Beranda » Ade Asep Syarifuddin » Dahlan Iskan yang Saya Kenal (1)

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (1)

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (1)

ADE ASEP SYARIFUDDIN, 13 September 2012

SAYA dengan Dahlan Iskan ibarat langit dengan bumi. Apalagi sekarang dia adalah seorang pejabat penting di negeri ini, Menteri Negara BUMN. Betul saya bekerja di tempat perusahaan di mana grup ini dinaungi dia, grup Jawa Pos. Tapi kalau untuk kenal atau merasa kenal sangat berbeda kasta. Dia adalah kasta Brahmana, saya adalah kasta sudra bahkan paria.

Perjumpaan pertama mengenal wajah langsung adalah ketika saya mengikuti pelatihan manajemen pemasaran di Graha Pena Jawa Pos Surabaya. Kalau tidak salah sekitar tahun 2004. Saya turun dari terminal Bungurasih Surabaya kemudian naik Angkot ke Jl Jenderal A Yani No 88 Surabaya. Turun dari Angkot Saya berhenti dulu menatap gedung Jawa Pos yang mentereng 21 lantai. Wah bagus sekali gedung ini, gumam saya sambil melihat dengan tatapan kagum.

Untuk masuk ke gedung perkantoran harus jalan kaki dulu sekitar 300 meter dan melewati parkir. Di parkir itulah orang-orang berkata… Itu Pak Dahlan…. Saya melihat dia di dalam mobil Mercy Kompressor, menyetir sendiri, mengenakan kacamata sambil tersenyum. Waktu itu jam 5.30 WIB. Ya betul, jam setengah enam pagi. Pertanyaan saya, kok Pak Dahlan jam segitu baru pulang? Sambil berjalan menuju Gedung Graha Pena pikiran saya terus diliputi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Baru setelah mengumpulkan informasi dan bertanya ke sana kemari ditemukanlah jawaban. Pak Dahlan itu datang ke kantor jam 7 pagi dan pulang kantor jam 3 pagi. Bahkan lebih dari itu. Gila……. kata-kata spontan itu yang keluar dari mulut saya. Orang Jepang juga nggak gitu-gitu amat. Yang saya tahu, orang Jepang pekerja keras dan bekerja sekitar 16 jam sehari semalam. Ini melebihi cara bekerja orang Jepang. Pantas saja Jawa Pos cepat maju dan tumbuh pesat seperti sekarang. Bekerja sudah tidak hitung-hitungan.

Saya juga mendengar dari senior-senior saya, bahwa Pak Dahlan sering mengatakan bahwa manusia ini seperti karet baik pikiran maupun fisiknya. Semakin ditarik, karet itu semakin melar dan semakin panjang. Tapi kalau didiamkan begitu saja, ya karet itu tetap saja pendek. Artinya, kalau pikiran dan tenaga digunakan secara maksimal, kita bisa melakukan banyak hal dan kita bisa melakukan itu. Tapi kalau pikiran didiamkan dan tenaga dimanja tidak melakukan apa-apa, lama kelamaan pikiran dan tenaga yang sangat luar biasa ini menjadi disfungsi, bahkan “impoten” alias tidak bisa melakukan apa-apa. Inilah kelompok orang-orang yang suka mengeluh dengan pekerjaan. Diberikan pekerjaan yang sederhana saja akan langsung terasa berat, apalagi pekerjaan yang berat.

Waktu-waktu berikutnya saya sangat jarang ketemu Pak Dahlan. Hanya cerita-cerita yang cukup seram (dalam pandangan saya saat itu). Konon Pak Dahlan sangat galak, anti rokok, dan ngomong blak-blakan di forum. Apalagi kalau forum evaluasi perusahaan. Pernah ada GM (General Manager) satu perusahaan koran dengan umur piutang tinggi (di luar batas toleransi) langsung disuruh pulang. Katanya, ngapain datang ke sini kalau tidak becus kerja. Pulang saja dulu, menagih utang. Kalau sudah tertagih baru datang ke sini untuk evaluasi.

Wah… wah… wah… semakin merinding dan takut. Tapi saya berpikir semua yang dilakukan Pak Dahlan adalah benar. Kalau perusahaan tidak dikelola secara tegas, karyawan akan semau gue, sekarep dewek, dan bahkan bermalas-malasan. Yang diterapkan disiplin saja belum tentu bisa disiplin semua. Apalagi kalau dibiarkan tidak disiplin. Pilihannya hanya dua, apakah menggunakan disiplin tinggi dengan balasan perusahaan maju pesat. Atau membiarkan karyawan dengan gaya masing-masing dengan konsekuensi satu ketika bisa saja perusahaan itu bangkrut.

Saya bisa membenarkan mengapa Pak Dahlan bersikap tegas seperti itu. Jawa Pos dengan oplah kecil saat ketika pertama kali dibeli dan hampir bangkrut, beberapa tahun kemudian maju pesat dan menjadi market leader.

Dulu di Surabaya koran itu koran sore, karena koran terbesar di surabaya era 80 an adalah koran sore. Untuk mengubah paradigma dari koran sore ke koran pagi saja setengah mati. Baru ketika Jawa Pos meningkatkan kualitas di berbagai sisi dengan penetrasi pasar yang kuat, masyarakat mulai melek bahwa koran itu ya terbit pagi, bukan sore.

Tapi cerita itu kebanyakan bersumber dari mulut orang lain. Untuk bertemu langsung, diskusi bahkan ngobrol terbuka sangat-sangat tidak mungkin. Siapa saya ini, dan siapa dia. Tembok besar saya sebagai karyawan kemarin sore dengan seorang bos yang sudah malang melintang menjadi pembatas yang luar biasa kuat. Walaupun saya pernah juga berpikir, kayanya Pak Dahlan orangnya enak diajak bicara, kalau nyelonong mendekat dan ngobrol pasti dia mau menjawab dengan senang hati.

Tapi rasa segan diliputi rasa takut salah bicara jauh lebih kuat ketimbang keputusan nekat tersebut. Kalau saya bicara langsung menemui dia kan bisa parah, resikonya bisa besar. Kalau kinerja perusahaan gak bagus-bagus amat gak usah dekat-dekat Pak Bos. Tar kalau ditanyain dan salah bisa-bisa diberhentikan dari posisi sekarang. Bisa berabe deh.

GANTI HATI

Kabar tentang sakit yang berkepenjangan Pak Dahlan cepat menyebar ke seluruh anak perusahaan, termasuk ke saya. Ketika ada pertemuan di Surabaya saya kedapatan mendengarkan cerita dari Pak Dahlan langsung. Dia berkata, “Hati saya diganti karena terkena virus hepatitis. Dulu waktu kecil saya tidak pernah imunisasi hepatitis. Karena kerja terlalu keras tidak mengenal waktu, hati saya yang terkena virus tadi teridap kanker dan dokter memvonis waktu hidup saya hanya 6 bulan dari saat itu,” ujarnya.

“Dengan keputusan yang nekat, saya memutuskan untuk ganti hati. Alhamdulillah berhasil walaupun harus disiplin minum obat setiap jam 5 pagi dan jam 5 sore. Dan tidak boleh terkena flu dan demam selama satu tahun. Bila kena maka alamat hati baru saya tidak berfungsi maksimal. Sekarang ini saya harus makan yang enak-enak dan tidak boleh bekerja keras dulu,” ujarnya.

Ganti hati Pak Dahlan yang berhasil menjadi bahan cerita yang tak kunjung usai. Apalagi sebelum itu Prof Dr Nurcholish Madjid gagal menjalani operasi ganti hati. Ganti hati termasuk operasi besar dan jarang dilakukan pada saat itu. Namun Pak Dahlan ternyata bisa. Dan usianya yang divonis hanya 6 bulan lagi pada saat diperiksa dokter, otomatis bisa bertambah. Entah berapa tahun bertambahnya, dokter tidak mengatakan secara tegas.

Setahun setelah ganti hati, saya diberikan kesempatan bertemu di Radar Cirebon. Saya diajak oleh Pak Yanto, CEO Radar Cirebon grup untuk bertemu Pak Dahlan bersama dengan teman-teman lainnya. Bahkan sempat mengantar ke Hotel Grage Sangkan di Kuningan dan makan malam di sana. Kemudian dia meminta untuk diajak ke Semarang dan menginap di Pekalongan di Hotel Nirwana. Sebelumnya teman-teman di Radar Pekalongan pernah juga bercerita, dulu sekali Pak Dahlan pernah ke sini. Dia minta keliling Pekalongan dengan naik becak. Ini berarti kali kedua dia ke Pekalongan.

Setelah itu saya tidak pernah bertemu lagi dengan Pak Dahlan secara langsung. Hanya ceritanya yang terus datang mengalir silih berganti sebagai simbol success story Jawa Pos dan anak-anak perusahaannya.

Dalam hati kecil saya sebelum tidur saya sering bertanya, mungkinkah saya bisa bertemu lagi dengan Pak Dahlan dengan suasana dan cerita yang berbeda? Dan saya jauh lebih dekat mengenal watak, gagasan dan pikirannya? Jawabannya tidak kunjung muncul, karena memang tidak ada jalur yang menghubungkan dengan Pak Dahlan yang bisa langsung berkomunikasi. Saya hanya bisa bergumam, “Perhaps somedays I meet Mr Dahlan Iskan. Maybe yes, maybe no. Ah kaya iklan saja…… (Bersambung)

*) Penulis adalah GM Radar Pekalongan

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/427405457294540/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: