Beranda » Zaini Ahmad » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (1)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (1)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (1)

FAKTOR PERTAMA: INTEGRITAS (IQ)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (1)Menarik membaca buku “PEMIMPIN MASA DEPAN” karangan TB Silalahi, Jenderal dan pengajar senior yang dijuluki ‘Gurunya Para Jenderal. Di dalamnya mengupas teori kepemimpinan dan syarat-syarat menjadi seorang pemimpin negarawan. Syarat pertama yang dibahas adalah ‘Integritas’. Saya mencoba memahami dan menjadikannya kerangka tulisan panjang ini.

Integritas secara ideal adalah seseorang yang mempunyai kualitas yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip moral, kebenaran, kejujuran. Yang mempunyai integritas disebut “Men of Honor” seseorang yang menjunjung tinggi kehormatan dirinya, kehormatan lembaganya, kehormatan bangsanya. Orang-orang yang seperti inilah yang mempunyai kualitas untuk menjadi seorang negarawan.

Bagaimana dengan Dahlan Iskan yang menjadi cover buku ini? Anda bisa menilainya dari testimonial Dahlan ini:
——

Kembali ke Jakarta saya tidak ikut pesawat kepresidenan. Saya singgah sebentar di pulau lain yang jaraknya setengah jam penerbangan pesawat kecil. Di sini saya kaget. Kok ada karyawan PLN yang tahu saya singgah di situ. Ternyata karyawan itu datang ke bandara hanya untuk menyerahkan oleh-oleh yang rupanya tidak sempat diberikan saat kunjungan saya kesana dua bulan sebelumnya. Mungkin karyawan PLN setempat menyesal mengapa dalam kunjungan dulu tidak memberikan oleh-oleh yang menjadi kebanggaan wilayah itu : mutiara. Daerah ini adalah penghasil mutiara yang terbesar di Indonesia.

Semula saya tidak tahu hadiah apa yang diserahkan itu. Bungkusnya amat kecil. Tentu saya bertanya apa gerangan isinya. Seperti sudah saya kemukakan berkali-kali saya tidak mau menerima oleh-oleh yang berharga. Ketika saya tahu isinya mutiara, saya harus bertanya berapa harga oleh-oleh itu di toko. Mula-mula karyawan tersebut tidak mau membuka. Saya terus mendesak. “Kalau Anda tidak mau mengatakan berapa harganya, saya tidak akan mau menerima ini,” kata saya
Akhirnya saya tahu harga mutiara itu Rp 2 juta. Saat itu juga saya kirim SMS ke staff di Jakarta yang selama ini juga memegang uang pribadi saya. “Kirimkan uang Rp 2,5 juta,” kata saya. Maklum saya jarang membawa uang lebih dari Rp 500 ribu. Pengiriman uang itu juga saya beritahukan ke atasan mereka yang lebih tinggi agar lain kali tidak perlu menyiapkan oleh-oleh semacam itu.

—-

Ada fakta lain  tentang integritas Dahlan. Beberapa minggu menjadi dirut PLN, Dahlan langsung mengundang KPK untuk terlibat dalam internal pengawasan PLN. PLN adalah BUMN pertama yang melakukan ini. Dahlan juga menandatangani MOU dengan BPK dan BPKP. Bahkan, ketika ada tuduhan dari beberapa anggota DPR bahwa ada kasus korupsi di PLN, Dahlan langsung mendatangi KPK dan menyerahkan berbagai dokumen tender. Mungkin hanya Dahlan seorang yang digosipkan korupsi tapi langsung mendatangi KPK agar kasus itu diusut tuntas. Dahlan tahu benar pentingnya menjaga kehormatan diri dan lembaganya.

Integritas memilik tiga komponen atau unsur. Unsur-unsur itu dikenal dengan Intelligence Quotient (IQ), atau nilai kecerdasan intelektual. Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emotional. Dan terakhir Spiritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spiritual.

Kecerdasan intelektual bisa didapatkan dari pendidikan formal maupun informal. Dahlan adalah tipe orang yang cerdas secara otodidak. Cerdas karena belajar sendiri. Lulusan pesantren (aliyah) tapi laporannya saat kapal Tampomas tenggelam menciptakan standar baru penulisan reportase di Indonesia. Tiga hari tiga malam menumpang kapal motor Sangihe, Dahlan menjadi satu-satunya wartawan yang meliput langsung musibah itu. Banyak orang menyebut, reportase Dahlan tahun 1981 itu merupakan cikal bakal gaya penulisan Majalah Tempo.

Kalau tidak cerdas bagaimana mungkin seorang lulusan pesantren bisa mengubah Jawa Pos, koran yang hampir mati dg opah 6 ribu eksemplar menjadi Jaringan media terbesar di Indonesia. Mampu menyelesaiakan masalah listrik yang menggunung selama puluhan tahun hanya dalam waktu 22 bulan saat memimpin PLN. Tanpa IQ yang tinggi seorang Dahlan pasti tidak mampu mengelola 141 perusahaan BUMN dengan lebih dari 400 anak dan cucu perusahaan yang aset lebih dari 3000 triliun. Buktinya di bawah Dahlan, BUMN-BUMN berlari kencang membangun negeri. Berbagai terobosan dilakukan. Citra BUMN sebagai mesin uang partai politik tiba-tiba hilang begitu saja.

Kecerdasan Dahlan membuatnya menjadi seorang problem solver yang teruji. Di Jawa Pos, saat menghadapi kebuntuan tidak ada agen koran yang mau memasarkan korannya, dia membuat terobosan karyawan merangkap menjadi agen koran. Hasilnya jaringan agen kuat dan militan terbentuk dan jadi tulang punggung distribusi dan promosi Jawa Pos hingga saat ini. Di PLN, ketika begitu banyak keluhan pelanggan, dia memutuskan mengeluarkan produk listrik pra bayar yang mampu menjawab 14 dari 20 keluhan umum pelanggan. Hasilnya Indonesia sekarang menjadi negara dengan pelanggan listrik pra bayar terbesar di dunia. Nyaris 10 juta pelanggan dalam 3 tahun, jauh meninggalkan Afrika Selatan di peringkat ke-2 dengan 4 jutaan pelanggan.

Ketika memimpin BUMN, kita disuguhi pertunjukan ‘problem solving’ yang lebih banyak lagi dari seorang Dahlan Iskan. Seorang penerobos kebuntuan melalui keputusan-keputusannya sebagai menteri. Tol Bali yang mangkrak 5 tahun lebih karena masalah harga tanah yang kelewat mahal (7jt/meter), langsung jadi dalam waktu 14 bulan setelah diputuskan dibangun di atas laut. Tol Trans Sumatera yang puluhan tahun berhenti sebagai ide, tahun ini akan grounbreaking setelah Dahlan membuat satu terobosan: akan dibuat Jasa Marga propinsi dimana sahamnya dimiliki oleh jasa marga dan pengprov masing-masing daerah sesuai kemampuan. Untuk penghematan, sedapat mungkin jalur tol dibangun diatas tanah milik PTPN sehingga tak perlu pembebasan tanah.

Impor terigu diimbangi dengan penanaman sorgum, impor garam dikurangi dengan membranisasi ladang, impor sapi di lawan dengan program sapi sawit di Jambi, sapi savanah di NTT, sapi kombong terintegrasi di Sidrap Sulawesi, dan rencana pembelian peternakan sapi di Australia. Impor buah akan dibalas dengan Revolusi Oranye, impor beras mau distop dengan program pembukaan lahan 100.000 hektar di Ketapang atau yang biasa disebut Food Estate. Dan masih banyak lagi terobosan BUMN yang lain hanya dalam waktu 1,5 tahun.

Prof. Reinald Kasali menyebut kepemimpinan Dahlan adalah kepemimpinan yang otentik. Sementara RJ Lino Dirut Indonesia Port Corporation malah menyebutnya lebih bombastis. “Kalau ada cara berpikir ‘out of the box’, pak Dahlan ini ‘without the box’ berpikir tanpa ada kotak” kata Lino.

Einstein mengatakan ” Creation is more than knowledge”. Kreatifitas itu lebih penting dari pengetahuan atau ilmu yang diperoleh dari pendidikan formal. Praktek lebih penting dari teori. Kita bisa menyebut Dahlan Iskan sebagai “Man of Action’. (bersambung)

Selanjutnya: Emotional Quotient (EQ) Dahlan Iskan

http://sosok.kompasiana.com/2013/07/25/menimbang-dahlan-iskan-jadi-presiden-1-576563.html


1 Komentar

  1. @ndokaja mengatakan:

    Vote Dahlan Iskan for RI-1 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: