Beranda » Zainal Muttaqin » Kai Dahlan

Kai Dahlan

Catatan Zainal Muttaqin

Jumat, 28 Juni 2013

Zainal MuttaqinSehari sebelum berangkat ke Madinah dan Makkah untuk berumrah, Minggu malam 16 Juni lalu, saya menemui Pak Dahlan Iskan. Saya mendapat kabar, beliau sedang di Surabaya, setelah menghadiri sebuah kegiatan di Pesantren Darul Muttaqin. Sudah sekitar dua bulan saya tidak bertemu Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kian sibuk dengan kegiatan yang makin padat, yang di lingkungan Jawa Pos biasa disapa dengan “Pak Bos” itu.

Pak Dahlan memang sudah pensiun dari Jawa Pos. Namun selaku unsur direksi di Jawa Pos Holding, saya merasa sangat perlu mendiskusikan kegiatan-kegiatan usaha Jawa Pos Group, demi mendapatkan pencerahan. Awal Juli nanti kami melakukan evaluasi kinerja koran-koran dalam jaringan Jawa Pos Group (JPG). Tempatnya sudah diputuskan; di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pada pertemuan yang dihadiri semua pimpinan usaha JPG ini biasanya kami mendiskusikan banyak hal.

Maka pada jam 21.00 Minggu malam itu saya sudah berada di rumah Pak Dahlan, di kawasan Ketintan, Surabaya. Lewat pintu kaca bening penyekat ruang keluarga, saya melihat Pak Dahlan sedang asyik bercengkerama dengan empat balita. Cucu-cucu beliau.

Melayani semua keinginan para cucu, wajah beliau tampak riang-gembira. Tak tergambar sedikit pun kelelahan, setelah seharian menjalankan tugas-tugas sebagai menteri BUMN. Minggu pagi memberikan kuliah subuh di salah satu pesantren di Serang, Jawa Barat. Setelah itu, seperti biasa, senam pagi bersama ribuan warga setempat. Lalu menghadiri sebuah kegiatan di sela rapat kerja direksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

Siangnya, pukul 12.00, meluncur ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, untuk terbang ke Surabaya jam 14.00. Pada jadwal kegiatan yang saya ketahui lewat BlackBerry Messenger (BBM) ajudan beliau, tergambar pula kegiatan di Pesantren Darul Muttaqin di kawasan Manukan, Surabaya Barat.

Malam itu Pak Dahlan melayani ajakan Ayrton Ananda, salah seorang cucu, dengan senyum yang terus mengembang.

“Kai harus tidur di hotelku, karena nama kai sudah ada di daftar tamu,” kata Ayrton sambil menggandeng tangan sang kakek. Meski masih bersekolah di taman kanak-kanak, Ayrton sudah bisa menulis dengan benar semua nama saudara sepupunya yang saat itu jadi teman sepermainan.

Semua cucu memanggil “kai” kepada Pak Dahlan, dan kepada Bu Dahlan mereka memanggil “nini”. Kata “Kai-nini” berasal dari bahasa Banjar. Artinya “kakek-nenek”. Malam itu Bu Dahlan menyaksikan ulah para cucu sambil menghilangkan penat lewat pijatan tukang pijat.

“Hotel” milik Ayrton ternyata adalah sekatan kursi-meja yang disusun sedemikian rupa. Pak Dahlan menurut, “tidur” di sana. Selesai? Belum! Berikutnya giliran Icha yang menggandeng sang kakek. Putri sulung Isna Dahlan ini “menugasi” beliau menyanyi dan menari.

Tampaknya Icha mewarisi darah seni dari sang ayah yang pemusik. Pak Dahlan saat ini mendapatkan enam cucu dari dua anak. Dari Azrul Ananda mendapatkan tiga cucu, dari Isna juga tiga cucu. Ayrton adalah putra sulung Azrul.

Empat cucu yang mengajak Pak Dahlan bermain malam itu seolah tak ingin berhenti bermain-main dengan sang kai, meskipun jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.30. Tapi bocah-bocah inilah yang mampu menghentikan sejenak aktivitas Pak Dahlan sebagai Menteri BUMN.

Pernah suatu malam di Jakarta, ketika sedang berbincang dengan saya, telepon berdering. Bunyi dari seberang sana samar-samar saya dengar. Pendek saja, “Kai kapan pulang?” –ya, memang panggilan telepon dari salah satu cucu beliau.

Seketika itu juga Pak Dahlan bersama ibu meluncur ke bandara untuk terbang ke Surabaya. “Kalau masih mau ngobrol, kita lanjutkan di perjalanan,” kata Pak Dahlan kepada saya. Namun karena saya masih harus mengikuti sebuah rapat keesokannya, maka saya berpisah dari Pak Dahlan di apartemennya, di dekat Pacific Place. Pak Dahlan tidak menempati rumah dinas menteri di kompleks Widya Chandra Jakarta.

Sejatinya Pak Dahlan memang sangat menyayangi anak-anak. Saya tahu itu berkat sejumlah pengalaman. Saat beliau ajak mengunjungi kota-kota di Indonesia tak jarang kami bertemu anak-anak balita di jalan. Pak Dahlan hampir selalu mendekati, mengajak bercanda dan menggendong mereka.

Dua bulan lalu, misalnya, Pak Dahlan melakukan perjalanan keliling Kalimantan Selatan. Saya duduk di belakang kemudi mobil selama perjalanan di provinsi itu. Pagi-pagi beliau meminta sarapan di rumah nenek saya di Rantau, ibu kota Kabupaten Tapin, sekira 100 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Beberapa saat setelah tiba di rumah yang dihuni saudara sepupu saya itu, tiba-tiba terdengar suara balita menangis. Beliau langsung mendatangi dan menggendong. Si balita langsung berhenti dari tangisnya. Pak Dahlan pun sarapan sambil memangku si balita. Terus begitu. Sampai beliau selesai makan.

http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/23762/kai-dahlan.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: