Beranda » Ade Asep Syarifuddin » Dahlan Iskan yang Saya Kenal (2)

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (2)

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (2)

Oleh: ADE ASEP SYARIFUDDIN

KETIKA Pak Dahlan diangkat menjadi Dirut PLN saya setengah tidak percaya, untuk tidak mengatakan sangsi.

Ketidakpercayaan saya ada beberapa hal. Pertama Pak Dahlan tidak memiliki latar belakang listrik. Dia hanya lulusan Madrasah Aliyah yang belajar Tarikh Islam, Quran-Hadits, Fiqih dan Bahasa Arab. Sama sekali tidak mempelajari listrik.

Kalau belajar di SMK masih bisa nyambung karena jurusan listrik memang ada. Walaupun latar belakang pendidikan sama sekali tidak connect, saya mendengar Pak Dahlan memiliki pembangkit swasta di Kalimantan. Tepatnya saya tidak terlalu tahu di mana. Apakah itu yang menjadi pertimbangan negeri ini mengangkat Pak Dahlan jadi Dirut PLN?

Kesangsian kedua, Pak Dahlan bisa hebat di media, tapi apa dia juga bisa hebat di perusahaan setrum milik negara itu? Saya terus mengikuti berita-berita Pak Dahlan dengan perasaan cemas. Takut-takut kalau terjadi penolakan dari internal PLN.

Dan yang saya khawatirkan terjadi juga. Serikat kerja PLN menolak Pak Dahlan sebagai Direktur Utama PLN. Entah penolakan murni karena mereka sangsi atas kemampuan Pak Dahlan yang berasal dari luar PLN atau memang ada sponsor yang menggembosi. Saya tidak tahu persis mana yang benar. Tapi semua itu bisa diselesaikan secara smooth.

Sebagaimana diketahui juga PLN pada waktu-waktu sebelumnya sangat kental dengan aroma korupsi. Beberapa pejabat penting sebelumnya harus meringkuk di hotel prodeo karena terbukti menyalahgunakan uang PLN alias korupsi.

Belum lagi kinerja yang buruk dan kebiasaan byar-pet yang tak kunjung ditemukan solusinya. Benar-benar berat dan penuh resiko. Ibarat meluncur ke tengah-tengah pusaran neraka persoalan.

Beberapa kebijakan diterapkan terutama menyetop celah-celah yang memungkinkan korupsi bisa terjadi. Seperti memangkas jumlah rapat, menghilangkan uang-uang perjalanan, setahap demi setahap mengganti listrik pasca bayar ke pra bayar. Dan PR yang luar biasa besar adalah meminimalisir pemadaman bergilir. Dan kebijakan lain yang intinya efisiensi keuangan dan perbaikan kinerja PLN. Di daerah tidak ada lagi peluang untuk menerima, mengumpulkan dan memakai uang. Semuanya terpusat satu pintu.

Kebijakan tersebut berimbas pada semua karyawan. Salah satunya adalah teman saya (bukan orang Pekalongan). Jabatan dia saat itu hanya wakil pimpinan di sebuah kantor PLN kecamatan. Dengan kebijakan tersebut dia mengatakan, sejak bosnya diganti, PLN “kering”. Hanya mendapatkan gaji saja. Biasanya ada SPJ, ada belanja ini dan itu ketika ada pimpinan datang dari Jakarta atau dari wilayah. Pokoknya banyak uang luar di luar gaji menghilang bak awan disapu angin.

Karyawan boleh tidak puas karena tidak bisa lagi mengelola uang negara itu seenaknya. Tapi kinerja korporasi terus meroket dan PLN bisa juga menjadi baik kalau yang memimpin adalah orang baik dan terampil mengelola orang-orang hebat di dalam tubuh PLN.

Saya masih ingat kata-kata Pak Dahlan yang mengatakan bahwa PLN ini adalah kumpulan orang-orang hebat. PLN hanya butuh tambahan satu orang bodoh seperti saya supaya bisa membaik.

Motonya pun diubah menjadi Kerja… Kerja… Kerja…. Awalnya Pak Dahlan ingin menambah kalimat, Jauhi Politik…. Kerja…. Kerja… Kerja. Tapi ada yang mengingatkan bahwa kata-kata jauhi politik ini bisa ditafsirkan beragam dari kacamata politik. Akhirnya hanya tiga kata itu saja yang menjadi moto PLN.

DIANGKAT MENTERI

Tidak lama menjadi Dirut PLN Pak Dahlan ditawari jabatan baru menjadi Menteri Negara BUMN. Sebetulnya Pak Dahlan agak sungkan untuk menjadi Menteri. Dulu setelah sehat dari ganti hati pun cita-citanya hanya tiga: menjadi guru jurnalistik, menulis buku dan mengelola pesantren.

Tapi situasi berkata lain. Pak Mustofa Abubakar Meneg BUMN sebelumnya sakit dalam waktu berkepanjangan. Sehingga tidak bisa melanjutkan untuk mengemban amanahnya. Dan dilantiklah Pak Dahlan menjadi Meneg BUMN. Walaupun mengenakan jas, peci dan dasi, sepatu ketsnya tetap dipakai. Tapi karena sepatunya berwarna gelap, tidak terlalu kentara. Belakangan diketahui bahwa dasi waktu pelantikan Menteri adalah dasi pinjaman dari Satpam PLN.

Dalam kesempatan pertemuan Surat kabar se Asia Pasifik di Bali beberapa bulan yang lalu, Pak Dahlan yang merasa tidak di Jawa Pos lagi diundang oleh Forum tersebut. Dia pidato dalam Bahasa Inggris, yang intinya pemerintah telah salah memilih dirinya menjadi Dirut PLN dan Meneg BUMN. “Maybe because I am crazy, government choose me as a Minister state Entrepreneur….” Sambutan tersebut disambut applause dan ketawa lebar para audiens.

Di sela-sela rehat acara, saya dipanggil Pak Yanto, CEO Radar Cirebon grup dan diajak ngobrol dengan 2 orang tinggi besar yang berkemeja putih dan celana hitam. Belakangan saya mengetahui dua orang tersebut, yang pertama adalah Pak Aziz Humas Kementerian BUMN dan yang kedua adalah Pak Budi Rahman Hakim biasa dipanggil Pak BRH, CEO Rakyat Merdeka grup. “Pak Dahlan mau berkunjung ke Pekalongan,” tutur Pak Aziz.

Saya hanya manggut-manggut, tidak terlalu merespons. Saya berpikir Pak Dahlan bisa ke mana saja termasuk ke Pekalongan. Tapi apa urusan saya dengan beliau.

Namun sesampainya di Pekalongan kabar tentang rencana Pak Dahlan mau ke Pekalongan saya dengar dari banyak orang. Saya bergumam, serius juga Pak Dahlan mau ke Pekalongan. Kalau memang dia mau ke sini saya sangat senang dan saya siap melakukan apapun.

Apakah ini mimpi? Seumur-umur saya belum pernah merencanakan untuk mengundang menteri. Saya memang pernah bersalaman dengan Pak Harto, sekitar tahun 1994, bersalaman dengan Harmoko tahun 1997, bersalaman dengan Gus Dur, tapi sebelum jadi Presiden. Tapi kalau mengundang menteri, kayanya mission impossible. (bersambung)

*) Penulis adalah GM Radar Pekalongan

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/427405707294515/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: