Beranda » Ade Asep Syarifuddin » 24 Jam Bersama Dahlan Iskan (5)

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (5)

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (5)

Ade Asep Syarifuddin

INI cerita yang paling menegangkan. Mengapa? Karena saya mau bertemu langsung Pak Dahlan dan saya menjadi protokol selama sekitar 24 jam sejak turun dari Bandara A Yani Semarang sampai kembali terbang di A Yani Semarang.

Hari itu Jumat tanggal 7 September 2012. Pagi-pagi sekali saya sudah bangun dan mandi. Istri saya menawarkan sarapan apa adanya, nasi goreng. Tidak seperti biasanya, nasi itu tidak bisa masuk ke dalam mulut. Entah karena kurang tidur atau karena nervous mau ketemu idola. Saya ke Semarang sekitar jam 10 pagi, berangkat dari Pekalongan menuju Semarang bersama dengan Patwal dan mobil Alphard.

Saya satu mobil dengan Pak Yanto (CEO Radar Cirebon grup), Pak Sukron (Direktur Radar Pekalongan) dan Pak Arif Badi Karyawan (Direktur Wahana Semesta Merdeka). Memakai mobil Fortuner milik Pak Yanto. Saya duduk di depan sebelah kiri, sementara Pak Sukron yang memegang setir. Mobil ini matic dan lumayan besar bodynya. Mirip SUV. Saya tidak berani menyetir karena tidak biasa pegang matic. Takut-takut keliru, bisa malu-maluin deh. Kalau jalan sendiri sih gak pa pa. Ini kan kecepatan tinggi dikawal patwal.

Tiba di Semarang sekitar pukul 11.30. Kami masih sempat shalat Jumat sebelum masuk bandara. Usai shalat dilanjutkan makan siang di RM Suharti. Entah mengapa pagi tadi kurang nafsu makan, tapi kok di RM ini nafsu makan saya malah muncul. Sebelum selesai makan saya menyempatkan diri SMS ke staf Pak Dahlan Miratul Mukminin yang biasa dipanggil Gus Amik. Isinya kira-kira, “Gus, kami membungkus nasi ayam buat makan siang Pak Dahlan dan rombongan di jalan.” Dia hanya menjawab bagus, kamu memang cukup mengerti. Titik.

Tiba di Bandara kami berempat harus menunggu beberapa jam. Sempat terjadi perselisihan antara rencana awal kami yang akan menjemput Pak Dahlan di pintu umum, dengan orang-orang dari BUMN Jateng DIY yang akan mengarahkan Pak Dahlan ke pintu VIP. Biasanya memang Pak Dahlan tidak mau masuk ke pintu VIP. Alasan orang-orang BUMN karena saat itu ada menteri lain yang hadir dan disambut oleh Gubernur. Sekalian saja Gubernur menyambut. Pesawat Garuda yang mambawa Pak Dahlan mendarat di A Yani pukul 14.20. Sesuai jadwal.

Yang aneh adalah, karyawan Angkasa Pura Semarang yang berjumlah tidak kurang dari 10 orang yang dipimpin langsung oleh GM nya bergegas menuju ke arah pesawat yang sudah parkir, kemudian mereka berderet di bawah tangga. Otomatis diarahkan ke ruang VIP. “Siapa yang mengarahkan saya ke sini, saya biasa lewat pintu umum bukan VIP,” tanya pak Dahlan sambil agak marah. Dia sempat melongok ruang VIP, tapi di dalam sedang asyik berbincang. Pak Dahlan sebentar masuk toilet kemudian langsung keluar menuju mobil Alphard dengan nomor polisi P 15 MA, milik Pismatex.

Di dalam mobil tersebut duduk sebelah kiri depan Miratul Mukminin (Gus Amik), yang nyetir Pak Arif Badi Karyawan. Di tengah sebelah kiri staf khusus Pak Dahlan Budi Rahman Hakim (biasa dipanggil BRH), sebelah kanan tengah Pak Dahlan. Saya di belakang sebelah kanan bersama Ketua Komunikasi Forum BUMN Jateng-DIY Pak Adi Prasongko.

Suasana ketika naik mobil masih tegang. Pak Dahlan menelepon seseorang. Dia berkata, Kasih tau yang GM Angkasa Pura Semarang, jangan pernah mengarahkan saya ke pintu VIP. Saya perlu mengetahui kondisi fasilitas umum. Setelah itu tanpa dikomando, bungkusan dari RM Suharti satu per satu dibuka. Dan dengan santai Pak Dahlan bersama stafnya makan nasi kotak di dalam mobil. Begitu mudahnya Pak Dahlan untuk makan. Tidak mesti harus menu yang macam-macam.

Pak Yanto kirim BBM ke saya yang isinya, Pak bos kecewa karena masuk lewat pintu VIP, seharusnya lewat pintu umum. Tadi seharusnya mobil parkir di umum. “Saya sudah izin dan untuk parkir di umum, tapi kita kalah sama orang Angkasa Pura. Kita harus hati-hati, kalau sudah tidak enjoy, kita agak repot,” kata Pak Yanto.

Saya juga bingung, tapi tidak punya trik untuk melewati ketegangan tersebut. Hanya terdiam dan berdoa semoga keadaan cepat menjadi baik. Pak Dahlan cepat melupakan kejadian tadi. Paling tidak tidak terus memperpanjang dan mempermasalahkan.

Lepas Terminal Mangkang Pak Dahlan mulai lirik kanan lirik kiri melihat suasana. Di sebelah selatan awal masuk Kendal dia melihat pabrik. Spontan dia bertanya, pabrik apa itu? Saya hanya terdiam karena memang tidak tahu. Wartawan yang ada di Kendal saya coba hubungi pun tidak ada yang membalas sms dengan cepat. Baru setengah jam kemudian ada jawaban bahwa itu pabrik Texmaco. Tapi diskusi sudah berganti tema.

Pertanyaan kedua muncul. Waktu saya di pesawat, kata Pak Dahlan, saya melihat break water sebelah barat Bandara A Yani, itu apa ya? Lagi-lagi saya hanya terdiam. Saya tahu di Kendal ada Pelabuhan. Tapi pelabuhan apa, untuk apa, sekarang masih beroperasi atau tidak, sama sekali tidak ada referensi.

Untungnya Pak Adi Prasongko, yang juga wong Suroboyo, Dirut PTP IX cukup memahami dan mengenal Pak Dahlan. Diskusi pun bergeser membahas seputar PTP IX dari berbagai sisi. Saya hanya mendengarkan. Ada istilah-istilah yang saya pahami, ada juga istilah yang masih asing.

Pembicaraan terhenti ketika Pak Dahlan terlihat lelah dan kecapekan. Kalau tidak salah sampai di Gringsing jelang Subah, Kabupaten Batang. Saya coba membisiki Pak BRH. Bos, kalau Pak Dahlan saya pijat bagaimana? Tanpa basa-basi dia menjawab, aku pindah ke belakang, kamu pindah ke tengah. “Abah, Asep ini bisa pijat refleksi, bisa dicoba supaya bisa meringankan rasa sakit,” kata Pak BRH. “Oh ya, silakan,” kata Pak Dahlan.

Mulailah saya memijat kaki Pak Dahlan di beberapa titik refleksi. Punggung kaki dan telapak kaki. Baru disentuh sedikit saja sudah terlihat kesakitan. Saya mengurangi tekanan pijatan. Demikian berulang-ulang. Ketika hampir sampai di Gedung Telkom untuk pertemuan Forum BUMN, Pak Dahlan sempat bilang. “Bisa nggak kita putar-putar dulu 1 jam, pijatannya lumayan membuat badan saya agak ringan.” Saya langsung menimpali, gak usah muter-muter Abah, undangan di Telkom sudah menunggu. Kalau mau kita lanjutkan nanti malam kalau lagi senggang.” Pak Dahlan setuju dan menganggukan kepala.

Turun di gedung Telkom sudah ditunggu ratusan massa. Pak Dahlan menyempatkan melihat robot buatan anak-anak SDIT Ulul Albab. Saya melihat Kepala SDIT Ulul Albab Nonon Arif Rahman terlihat melempar senyum bangga karena karya anak didiknya bisa diperlihatkan ke seorang menteri. Di situ juga ada stan SMK Batang yang sudah membuat tablet. Pak Dahlan memborong 10 tab tersebut.

Sampai di ruang atas Telkom Pak Dahlan disambut dengan tepuk tangan yang meriah, dan acara Forum BUMN pun dimulai. Ketika sesi tanya jawab, General Manager PT Angkasa Pura Semarang, Priyo Jatmiko meminta maaf kepada Pak Dahlan yang sudah mengarahkan ke pintu VIP. Maksud dia baik, tapi tidak sesuai dengan protap Pak Dahlan.

Pak Dahlan memahami mengapa dia diarahkan ke pintu VIP. Tapi dia lebih suka kalau lewat pintu umum. Mengapa? Karena saya perlu tahu fasilitas di pintu umum itu seperti apa. Apakah sudah cukup memuaskan konsumen, atau ada hal-hal yang harus diperbaiki. “Kalau di VIP kan pasti bagusnya. Dan kalau saya bukan Menteri BUMN, saya juga pakai pintu VIP,” katanya.

Terlihat lega ketika melihat Pak Jatmiko. Bisa jadi dia juga merasa bersalah, tapi semua yang dia lakukan tidak lain hanya berniat untuk menghormati Pak Dahlan sebagai Menteri yang juga menaungi Angkasa Pura Semarang. Tapi situasi berkata lain, pasti dia akan semakin memahami karakter Pak Dahlan yang sangat populis tersebut.

Keluar dari gedung pertemuan atas Telkom, Pak Dahlan diserbu orang-orang yang memintanya menandatangani Novel Sepatu Dahlan. Jadi saja acara berikutnya agak bergeser. Dengan telaten Pak Dahlan meladeni tandatangan satu per satu, ada juga yang meminta foto bersama. Wah benar-benar selebritis ini. Agenda berikutnya adalah menuju Pesantren Syafii Akrom di Jenggot Pekalongan Selatan. Saya meminta Pak Dahlan untuk berwudlu dulu di Telkom, ketika sampai di Ponpes Syafii Akrom langsung shalat maghrib. (bersambung)

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/428587117176374/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: