Beranda » Ade Asep Syarifuddin » Dahlan Iskan yang Saya Kenal (3)

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (3)

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (3)

Oleh: Ade Asep Syarifuddin

SETELAH mengetahui ada rencana Pak Dahlan berkunjung ke Pekalongan, saya mencari informasi ke sana kemari, bagaimana caranya mengundang menteri.

Hampir semua koran di bawah CEO Pak Yanto, Radar Cirebon grup sudah mengundang Pak Dahlan. Yang jelas harus ada even yang cukup besar, kunjungan tidak hanya satu titik acara dan harus sesuai dengan selera Pak Dahlan. Yang terakhir ini saya agak bingung karena tafsir atas selera menjadi sangat subjektif.Saya buat proposal dengan teman-teman. Kalau acara yang mengundang masa cukup banyak, dari berbagai kalangan ya jalan sehat. Maka diputuskanlah mengundang Pak Dahlan untuk meresmikan gedung Graha Pena Radar Pekalongan dimeriahkan acara jalan sehat.Untuk mengetahui seleranya, beberapa acara Pak Dahlan yang diselenggarakan di Jawa Tengah saya ikuti semua. Mulai dari acara di Harian Magelang Ekspres, acara di Wonosobo dan terakhir di Ngawi, Jawa Timur.Di Magelang Ekspres inilah tanggal 8 Juli hari Minggu pertama kali saya berkenalan dengan staf-staf ahlinya Pak Dahlan. Dengan Pak Miratul Mukminin yang akrab dipanggil Gus Amik dan Pak Budi Rahman Hakim yang sering dipanggil Pak BRH. Tanggal yang ditetapkan adalah 8, 9 September 2012. Mengapa tanggal tersebut? Tidak ada pertimbangan khusus, selain melihat bahwa angka 8 dan 9 itu angka yang bagus.Yang penting saya sudah kenal Pak BRH. Dengan Gus Amik waktu di Magelang saya belum kenal dekat. Tapi gak pa pa lah. Sambil jalan tentu semuanya akan bertambah dekat. Beberapa minggu setelah proposal diberikan belum ada jawaban pasti bahwa Pak Dahlan bisa hadir. Ini tentu membingungkan.Pak Yanto menyarankan saya datang ke Wonosobo karena ada acara Pak Dahlan di sana shalat tarawih bersama warga Wonosobo dilanjutkan dengan acara salawat mengundang Habib Syekh.Saya semakin optimis Pak Dahlan bisa hadir. Walaupun saran Pak Yanto jangan dipublish dulu di koran. Kalau berubah waktu kan bisa repot. Urusannya dengan massa.Saya semakin semangat dan merasa wajah Pak Dahlan selalu hadir di depan mata. Dan tanpa terasa saya mulai ngefans. Buku-Bukunya mulai saya beli. Yang saya beli pertama kali adalah Dua Tangisan Ribuan Tawa. Isinya tentang pengalaman dan manajemen praktis ketika Pak Dahlan jadi Dirut PLN.Sementara yang satunya adalah Novel Sepatu Dahlan. Novel ini ditulis Krishna Pabichara, inspirasi tulisannya berasal dari cerita masa kecil Pak Dahlan. Saya bisa meneteskan air mata membaca novel ini. Betapa miskinnya masa kecil Pak Dahlan. (bersambung)

*) Penulis adl GM Radar Pekalongan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: