Beranda » Ade Asep Syarifuddin » 24 Jam Bersama Dahlan Iskan (9/habis)

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (9/habis)

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (9/habis)
Ade Asep Syarifuddin

SMS Subuh dari Singapore

TIBA di Bandara, Pak Dahlan turun dari mobil tanpa alas kaki menuju kantor GM Angkasa Pura Semarang. Sarung krem dari Pismatex menutup kepalanya. Dia mencari kursi yang agak panjang dan membaringkan tubuhnya untuk istirahat sejenak. Saya bawakan sepatu dan kaos kakinya kemudian ditaruh di samping sofa. Sepanjang perjalanan tubuhnya demam. Menjelang tiba di Mangkang, Semarang, Pak Dahlan menyandarkan kakinya di pangkuan saya. Saya memijat sebisanya, serasa kepada ayah sendiri.

Dulu waktu saya kecil saya sering disuruh ayah (saya memanggil bapak) untuk memijat tubuhnya kalau kecapekan. Hanya bentuk pijatannya bukan dengan tangan, tapi menginjak-injak seluruh tubuh turun naik-turun naik. Menarik jari-jari tangan dan jari kaki satu per satu sampai berbunyi klik…. Saya lakukan dengan senang karena seperti main-main saja.

GM Angkasa Pura, Priyo Jatmiko terlihat panik. Mondar-mandir ke sana kemari mencari informasi penerbangan yang lebih cepat. Air putih hangat sudah disediakan di atas meja di samping Pak Dahlan yang berselimutkan sarung. Satu…dua teguk air tersebut diminum. Terlihat nafas dan batuknya agak reda. Tapi beberapa saat kemudian batuknya kumat lagi.

“Ada obat batuk gak ya,” tanya Pak Dahlan kepada kami. Nampaknya kepala Pak Dahlan juga terasa sakit tak terkira. Padahal dia tidak bisa minum obat sembarangan. Apalagi obat warungan. Semuanya harus sepengetahuan dokter. Untungnya obat yang dipesan tidak sesuai dengan yang Pak Dahlan maksud. Gagallah obat tersebut dikonsumsi.

Melihat Pak Dahlan tergolek lemas di atas shofa, saya hanya bisa melihat dengan tatapan kosong. Saya sudah merasa bahwa saya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk meringankan beban sakitnya. Untungnya pesawat yang ditunggu segera datang dan Pak Dahlan cek in dan boarding melalui pintu umum. Pesawat Garuda pun membawa terbang Pak Dahlan ke Jakarta, ditemani Pak BRH dan Arif Badi Karyawan.

SMS dan telepon datang dari sana sini. Kabar sakitnya Pak Dahlan dengan cepat menyebar ke mana-mana, dari ujung barat Republik ini sampai ke ujung timur. Saya dapat pesan dari Gus Amik supaya merahasiakan sakitnya Pak Dahlan. SMS, BBM dan telepon yang masuk yang menanyakan tentang kabar Pak Dahlan saya jawab datar-datar saja. “Pak Dahlan baik-baik saja, saya mengantar sampai Bandara A. Yani Semarang kemudian terbang ke Jakarta.”

Tapi running text di salah satu televisi swasta dan berita online yang cepat membuat saya tidak bisa lagi berbohong kepada yang menanyakan kesehatan Pak Dahlan. Sudah saya tutup-tutupi tetapi di media jebol juga. Orang yang tanya sekadar konfirmasi, benar atau tidak running rext di televisi yang dibaca bahwa Pak Dahlan sakit.

Ada yang mau besuk ke RS Kariyadi Semarang, karena mendengar kabar demikian. Bahkan GM Telkom Divre IV sudah siap-siap untuk membesuk. Yang tahu persis kondisi adalah Dirut Kawasan Industri Wijayakusumah (KIW) Semarang, Djayadi dan Dirut PTP IX Adi Prasongko. Mereka berdua mengantar sampai kantor GM Agkasa Pura Semarang.

Saya pulang ke Pekalongan dengan perasaan kurang tenang. Begitu gigih Pak Dahlan ke sana kemari bertemu dengan banyak orang untuk berbagi cerita, berbagi semangat, berbagi pengalaman dan berbagi segalanya. Bahkan sampai kurang istirahat, kurang makan. Dia lakukan dengan tulus dan ikhlas untuk kemajuan bangsa ini. Sebelum ke Pekalongan kabarnya Pak Dahlan ada kunjungan ke Aceh. Lumayan jauh dan menyita pikiran dan tenaga yang cukup besar.

Tiga hari kemudian, Selasa 11 September kawan saya GM Radar Tasikmalaya Dadan Ali Sundana telepon pukul 04.00. Saya kaget. “Tadi Pak Dahlan minta nomer Pak Asep. Barangkali ada perlu dan beliau telepon. Ini nomornya,” kata Dadan.

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi sms pukul 04.50. Ternyata betul dari Pak Dahlan. Sewaktu saya diberi nomor tadi, langsung saya save dan beri nama Dahlan Iskan. Bunyi sms tersebut kira-kira, “Kang Ade, tolong diforward ke Pak Kyai Ponpes Syafii Akrom Pekalongan. Saya sudah bicara dengan Bapak Menteri Perumahan. Beliau tetap mau bangun rusun di Pesantren Syafii Akrom Pekalongan tahun ini juga. Tapi sampai saat ini secara administrasi belum pernah ada permohonan resmi dari Syafii Akrom. Tolong diajukan minggu ini lengkap dengan luas tanah dll dan sebutkan juga bahwa sudah ada jalan, listrik, air dan keunggulan-keunggulan pesantren lainnya. Saya lihat pesantren dengan luas tanah 3,5 Ha sangat memenuhi syarat dibantu rusun. Cc Bapak Menpera.”

Beberapa jam kemudian setelah saya menjawab, Pak Dahlan sms lagi. Isinya, “Ini sms Menpera: Untuk mempercepat, apa boleh saya di sms dulu nama kyai, no hp, alamat lengkap pesantren supaya bisa langsung disurvei minggu ini. Salam Faridz.” SMS tersebut saya langsung forward juga ke Pak KH Yasir Maqosid sebagai pengasuh Ponpes Syafii Akrom.

Saya termenung pagi itu. Saya masih berpikir Pak Dahlan masih sakit dan istirahat di Singapore. Tapi di sana malah tetap melakukan aktifitas dan bekerja, walaupun fisiknya bisa jadi diam. Tapi HP dan Blackberry yang dia pegang tidak mungkin nganggur begitu saja. Informasi tetap berseliweran ke sana kemari dan menyelesaikan PR-PR negeri ini yang begitu banyak.

Waktu 24 jam itu bisa terasa lama, bisa juga terasa sebentar. Tapi saya baru kali ini melakukan waktu 24 jam benar-benar efektif dilakukan untuk hal-hal yang bermanfaat saja. Tidak ada waktu santai, apalagi berleha-leha. Yang ada adalah pertanyaan, sekarang harus ke mana? Apakah sudah selesai acaranya? Ingatkan Pak Dahlan akan acara berikutnya.

CEO Radar Cirebon grup, Pak Yanto pun menceritakan pengalamannya di Singapore mengantar Pak Dahlan. “Pak Dahlan hanya butuh istirahat dan tidak diganggu oleh siapapun. Kalau dirawat di Indonesia, tamu yang datang ribuan jumlahnya untuk besuk. Bukannya istirahat, malah menjadi tuan rumah di rumah sakit. Pilihan berobat di Singapore bukan apa-apa, tapi memang di sanalah tempat yang pas untuk istirahat. Dan yang jelas tidak akan ada yang mengganggu, siapapun,” katanya.

Sehari kemudian tepatnya Rabu 12 September pukul 10.54, saya sms-an dengan Protokol BUMN, Samsu Widiarto mengabarkan bahwa Pak Dahlan hari itu sudah bisa pulang dari Singapore.

Saya sangat senang, sangat bahagia. Hari-hari yang mendebarkan sudah berlalu. Kini tinggal semangat yang tinggi untuk menjadi seperti beliau yang telah berbagi spirit dan fondasi hidup ini agar selalu kuat menghadapi kondisi apapun dengan keyakinan yang tinggi. Sukses selalu buat Pak Dahlan. You are my Inspiration. (Habis)

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/429861660382253/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: