Beranda » Ade Asep Syarifuddin » Dahlan Iskan yang Saya Kenal (4)

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (4)

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (4)

Ade Asep Syarifuddin

SEORANG fans harus tahu betul idolanya. Baik biografinya, gagasan dan pemikirannya, kebiasaan-kebiasaannya. Sehingga akan semakin utuh ketika ingin menirunya. Untuk meniru secara 100% memang sangat tidak mungkin, tapi kalau setahap demi setahap meniru yang diidolakan, sangat mungkin bisa dilakukan.

Selain bertemu langsung, saya membeli buku-buku yang berkaitan dengan Pak Dahlan. Buku pertama yang saya beli adalah Dua Tangisan dan Ribuan Tawa. Isinya cerita-cerita inspirasi yang berkaitan dengan tugas Pak Dahlan ketika di PLN, buku kedua adalah novel Sepatu Dahlan karya Krishna Pabichara. Bahasanya ringan, mudah dipahami, apalagi ditulis oleh orang yang handal membuat fiksi.

Memang penulis novel Sepatu Dahlan tidak mengatakan itu biografi Pak Dahlan. Tapi novel yang diinspirasi oleh cerita masa kecil Dahlan Iskan. Tapi saya yakin sedikit banyak novel itu memang cerita Pak Dahlan yang hidup sangat miskin. Cita-citanya hanya 2, memiliki sepatu dan sepeda. Cita-cita pertama tercapai ketika kelas 2 Aliyah, itupun hanya dipakai seminggu sekali.

Mengapa demikian karena sepatu itu hanya dipakai hari Senin untuk upacara bendera. Itu pun bagian jempol sepatu itu sudah bolong-bolong. Dan kalau dipakai setiap hari, pasti sangat menyiksa. Karena tidak biasa pakai sepatu pasti kakinya sangat-sangat terganggu. Lagian kalau dipakai tiap hari, sepatu itu akan cepat rusak. Sementara untuk membeli lagi sepatu, harus menunggu dalam waktu cukup lama. Saya hanya berkaca-kaca membaca novel itu. Saya juga waktu kecil hidup miskin, tapi nggak gitu-gitu amat. masih bisa pakai sepatu walaupun sepatu pemberian.

Karena berbagai alasan, saya membeli lagi 10 buku. Judul-judulnya adalah, Tidak ada yang Tidak Bisa, Indonesia, Habis Gelap Terbitlah Terang, Spirit Hidup Dahlan Iskan, Dahlan Juga Manusia, Pelajaran dari Tiongkok, Ganti Hati, Kentut Model Ekonomi, Dahlan Iskan Pemimpin yang Happy, Leadership ala Dahlan Iskan. Dan banyak lagi buku-buku yang berkenaan dengan beliau baik ditulis langsung maupun ditulis oleh orang lain.

Sebelum ini saya memang banyak membaca buku yang berkaitan dengan motivasi dan mindset. Hanya memang kelemahannya, kebanyakan penulis hanya mengemukakan teori-teori motivasi. Atau saya punya keraguan kepada penulis buku sebelumnya, apakah dia bisa mengaplikasikan semuanya yang dia tulis?

Sementara ketika membaca buku Dahlan Iskan saya benar-benar merasa menjadi Dahlan Iskan yang memiliki gaya kepemimpinan dan manajerial yang handal dan langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gaya kepemimpinannya sangat sederhana, tidak terlalu pusing untuk menerapkannya, karena memang yang dia tulis adalah yang pernah dia lakukan. Pak Dahlan selalu menulis cerita yang tengah terjadi.

Semuanya dibuat sederhana, semuanya dibuat masuk akal dan akar persoalan ditemukan dan jelas dengan jalan keluarnya. Alur berpikirnya kira-kira demikian, menemukan persoalan—- menemukan penyebabnya —- mencari jalan keluarnya. Persoalan penumpang kereta api sebagai contoh. Pertanyaannya adalah, mengapa penumpang kereta api selalu berdesak-desakan? Apakah tidak bisa naik kereta api dengan nyaman? Penyebabnya ternyata fungsi tiket kereta tidak sama dengan tiket pesawat, Mengapa di pesawat bisa tertib, sementara di kereta tidak.

Maka dibuatlah solusi, nama di tiket harus sama dengan kartu pengenal. Dan penumpang tidak bisa masuk kereta kalau tidak memiliki tiket. Tidak ada lagi istilah salam tempel di dalam kereta. Cara ini juga bisa menghindari percaloan, karena calo tidak bisa membeli tiket tanpa nama jelas sesuai dengan calon penumpang. Padahal mafia calo sudah mendarah daging sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Sekarang, penumpang kereta api bisa duduk dengan nyaman, tidak berdesak-desakan bahkan kelas ekonomi sudah ada yang ber-AC.

Tidak hanya saya yang ngefans dengan Pak Dahlan, istri saya juga jadi ikut-ikutan. Entah pengaruh apa sampai meraksuk ke dalam jiwanya. Dia menghabiskan Novel Sepatu Dahlan hanya 2 hari, walaupun sibuk ngurus rumah tangga. Sementara saya butuh beberapa minggu. Jadilah diskusi Pak Dahlan di sele-sela waktu senggang. Asyik juga sebenarnya ada teman diskusi, bisa mempertajam pemahaman.

Untuk persiapan menyambut Pak Dahlan ke Pekalongan, saya mengumpulkan teman-teman seluruhnya di Radar Pekalongan, tidak terkecuali office boy. Saya bilang ke teman-teman dalam acara pembentukan panitia. Kita mau mengundang orang hebat ke Pekalongan, Pak Dahlan. Insya Allah dia bisa hadir pada waktu yang sudah ditentukan. Pertanyaan saya ke teman-teman, apa latar belakang saya mengundang Pak Dahlan?

Sebelum mereka menjawab saya jawab dulu sendiri. Apakah ingin terlihat hebat karena bisa mengundang Menteri? Apakah supaya ngetop? Atau hanya untuk gagah-gagahan saja supaya orang bilang hebat? Saya bilang jawaban tadi memang diperlukan. Tapi bukan hanya itu motivasinya. Yang lebih penting adalah, bisakah kita meniru kebiasaan Pak Dahlan ke dalam pekerjaan yang kita lakukan tiap hari. Karena Pak Dahlan adalah wartawan, pengelola media. Untuk mencontek pekerjaannya sangat mudah karena sangat berhubungan dengan pekerjaan kita.

Coba kita mengundang Tukul. Bisa jadi kita senang, kita bahagia dan kita menjadi happy. Tapi ketika kebiasaan Tukul kita tiru dalam kehidupan sehari-hari, mana mungkin bisa diterapkan. Teman-taman saya yang wartawan dan penjual koran harus berubah profesi menjadi pelawak. Sangat jauh dengan pekerjaan yang kita lakukan. Tidak salah juga mengundang tokoh terkenal, tapi ini lebih pas dengan profesi kita.

Saya hanya memberitahu kepada teman-teman saat itu, Pak Dahlan hanyalah lulusan Aliyah (setingkat SMA), kuliah hanya satu tahun kemudian drop out karena aktif di pers kampus. Tapi bisa menjadi menteri. Menjadi menteri itu bukan karena pendidikan formalnya, tapi lebih dilatarbelakangi oleh kemampuan dan kinerjanya. Siapapun bisa belajar menjadi orang hebat dengan cara membaca, belajar pengalaman orang lain dan lebih penting lagi kita mulai melakukan sesuatu. Belajar dengan cara berbuat jauh lebih mengkristal ketimbang dengan cara belajar lainnya.

Jadi kalau mau bisa,lakukanlah sesuatu jangan terlalu banyak pertimbangan. Salah juga gak apa-apa. Kan kita bisa tahu salah dan benar setelah kita berbuat. Kita tahu yang cocok dan tidak setelah dilakukan dan dicoba. Pak Dahlan adalah orang yang banyak belajar dengan berbuat. Kutu buku dan aktifis, membaca buku, praktek dalam kehidupan, sehingga bisa memahami spirit untuk maju itu apa saja syarat yang harus dimilikinya.

Sampai saat ini saya belum tertarik dengan buku-buku motivasi lain. Paling tidak saya punya 12 buku Pak Dahlan yang belum dibaca semua. Semangat yang muncul luar biasa, seperti menemukan spirit hidup.

Dulu saya pernah heran kepada anak-anak remaja yang histeris ketika melihat idolanya. Sampai-sampai dibelain untuk melakukan apapun asalkan bertemu idola pujaannya. Sekarang saya baru memahami, memang mengidolakan seseorang itu penuh dengan spirit dan semangat. Hari-hari sangat termotivasi, capek dan lelah, kurang tidur dan perjalanan jauh sudah tidak dirasakan lagi sebagai beban. Bahagia aja gitu lho…..

Saya berharap, teman-teman di Radar Pekalongan pun memiliki spirit yang sama untuk meniru semangat Pak Dahlan secara totaly. Sehingga bisa bekerja dengan hati, bekerja dengan semangat dan bekerja tidak hitung-hitungan waktu maupun pendapatan. Tidak hanya di Radar Pekalongan, semoga spiritnya sampai juga ke masyarakat Pekalongan. Semoga. (bersambung)

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlaniskangroup/permalink/481539101864503/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: