Beranda » Zaini Ahmad » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (3)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (3)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (3)

FAKTOR PERTAMA: INTEGRITAS (BAGIAN 3: SQ)
Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (3)Setelah kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional, unsur terakhir integritas adalah Spiritual Quotient (SQ). Danah Zohar, dalam bukunya yang berjudul SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, menilai bahwa kecerdasan spiritual merupakan bentuk kecerdasan tertinggi yang memadukan kedua bentuk kecerdasan sebelumnya, yakni kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang tertinggi karena erat kaitannya dengan kesadaran seseorang untuk bisa memaknai segala sesuatu dan merupakan jalan untuk bisa merasakan sebuah kebahagiaan.

Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya  secara rasional dan atau emosional saja. Tapi dia menghubungkannya dengan makna  kehidupan secara spiritual yaitu melakukan hubungan dengan pengatur kehidupan. Ikhtiar sekaligus tawakal.

Dahlan Iskan dididik dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren milik keluarga ibunya, yaitu Pesantren Sabilil Muttaqin di Magetan. Melanjutkan ke IAIN Samarida tapi tidak tamat. Menurut Dahlan pelajaran yang didapatkan di bangku kuliah sudah dipelajarinya di pesantren.

Keluarga kami mengamalkan tarekat, ilmu tasawuf, aliran minoritas: Syatariyah. Ajaran yang selalu mengingatkan perlunya menyadari “sangkan paraning dumadi’, dari mana kita berasal dan akan kemana kita nanti setelah mati. Ajaran ini mengutamakan perlunya latihan keikhlasan dalam hidup sehari-hari. Latihan ikhlas ini penting (melalui zikir hu dalam sebuah ritual mujahadah, zikir pidak, dan laku zuhud). Jemaah Syatariyah diajarkan ikhlas yang sebenar-benar ikhlas, karena suatu saat nanti manusia harus bisa mengikhlaskan barang miliknya yang paling berharga: nyawa. Menyiapkan diri untuk menghadapi skaratul maut adalah tujuan tertinggi lewat berlatih ikhlas secara sungguh-sungguh.

 

Bukan main sulitnya berlatih ikhlas ini. Tingkat kesulitannya digambarkan dalam ajaran tarekat Syatariyah yang dirumuskan dalam bahsa jawa ini: rumpil margane, abot sanggane, gedhe pangorbanane, sampurno wusanane.

 

Begitu sulit jalan menuju ikhlas. Tapi, sesulit apa pun harus dijalani, karena tujuan akhir yang sangat mulia: kematian yang sempurna, yang dalam istilah modern sering disebut khusnul khatimah. Khusnu khatimah begitu mudah diucapkan, namun jalan menuju ke sana tidak semudah mengucapkanyya: rumpil, dalam bahasa jawa tidak hanya berarti sulit tapi juga mengandung arti tambahan berbahaya. Abot sanggane berarti beban yang sangat berat karena bisa jadi latihan ikhlas itu memberi beban sampai ke kebatinannya. Bahkan, masih harus ditambah pengorbanan yang besar. Saya melihat tiga sosok yang menghayati semua itu: Ayah saya, ibu saya, dan seorang sufi yang masih tergolong keluarga bernama Mbah Sihu. (Dahlan Sang Pendobrak, h. xi – xii)

 

Pendidikan masa kecil itu ternyata dengan sangat kuat membentuk karakter Dahlan seperti yang kita lihat sekarang ini. Sebagai seorang media mogul yang memiliki salah satu jaringan media terbesar di Indonesia, dia hidup dengan sangat sederhana. Menteri yang juga orang terkaya no.93 di Indonesia, dengan kekayaan ditaksir mencapai US$ 370 juta ini hidup di apartemen standar tanpa pembantu bersama istrinya. Rumahnya di Surabaya pun berada di perumahan biasa dan sering kebanjiran. Dalam kesehariannya, lebih sering memakai kaos gratisan dengan berbagai logo sponsor selain baju putihnya yang khas. Beberapa sumber mengatakan warna putih itu dipilih karena mengingatkannya pada kematian.

 

Ada kebiasaan Dahlan yang unik setiap berkunjung ke daerah. Sedapat mungkin Dahaln menginap di pesantrean dibanding di hotel atau penginapan yang disediakan.
lnilah jawaban Dahlan lskan ketika ditanya mengenai kebiasaannya tersebut, “Saya dipercaya untuk menjaga aset negara yang bernilai 3000 Triliun. Dan dengan dukungan suasana pesantren akan membuat saya terjaga dan merasa damai, membuat saya terbebas dari perasaan tamak, rakus dan maksiat lainnya” [sumber: sumut pos 23-06-2012]

Keputusan-keputusan berdasarkan pertimbangan spiritual juga banyak kita jumpai dalam kisah hidup Dahlan. Salah satunya adalah saat Dahlan memutuskan untuk melakukan transplantasi hati karena levernya sudah digerogoti kanker ganas. Dalam kebimbangan melakukan transplantasi atau tidak, Dahlan teringat sebuah firman. “Afalaa Ta’qilun” Apakah engkau tidak berpikir? Lalu dengan akalnya Dahlan mantap memilih melakukan transplantasi. “Tanpa transplantasi, saya mati dengan cepat, dengan transplantasi saya masih punya peluang untuk hidup lebih lama, meskipun presentase keberhasilannya juga tidak banyak”

Menariknya, Pada saat didorong menuju ruang operasi, terjadi perdebatan panjang di benak Dahlan tentang doa apa yang harus dia ucapkan.“Waktu terus berjalan. Perdebatan di hati saya belum selesai. Padahal, kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan, terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup, hidupkanlah! Selesai. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. Plong. Kereta pun tiba di depan ruang operasi.” (“Banyak Yang Doakan Panjang-Panjang, Saya Berdoa Pendek.”) Doa ini mencerminkan sebuah kepasarahan total, keikhlasan untuk kehilangan sesuatu yang paling berharga yaitu nyawanya.

Akhir-akhir ini sikap Dahlan yang selalu bersandar atas dasar hukum/petunjuk Tuhan itu sering terdengar, terutama berkaitan dengan isu pencapresan. Disaat kandidat lain menjawab petanyaan tentang masalah capres ini dengan jawaban optimis seperti “ Saya siap jadi presiden demi bangsa”, atau jawaban diplomatis “Saya sih tergantung bagaimana rakyat, kita lihat saja nanti”, atau jawaban loyal “ Saya serahkan pada keputusan ibu/bapak ketua partai”, Dahlan dengan konsisten menjawab pertanyaan capres itu dengan jawaban yang mirip pada setiap kesempatan: “Saya percaya takdir”. “ Jadi Presiden terserah takdir saja”.“Capres itu takdir Allah”. Sampai yang paling baru “ Kalau ditakdirkan jadi Presiden, saya terima”

Perpaduan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual inilah yang menjadi  kekuatan karakter seorang Dahlan Iskan. Karakter yang terbentuk dari pengalaman panjangnya sebagai seorang santri, wartawan yang mencatat berbagai masalah bangsa sejak tahun 70-an, seorang pengusaha yang membesarkan usahanya dari nol dengan kerja keras, lalu menjadi birokrat yang melakukan banyak terobosan baik di PLN maupun di BUMN.

Apakah integritas seorang pemimpin dengan unsur-unsur perpaduan IQ, EQ dan SQ ini yang sering disebut tokoh-tokoh visoner jaman dulu sebagai “bersenjatakan trisula wedha”? (bersambung)

Tulisan selanjutnya: FAKTOR KEDUA: VISIONER

http://sosok.kompasiana.com/2013/07/28/menimbang-dahlan-iskan-jadi-presiden-3-577252.html


2 Komentar

  1. […] Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (3) […]

  2. @ndokaja mengatakan:

    Vote Dahlan Iskan for RI-1 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: