercayaan penuh kepada direksi BUMN untuk maju dengan cara mereka masing-masing.

Bahkan dia membiarkan seluruh direktur utama untuk menunjuk sendiri orang-orang yang bakal masuk dalam jajaran direksi guna membentuk dream team. Dia menilai sebuah tim yang hebat bukanlah diisi orang-orang hebat, tapi yang terpenting tim itu bisa kompak.

Namun, Dahlan mengaku paling anti memberikan suntikan dana buat perusahaan yang rugi. Dahlan berpendapat, hal itu tidak mendidik dan lebih baik membiarkan perusahaan itu gulung tikar dari pada harus terus menggelontorkan uang.

Mantan Bos PT PLN (Persero) juga memiliki bentuk BUMN Ideal yang menjadi impiannya. Dengan sisa waktu jabatan, Dahlan terus berupaya untuk mencapainya. Meski dirinya menyadari waktu yang dimilikinya tidaklah cukup untuk membenahi semua BUMN menjadi perusahaan yang sempurna.

Ditemui Nurseffi Dwi Wahyuni dari Liputan6.com, Dahlan menceritakan soal rekam jejak dan impiannya soal BUMN ke depan. Berikut petikan hasil wawancaranya seperti ditulis Senin (8/7/2013):

Kalau Anda lihat secara garis besar, sebenarnya masalah BUMN itu apa dan bagaimana menyelesaikannya-

Fokusnya memetakan ulang. Saya punya prinsip negara itu sebaiknya jangan melakukan bisnis. Yang bisnis itu masyarakat.

Pemetaan ulang itu pertama dilakukan dengan mengelompokkan BUMN itu untuk apa tujuannya. Ada tiga kelompok. Pertama, kelompok untuk ketahanan nasional seperti persenjataan.

Yang masuk dalam ketahanan yaitu pangan dan ternak di dalamnya karena itu menyangkut ketahanan pangan. Bangsa yang pangannya tidak teratasi dengan baik, maka ketahanan bangsa itu kurang baik.

Kedua, engine of growth atau kelompok yang akan dipakai sebagai alat untuk pertumbuhan ekonomi misalnya jalan tol. Mungkin secara bisnis, tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR) rendah, tapi tanpa ada jalan tol, pelabuhan ekonomi tidak akan tumbuh.

Ketiga, ada untuk jadi jagoan Indonesia di dunia internasional. Itu harus dibesarkan seperti misalkan perbankan, pupuk, dan semen. Engine of growth bisa juga international champions.

Ada berapa BUMN yang bisa jadi international champions-

Sebetulnya kalau programnya berjalan mulus, itu 10 sebetulnya bisa. Tapi kan ada program yang tidak mulus yang itu di luar kewenangan BUMN misalnya holding Perkebunan dan Kehutanan. Izinnya lebih rumit karena di luar Kementerian BUMN.

Lalu untuk mencapai tujuan itu, langkah apa saja yang dilakukan?

Saya beri kebebasan lebih banyak. Menurut saya, penyederhanaan birokrasi dan kecepatan pengambilan keputusan, kemudian meminimalisir opportunity lost. Di bisnis itu, speed itu penting. Bisnis yang tak perhitungkan speed itu sudah ketinggalan.

Untuk itu birokrasi harus dipangkas, kewenangan dan kepercayaan harus diberikan. Paling mendasar yang saya lakukan selama ini adalah memberikan kewenangan, kepercayaan dan kesempatan.

Nah, tetap memberi kesempatan akan bahaya jika yang diberi kewenangan itu tidak amanah. Untuk itu, yang saya prioritaskan adalah BOD (Board of Director/dewan direksi) di setiap BUMN itu BOD yang dream team sehingga kita nilai, misalnya kita para direktur utama (dirut) yang kita nilai.

Setelah direktur utamanya dinilai amanah dan punya kapabilitas, lalu ditanya tim ada sudah dream team atau belum, kalau belum dream team, maka dirutnya bisa usulkan nama.

Seperti Garuda itu kan ada permintaan dari dirut utamanya untuk menyusun dream team yang mereka inginkan karena kita memberi target kepada korporasi sangat tinggi. Di satu pihak kita pasang target tinggi, tapi tidak memberikan tim yang bagus. Itu namanya lepas kepala, megang buntutnya.

Karena itu dengan segala risiko dan asal target tercapai bisa terpenuhi ya dipersilakan.

Kenapa Anda ambil keputusan itu?

Memang saya yang minta karena mereka yang lebih tahu kapasitas calon dan dalam pengertian saya tidak mutlak bahwa satu BOD harus hebat semua di bidang masing-masing. Katakalah dirut hebat, direktur marketing hebat, direktur sumber daya manusia hebat, direktur produksi hebat, kalau semua itu disatukan belum tentu hebat.

Seperti yang sering saya sampaikan, bisa saja soto enak dicampur rawon enak belum tentu jadi makanan yang enak.

Yang penting tim itu kompak, dan saya memang saya lebih berorientasi kepada dirutnya. Karena ujung-ujungnya itu sebuah tim harus ada leader-nya. Omong kosong kalau sebuah perusahaan bisa dipimpin oleh kolegial (kebersamaan). Omong kosong itu.

Apa parameter BUMN sehat? Apakah dia harus untung, atau yang penting bisa bermanfaat ke masyarakat?

Nomor satu untunglah. Kalau rugi terus bagaimana mungkin bisa memberikan manfaatkan kepada masyarakat. Kita tidak murni berorientasi ke laba. Tapi laba itu penting untuk bisa mengabdi ke masyarakat.

Kalau rugi, jangankan mengabdi mungkin internal sendiri bisa bergejolak. Tidak pernah bisa naikkan gaji, gaji tidak lancar, peralatan kuno. Kemudian internal tidak puas.

Kalau tidak puas, bagaimana harus mengabdi ke masyarakat karena persyaratan untuk mengabdi ke masyarakat itu dirinya sendiri harus diperhatikan dan disebut dalam marketing itu internal consumer.

Bagaimana bisa melayani orang kalau yang melayani sendiri tidak dilayani dengan baik oleh perusahaan.

Selain itu, apa ada parameter lain?

Pertama laba, kemudian manfaat bagi masyarakat, dan yang ketiga itu solid. Solid in tidak cuma di tingkat direksi, tapi juga sampai ke bawah.

Kemudian bisa menciptakan culture kerja yang bagus. Kemudian sebetulnya yang kita dan saya persyaratkan di situ adalah peningkatan kapasitas orang sampai ke level dalam, karena kita percaya generasi itu harus terus berganti.

Kalau kita tidak siapkan generasi berikutnya dengan baik, maka tidak akan ada penerus yang bagus sehingga harus disiapkan sistem rekruitmen yang baik. Harus ada jenjang karier yang baik sehingga BUMN yang baik, memiliki jenjang karier yg baik.

Kalau BUMN itu terus merugi, selain disuntik modal penyelesaian yang terbaik itu apa?

Untuk BUMN yang rugi, saya agak agak anti menyuntikkn modal karena BUMN yang rugi kita lihat dulu, dia rugi karena struktural atau manajemen. Kalau disuntik terus nanti belum tentu bikin perusahaan itu bangkit. Misalnya banyak kasus di BUMN, saya tidak mau kasih uang, biar saja mati-mati saja. Tapi saya terlalu kasar ngomong gitu, itu maksudnya untuk melecut mereka supaya tidak boleh lagi gampang seperti itu dan BUMN harus merasa sakit juga.

Kok memang enak terus minta uang terus ke negara, mereka harus berjuang, kalau tidak bisa ya tutup saja.

Karena itu saya sangat apresiasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) karena akhirnya mau melepas Telkom Vision karena Telkom Vision itu anak usaha, jadi saya tidak bisa ikut campur. Saya tidak akan melakukan apapun dan tidak tahu bahwa proses itu dilakukan.

Saya tahunya belakangan, dalam hati saya apresiasi itu karena Telkom Vision ini umurnya sudah 16 tahun, tapi belum pernah satu tahunpun tidak rugi, 16 tahun rugi terus. Direksi sudah diganti 6 kali, tapi itu bukan zaman saya saja. Ini karena internalnya, kita cari dari luar, ternyata gagal juga.

Kesimpulan saya, memang Telkom tidak punya ruh di bidang konten TV berbayar. TV itu apapun jenisnya, konten itu penting karena Telkom cuma ahli di bidang networknya. Kalau bicara konten, dia bukan ahli karena itu dilepas cara yang bagus secara korporasi.

BUMN apa yang bakal menjadi fokus Anda tahun ini?

Merpati karena Merpati kan tidak pernah untung. Kemudian kita sudah sering ganti manajemen belum juga untung dan lagi utang lamanya sudah terlanjur terlalu besar sehingga otak saya mengatakan ditutup saja. Tapi hati saya memberi toleransi kalau ada manajemen bisa hidupkan merpati ya coba saja, asal jangan minta uang.

Ada ide untuk Merpati supaya bisa bangkit lagi?

Pasti ide sehebat apapun tidak akan berjalan kalau utangnya tidak direstrukturisasi. Nomor 1 itu utang untuk beli pesawat MA-60 itu mutlak harus diselesaikan karena kebutuhan barang yang dibeli lewat utang itu tidak bisa hasilkan tanggungan yang timbul akibat utang itu.

Kenapa tidak bisa hasilkan uang lebih besar dari utang, ya itu karena biaya per kilonya tidak bisa bersaing dengan pesawat sejenis yang dimiliki maskapai lain.

Misalnya, pesawat MA-60 bersaing dengan pesawat ATR, MA-60 itu biaya per kilo bs US$ 9 sen – US$ 12 sen, sementara ATR US$ 5 sen-US$ 6 sen.

Anda akan memberikan kasih kesempatan berapa lama ke Merpati?

Kita lihat 1-2 bulan ini. Merpati sepanjang masih terbang silakan, selama tidak minta duit. Karena begini pesawat tidak mungkin dipaksakan, begitu tidak bisa bayar gaji, bahan bakar, saya tidak mau PT Pertamina (Persero) diutangi bahan bakar Merpati.

Kemudian, bandara kalau tidak bisa bayar kan tidak bisa terbang. Mungkin bisa terbang tapi tidak bisa mendarat. Tidak bisa bayar asuransi juga tidak bisa terbang.

Kalau Merpati sampai sekarang bisa terbang itu berarti direksinya hebat skali.

Manajemen itu paling penting punya kesungguhan, tidak main-main, hemat, tahu mementingkan yang penting. Jangan mementingkan yang tidak penting. Prinsip-prinsip seperti ini yang saya terapkan di BUMN.

Suatu saat saya meninjau pabrik gula, pas awal-awal jadi menteri, kok di pabrik ada tukang, lalu saya tanya ini bangunan apa? Dia jawab, ya pak gedung pertemuan, nanti bisa disewakan ada pengantin, pertemuan.

Saya bilang tidak boleh. Ini uang buat perbaiki pabrik supaya lebih baik, ini namanya mementingkan yang tidak penting. Lari dari problem, orang tidak boleh lari dari persoalan. Persoalan harus dihadapi. Pabrik rugi, dia mau penghasilan cari dari yang lain.

Saya sih tidak harapkan bangunan itu dihentikan, tapi yang penting harus diperbaiki pabriknya. Pas saya kembali, bangunan pabrik itu sudah dibongkar. Pabrik malah ada taman, mesin pembersih, dan pabrik itu untung.

Anda sering meluncurkan gagasan baru untuk kembangkan BUMN, dari mana ide itu muncul-

Itu hanya bisa dilakukan orang yang rajin turun ke lapangan, ketemu anak muda yang ngobrol punya ide, Tapi posisinya tidak memungkinkan untuk menyampaikan aspirasinya.

Saya bisa temukan ide-ide itu karena saya cair dengan mereka, bergaul langsung dengan mereka tanpa batas, meski mereka merasa ada batas.

Kalau Anda menilai BUMN itu idealnya seperti apa?

Go public karena prinsip yang mendasarkan adalah negara sebaiknya jangan punya BUMN. Tapi kita terlanjur punya karena peninggalan Belanda, maka sebaiknya itu jadi perusahaan publik.

Seperti Antam dan PTBA yang melantai di Bursa Efek Indonesia?

Saya lebih ekstrem, menurut saya negara hanya pegang minoritas supaya kontrol masyarakat lebih besar dari negara. Tapi ada aturannya di Indonesia, bahwa pemerintah tidak boleh minoritas.

Padahal sudah terbukti BUMN yang go public itu pertumbuhan lebih bagus, lebih disiplin, lebih terbuka.

Sekarang ini banyak BUMN yang belum go public karena prosesnya yang panjang, kaya PT Semen Baturaja itu, kan prosesnya lama atau tunggu waktu yang pas.

Kriteria BUMN yang go public itu seperti apa?

Siapa yang siap, ya silakan saja.

Kalau perusahaan yang mengurusi hajat hidup orang banyak seperti PT PLN (Persero)?

PLN itu tidak go public karena ada subsidi di dalamnya. Kalau yang ada subsidi itu tidak bisa karena tidak bisa melakukan pembentukan harga. Mungkin anak usahanya bisa.

(Ndw/*)

http://bisnis.liputan6.com/read/631199/wawancara-khusus-dahlan-iskan-i-blak-blakan-dapur-bumn


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: