Beranda » Zaini Ahmad » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (2)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (2)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (2)

FAKTOR PERTAMA: INTEGRITAS (BAGIAN 2: EQ)
Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (2)Tapi punya kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menjadi seorang pemimpin ideal. Bahkan kecerdasan intelektual yang tinggi kalau dipunyai seorang pemimpin yang mengandalkan power bisa sangat berbahaya. Sejarah mencatat begitu banyak pemimpin cerdas yang berakhir menjadi seorang diktator. IQ harus didampingi Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional sebagai pengawas dan pengendali.

Menurut Howard Gardner, terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon, bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.

Dari segi EQ, terlihat bahwa Dahlan adalah orang yang berada dalam kematangan emosional. Pada awal kedatangannya di PLN, Dahlan disambut demo karyawan, spanduk dan poster dengana neka macam kalimat ada dimana-mana. Tapi Dahlan tetap tenang, terus bekerja dan mengatur strategi ke depan.

Meskipun dia didemo dan banyak poster-poster yang tergelar di dinding gedung, Dahlan tetap tenang bahkan meminta seluruh karyawan berkumpul. Seorang diri dia mendatangi mereka yang tengah berdemonstrasi memenuhi ruang auditorium di lantai dasar gedung PLN Pusat. Dia menantang karyawan yang berdemonstrasi untuk berargumentasi , apa gerangan alasan mereka menolak dirinya., tetapi tidak seorang pun karyawan yang berbicara. Dahlan kembali ke ruang kerjanya, karyawan pun bubar tanpa suara. Dua minggu kemudian, suasana mulai mencair, khususnya ketika Dahlan diminta menjadi Imam Shalat Jumat. Sebagai santri lulusan pesantren, Dahlan dengan piawai memimpin Sholat Jumat. Sebulan setelah dilantik, secara sukarela spanduk-spanduk diturunkan dan tidak ada lagi penentangan terhadap Dahlan Iskan. (“Indonesia, Habis Gelap Terbitlah Terang, h. 19-23)

Cerita lain soal kematangan emosi Dahlan, bisa kita baca di status facebook Nanik S Deyang, seorang pengusaha media yang bersahabat dengan Dahlan Iskan.

Sore tadi kami bercerita seru dengan Pak Dahlan soal kehidupan, bermacam-macam hal kami bahas. Lagi seru-serunya kami cerita, tiba HP Pak Dahlan bergetar dan ternyata telepon dari sang istri tercinta. “Terimakasih..terimakasih Ding (panggilan pak Dahlan pada istrinya). Marah harus dibuang dan dihilangkan ..he..he.,” tutur Dahlan pada istrinya. Dahlan kemudian bercerita …”Deyang, istri saya barusan pulang menengok dari rumah sakit dan membawa duit untuk orang yg diceritakan Linda Djalil kemarin waktu ketemu saya,” kata Dahlan. Alkisah ada bekas petinggi Jawa Pos yg saat ini sakit keras , orang ini pernah menghujat Dahlan habis-habisan, singkat cerita Pak Dahlan benar2 pernah dikuliti oleh orang ini. Sebagai manusia Dahlan sempat sakit hati, kecewa dllnya. Namun saat bertemu wartawan senior Linda Djalil dalam reuni Tempo beberapa hari lalu, Dahlan pun trenyuh dan luluh. Segala kemangkelan di hatinya lenyap, manakala mantan anak buahnya ini harus cuci darah dan membutuhkan biaya besar. “Saya suruh istri saya ke Rumah Sakit. Tadinya dia gak mau, ya mungkin istri saya lebih marah dari saya, tapi saya desak dan barusan lapor sdh ke rumah sakit dan bawa uang,” kata Dahlan matanya menerawang. Saya bertanya, bagaimana dia yg “dihabisi ” bahkan nyaris hancur oleh orang tersebut, tapi bisa memaafkan, dan bahkan malah membantu? Dahlan menjawab…” Dari dia saya belajar kehidupan untuk tidak menyakiti orang lain ,” katanya..Maksudnya? …” Ya karena saya pernah disakiti, dan disakiti itu kan tentu sakit banget, maka saya bertekat untuk tidak menyakiti orang dan bicara jelek tentang orang lain, cukup berhenti di saya saja yg merasakan sakit…”kata Dahlan tenang….saya terdiam …melihat sy terdiam Dahlan melanjutkan memberi wejangan pada saya…”Deyang setiap hari pasti ada orang yg tidak suka atau membenci kita dengan berbagai alasan, kalau kita tidak memaafkan, betapa banyaknya musuh kita…”katanya tertawa. Ya Rab , rasanya memang sy harus lebih banyak lagi belajar kehidupan dari Dahlan, dan orang2 seperti Dahlan yg tdk pernah mau menumpuk persoalan dalam hati, dan berfikir positive ….mbak Linda Djalil , tadi secara becanda Pak dahlan bilang…”untung Anda Linda Djalil yg mengingatkan saya, dan meminta saya memaafkan…” ..semoga kawan Mbak Linda cepat sembuh ya….

Lalu bagaimana kecerdasan emosional Dahlan sebagai pemimpin yang berhubungan dengan anak buahnya? Dalam sebuah CEO Notes, Dahlan pernah menulis:

Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek.
Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi.
Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan.
Orang yang terlalu sering diberi pidato kelak hanya bisa minta petunjuk.

Dari tulisan itu kita bisa menilai prinsip kepemimpinan apa yang dipraktekkan Dahlan. Sebuah prinsip leadership yang memberi ruang luas bagi anak buahnya untuk memaksimalkan potensi berdasarkan kewenangannya. Tidak heran, seminggu setelah diangkat menjadi menteri BUMN, Dahlan memutuskan untuk mengembalikan 18 kewenangan menteri kepada direksi BUMN. Kebijakan baru itu diharapkan bisa memangkas birokrasi dan membuat aksi korporasi BUMN berjalan lebih cepat.

Dahlan juga tipe pemimpin yang memimpin dengan memberi contoh. Taufik Lamade punya pengalaman pribadi yang tak bisa dilupakan. Peristiwa itu terjadi pada 1995 saat kantor pusat Jawa Pos di Surabaya masih berada di jalan Karah Agung. Tof -begitu dia biasa disapa tidur di kantor. Ketika bagun pagi, dia mendengar suara orang tengah menyapu lantai kantor. “Saya penasaran siapa yang menyapu pagi-pagi. Ternyata Pak Dahlan yang lagi menyapu itu,” katanya.

Selama puluhan tahun berkarir di Jawa Pos dan mengikuti Dahlan dalam sejumlah kesempatan, Tof juga tahu kebiasaan Dahlan yang lain. Dahlan memang sangat peduli dengan kebersihan toilet kantor-kantor yang menjadi grup Jawa Pos. Bahkan, toilet menjadi tempat pertama yang dilihat Dahlan kalau berkunjung. “Bagi Dahlan kalau toilet bersih berarti kantor ini klir,” tegasnya.

Kalau kemudian toiletnya kotor, Dahlan tidak marah, tapi akan langsung mencari sikat untuk membersihkan toilet itu. Bayangkan bagaimana reaksi anak buahnya yang ada di kantor itu.

Kalau memang punya kematangan emosi kenapa marah-marah di pintu tol? Ternyata kemarahan itu timbul karena Dahlan sudah berkali-kali menginstruksikan Direksi Jasa Marga untuk meningkatkan pelayanan, tapi nyaris tidak ada perbaikan. Sepertinya Dahlan lewat tindakannya bermaksud ‘menjewer’ direksi Jasa Marga yang dinilainya ‘bandel’.

“Dulu saya cuma bisa mengeluh. Sekarang ketika itu menjadi kewenangan saya, saya tidak bisa cuma mengeluh. Saya harus langsung bertindak” ujar Dahlan dalam sebuah acara. (bersambung)

Selanjutnya: Spiritual Quotient (SQ) Dahlan Iskan

http://sosok.kompasiana.com/2013/07/26/menimbang-dahlan-iskan-jadi-presiden-2-576861.html


2 Komentar

  1. […] Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (2) […]

  2. @ndokaja mengatakan:

    Vote Dahlan Iskan for RI-1 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: