Beranda » Ade Asep Syarifuddin » 24 Jam Bersama Dahlan Iskan (6)

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (6)

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (6)

Ade Asep Syarifuddin

SUARA adzan magrib berkumandang tatkala rombongan Menteri BUMN tiba di Pondok Pesantren Syafii Akrom, Kelurahan Jenggot Kota Pekalongan. Pak Dahlan langsung menuju mushola untuk menunaikan shalat magrib berjamaah dengan santri-santri pondok tersebut.

Dalam perjalanan, Pak Dahlan sempat bertanya, apakah di Pondok tersebut saya harus pakai peci? Pak Dahlan merasa kalau pakai peci terlihat jelek. Walaupun demikian, Pak Dahlan berani teken NU. “Walaupun tidak pakai peci dan sarung saya berani teken bahwa saya NU,” katanya. Kontan saja seisi mobil tertawa tanpa dikomando. Untuk jaga-jaga, peci hitam dan sarung sudah dipersiapkan. Tapi Pak Dahlan hanya mengambil pecinya saja.

Usai shalat magrib rombongan berjalan menuju tempat pertemuan disambut oleh grup hadhroh yang melantunkan shalawat Nabi. Seorang santri mengalungkan bunga melati tanda selamat datang kepada Pak Dahlan. Malam itu Pondok Pesantren Syafii Akrom benar-benar terlihat ramai.

Pak Dahlan di pondok ini terlihat sangat senang bisa mengunjungi Pesantren di Pekalongan. Dia bercerita bahwa ketika dia kecil juga santri di Pondok Pesantren Sabilul Mutaqien Magetan. Dulu namanya Pesantren Takeran. Sambil sekolah dia mesantren juga.

Dia memohon maaf karena sedang flu dan batuk. “Waktu bulan Ramadhan saya umroh ke tanah suci dan jalan-jalan ke beberapa tempat. Shalat di Masjidil Aqsha, mengunjungi makam Nabi Adam dan Nabi Nuh, ziarah ke makam Abdul Qodir Jaelani dan Imam Abu Hanifah. Sampai mampir juga ke Najaf dan Karbala, tempat di mana Imam Husein menjadi korban,” katanya. Suhu di sana mencapai 48 derajat, sangat panas. Pulang dari sana batuk pilek tidak sembuh-sembuh.

Menurut keterangan pengasuh pondok H. Yasir Maqosid, LC, pondok tersebut memiliki beberapa ekor sapi perah dan pedaging. Santri-santri menjual susu tiap hari. Awalnya santri enggan untuk menjual. Entah karena gengsi atau tidak biasa. Tapi karena mendapatkan uang, akhirnya mereka semangat juga menjualnya. Tapi yang mengelola cuman 2 orang, akhirnya untuk menambah jumlah sapi, agak tersendat karena kurangnya tenaga. Pesantren ini juga baru-baru ini diliput Metro TV, entah karena pesantrennya atau karena sapinya, sehingga Metro TV mau menayangkan.

Mendengar ada peternakan sapi, Pak Dahlan langsung berdiri dan memanggil siapa-siapa saja yang mengelola dan yang menjual susunya. Satu per satu maju dan berdiri di depan. Yang pertama bertanya kepada santri yang menjual susu. Pertanyaan Pak Dahlan sangat sederhana, “Apa kesulitan Anda dalam menjual susu?” Dengan polos santri tersebut menjawab susah untuk mengikat plastiknya karena licin. Pertanyaan kedua, sudah berapa lama membungkus susu sapi? Jawab santri tadi, tiga tahun Pak. “Mestinya tiga tahun mengikat plastik yang berisi susu sapi sudah lancar dong. Ya nggak?

Pertanyaan berikutnya dialihkan ke pemerah susu. “Bapak memerah susu kapan?” “Malam hari pak, itu hambatan terbesar saya.” “Jam berapa” tanya Pak Dahlan lagi. “Jam 4 pak.” Pak Dahlan balik bertanya, “Jam 4 itu bukan malam tapi sudah pagi. Saya kira jam 12 malam bapak sudah ke kandang sapi. Kalau jam 4 sih sebentar lagi shalat shubuh. Niatin saja untuk qiyamullail ya Pak, supaya mendapatkan pahala juga.” Pak Dahlan berjanji mengirimkan tim persapian ke Syafii Akrom dalam waktu dekat.

Kebetulan saya kenal orang BUMN yang menggarap Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) atau yang lebih populer disebut CSR yaitu DR Agus Suherman. Dia dosen Undip Semarang tapi bekerja di Kementerian BUMN. Seminggu setelah Pak Dahlan mengunjungi pesantren, Agus Suherman pun mensurvei sapi-sapi yang ada di sana dan akan membuat pilot project pengembangan sapi. Bila SDM yang mengelola sapi cukup andal, tidak menutup kemungkinan bisa ditambah.

Perjalanan selanjutnya menuju Graha Pena Radar Pekalongan untuk meresmikan gedung barunya yang beralamat di Jl Binagriya Raya Blok B.1 No 9. Sampai di lokasi Pak Dahlan kaget, “Ada apa nih ramai-ramai?” Saya menjawab dengan spontan, lokasi peresmian gedung Radar Pekalongan di sini. Suasana cukup ramai, selain undangan dari pengusaha dan pemerintahan, juga banyak siswa-siswa SMA dan Aliyah. Turun dari mobil, Pak Dahlan masih memakai sandal jepit. Saya membawa Sepatu Pak Dahlan di belakangnya.

Jumlah undangan resmi sekitar 1.000 orang, anak-anak sekolah sekitar 550 orang dan undangan lainnya sekitar 450. Pak Dahlan datang disambut siswa dan siswi yang berderet di sebelah kiri dan kanan. Masing-masing deretan tidak kurang dari 200 orang. Ada juga yang meminta tanda tangan Novel Sepatu Dahlan. Belum mulai acara udah ada sesi pemotretan dan tanda tangan.

Pak Dahlan tidak langsung menuju kursi undangan atau ke ruang makan malam. Dia malah langsung ke lantai atas menuju ruangan saya. Di sana sudah tersedia kasur lipat. Pak Dahlan merebahkan badannya, tengkurep dan dimulailah profesi tambahan saya sebagai tukang pijat refleksi dadakan, melanjutkan pijat di mobil siang harinya karena belum tuntas. Saya coba pijat titik refleksi, benar-benar Pak Dahlan kesakitan. Saya tidak berani memijat dengan tekanan maksimal.

Mungkin ada yang bertanya, kok saya bisa pijat refleksi. Ya betul, saya memang pernah belajar beberapa tahun yang lalu kepada seorang ahli. Tujuannya sederhana, ketika ada yang membutuhkan pertolongan cepat saya bisa membantu. Tapi jelas saya tidak mungkin buka praktik dan membuka papan nama di rumah. Melanggar tupoksi dan bisa bersaing dengan tukang pijat yang asli.

Pukul 20.00 Pak Dahlan turun dari lantai atas menuju tempat peresmian. Di bawah tangga disambut Pak Alwi Hamu (Komisaris utama Radar Pekalongan), Bapak Suparno Wonokromo (Komisaris Radar Pekalongan), Bapak Sudirwan (Pendiri Radar Banyumas) dan teman-teman dari grup Jawa Pos lainnya. Sampai di bawah bukannya duduk di kursi VIP, tapi malah bergeser ke belakang menemui anak-anak SMA. Lagi-lagi sesi pemotretan dan tanda tangan Novel terjadi dengan spontan.

Dalam peresmian itu Pak Dahlan tidak diberikan waktu sambutan. Saya mengetahui hal itu dari beberapa orang yang saya kenal yang lumayan dekat dengan Pak Dahlan. “Jangan kasih waktu sambutan buat Pak Dahlan, pasti dia menolak,” katanya. Dia diberikan waktu untuk dialog dengan tamu undangan. Ada juga sesi penandatanganan prasasti. Yang ini harus mau, karena tidak membutuhkan waktu yang lama. Sesi yang lain adalah pengguntingan pita. Ini pun Pak Dahlan pasti tidak mau. Akhirnya yang menggunting pita adalah pengecer koran didampingi Pak Dahlan dan Muspida.

Dalam sesi tanya jawab, 3 orang siswa SMA Negeri 2 yang diberi kesempatan bertanya langsung lari menuju ke depan. Pak Dahlan sangat senang dengan anak-anak muda yang berani dan kreatif. Penanya pertama bertanya tentang korupsi harus dihukum apa. Kebetulan waktu itu Pak Dahlan mengenakan kemeja putih dibalut kaos kuning muda bertuliskan, Buanglah Koruptor pada Tempatnya. Kalimat itu yang memancing pertanyaan siswa tadi. Penanya kedua menanyakan tips menjadi pemimpin yang sukses, sementara siswa ketiga, putri ketika dipersilakan untuk bertanya, dia menjawab dengan malu-malu. “Saya maju ke sini bukan untuk bertanya, tapi ingin mencium tangan Bapak.” Kontan saja Pak Dahlan dan undangan tersenyum. (bersambung)

*) Penulis adalah GM Radar Pekalongan


2 Komentar

  1. Ronny Thomas mengatakan:

    sekedar baca udah ngerti, begitulah seorang pemimpin, harus jadi panutan, jangan ABS aja. banyak yang harus diperbaiki dinegeri tercinta ini. salam buat beliau, saya mau nanya bisakah kita mendapatkan bibit sorgum untuk mahasiswa praktek tanam dan buat bio etanol ?

    salam,
    ronny thomas ( Balikpapan )

  2. wakhidsoeryaadie mengatakan:

    ini slh satu yg selama ini menjadi oase di tengah pemimpin penuh dengan kebohongan dan tak peduli dengan masyarakat kelas bawah,makasih pak dahlan iskan semoga panjang umur agar anda bisa membuat indonesia lebih baik,amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: