Beranda » Ade Asep Syarifuddin » 24 Jam Bersama Dahlan Iskan (8)

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (8)

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (8)
Ade Asep Syarifuddin

Sopiri Walikota dan Ketua KONI

ALHAMDULILLAH saya bisa bangun pagi tepat jam 4.30 saat adzan berkumandang. Ternyata Pak Dahlan sudah bangun lebih dulu, walapun masih terlihat duduk di atas kasur. Tidak lama kemudian sholat Subuh. Namun karena kondisi badannya agak kurang fit, Pak Dahlan memilih tiduran lagi usai shalat shubuh.

Yang saya ingat adalah, jam 5 pagi Pak Dahlan harus minum obat untuk mensinkronkan IP adress antara hati baru dengan organ tubuhnya, sehingga tetap bisa bekerjasama. Tapi di mana obat itu, bentuknya seperti apa, berapa jumlah yang diminum. Saya sama sekali tidak tahu. Saya cari informasi ke Gus Amik dan Pak Arif, ternyata mereka sudah menyiapkan segelas air berikut obat yang dimaksud. Lima menit menjelang jam 5 saya mengingatkan bahwa Pak Dahlan harus minum obat.

Agenda pagi itu adalah menengok asset BUMN di pelabuhan yang mangkrak bersama Walikota. Saya coba kontak protokol Pemkot Pekalongan Pak Nur, dia bilang jam 5.45 Pak Wali siap untuk berangkat. Jam 5.30 Pak Dahlan keluar dari kamar sudah siap dengan pakaian olahraga dan kaos kuning bertuliskan Buanglah Koruptor pada Tempatnya. Sebelum keluar pamitan dulu dengan Habib Lutfi sambil ngobrol-ngobrol di ruangan kerjanya.

Dari niat pamitan ke obrolan, ternyata ada hal yang belum tuntas yang harus dibahas. Tapi karena waktu sudah cukup siang, sekitar pukul 06.30, Pak Dahlan pamitan ke Habib Lutfi dan minta ijin nanti sekitar jam 9 mampir lagi. Walaupun tidak tepat waktu, bergeser sekitar 30 menit rombongan langsung menuju pelabuhan. Ketua KONI Ricsa Mangkulla menelepon saya mengingatkan bahwa waktu sudah siang dan posisi sampai di mana. Saya jawab, menuju pelabuhan, sekarang melewati Kospin Jasa.

Tiba di pelabuhan Walikota menjelaskan bahwa ada tanah sekitar 40 hektar semuanya adalah asset BUMN. Di sana sini terlihat bangunan, ada yang masih berdiri dan beroperasi, ada juga yang sudah mangkrak. Kondisinya tidak terawat. “Saya ucapkan terimakasih kepada Pak Wali yang sudah kasih tahu saya di sini ada asset BUMN. 40 hektar lumayan besar,” katanya.

Pak Dahlan memberi isyarat kepada sopir Alphard P 15 MA Arif Badi Karyawan untuk mundur dan duduk di belakang. Pak Dahlan take over menjadi sopir Alphard dan Pak Wali diminta bergeser duduk di depan. Terjadilah dialog yang seru antara Menteri BUMN dan Walikota Pekalongan.

Pertanyaan Pak Dahlan kepada Walikota Pekalongan adalah, “Punya ide apa, bapak untuk menggunakan tanah yang mangkrak ini?” Dengan cepat Walikota pekalongan dr Basyir Ahmad memaparkan rencananya untuk membentuk Kota Minapolitan, yaitu kota pelabuhan ikan. Dulu Pekalongan adalah lumbung ikan. “Mengapa sekarang tidak,” timpal Pak Dahlan.

“Perubahan tersebut disebabkan beberapa faktor, pertama kapal penangkap ikan yang kecil, sehingga tidak bisa mencari ikan lebih jauh lagi ke tengah laut. Sementara di pinggir laut jumlah ikannya sudah berkurang. Kedua terjadi jual beli ikan di tengah laut. Otomatis ketika mereka pulang sudah membawa uang dan tidak ada lelang ikan lagi. Dan yang ketiga kapal-kapal besar yang memiliki alat pembekuan ikan masih jarang. Sehingga banyak ikan yang busuk ketika merapat ke pelabuhan,” katanya.

“Oke, saya akan kaji usulan tersebut. Ajukan saja surat secepatnya, sehingga kita bisa membahasnya,” kata Pak Dahlan.

Sampai di Stadion Keraton, Pak Dahlan sudah ditunggu oleh sekitar 5000 peserta senam. kebanyakan mereka adalah pelajar, ditambah oleh karyawan BUMN dan karyawan Pemkot. Ketua KONI menyambut di depan pintu gerbang Stadion Keraton yang juga Kantor KONI. “Saya Ricsa Pak Dahlan, saya Ketua KONI Kota Pekalongan,” tuturnya menyambut Menteri BUMN sambil menunjukkan tempat transit.

Sebelum senam Pak Dahlan menghampiri mikrofon dan berkata, “Saya mohon maaf kalau senamnya kurang maksimal, karena saya lagi flu yang belum sembuh-sembuh. Anda semua jangan terpengaruh dengan saya,” katanya. Usai senam dilanjutkan pembagian doorprize Motor Suzuki yang dimenangkan oleh salah seorang siswa SMP. Pak Dahlan dan Walikota didampingi ketua DPRD mendampingi penyerahan.

Setelah foto-foto bersama, perjalanan dilanjutkan menuju pabrik sarung Pismatex. Ricsa Mangkulla yang Ketua KONI dan merangkap direksi Pismatex mohon ijin duduk di kursi depan mendampingi Pak Dahlan. Di perjalanan Pak staf Pak Dahlan BRH sempat membisikkan sesuatu ke saya. “Sep, Novel Sepatu Dahlan kan sudah terbit dan akan dilanjutkan dengan Trilogi Novel lainnya. Penulisnya Krishna Pabichara. Coba kamu buat Novel yang judulnya Sarung Dahlan. Setelah novel itu launching, bisikkin pemilik Pismatex yang di depan itu untuk membuat Sarung Dahlan. Gak pa pa limited edition dulu,” tuturnya.

Ide itu langsung saya sampaikan kepada direksi Pismatex yang dipanggil pemilik Pismatex. “Sangat boleh-sangat boleh. Pak Dahlan kan punya branded. Kalau kita buat sarung dengan merek Sarung Dahlan sebagai bagian dari produk Gajah Duduk kayanya akan laris manis. Jadi namanya Gajah Duduk edisi Sarung Dahlan,” tutur Ricsa yang disambut gelak tawa seisi mobil.

Pak Dahlan dengan Ricsa Mangkulla sendiri di depan terlibat obrolan yang cukup serius. Saya tidak mengikuti secara detil apa yang mereka bicarakan. Sampai di pabrik Pismatex, mobil langsung menuju ke mesin yang terbaru. Pak Dahlan turun dari mobil, bersalaman dan berkeliling pabrik. Mulai dari pembuatan kain, penjahitan, penataan, packing sampai finishing. Widodo, direksi PT Pismatex dengan telaten mendampingi Pak Dahlan dan menjelaskan satu per satu proses pembuatan serung tersebut.

Menjelang berakhir, tiba-tiba Pak Dahlan dihadiahi sarung Gajah Duduk yang sudah dibuka. Tanpa ba-bi-bu, sarung tersebut warna krem kekuning-kuningan tersebut langsung dipakainya. Melihat pemandangan tersebut, fotografer langsung mengabadikan momen langka tadi. Pak Dahlan masih pegang setir dan Ricsa Mangkulla tetap di samping kiri menuju kediaman Habib Lutfi lagi. “Kalau sebelah kanan Menteri BUMN, sebelah kirinya itu Wamen,” canda Ricsa kepada direksi Pismatex yang lain.

Di Habib Lutfi tidak terlalu lama, hanya sarapan pagi kemudian mendapatkan cenderamata buku. Pak Dahlan sangat senang mendapatkan buku-buku tersebut. Pak Dahlan di Pekalongan hanya beberapa saat lagi. Tugas protokoler dadakan akan segera berakhir. Tapi saya tetap mendampingi beliau ke Semarang. Di jalan memang agak tersendat, terutama di daerah Brangsong, Kendal. Belum lagi lepas Terminal Mangkang, truk besar, kontainer dan kendaraan besar lainnya tidak bisa dipaksa-paksa untuk cepat.

Dari Undip sudah menelepon apakah Pak Dahlan jadi ke Undip. Pak Dahlan terlihat sangat kelelahan dan belum bisa diajak komunikasi, disamping memang waktunya sudah tidak nyandak lagi untuk ke Undip. Kalau memaksakan ke Undip, bisa ketinggalan pesawat. Gus Amik memutuskan untuk tidak bisa ke Undip dan hanya teleconference saja. Ketika Pak Dahlan terbangun proses teleconference pun berlangsung. Mungkin Undip kecewa, tapi gimana lagi. (Bersambung)

*) Penulis GM Radar Pekalongan

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/429561807078905/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: