Beranda » Zaini Ahmad » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (5)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (5)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (5)
FAKTOR KETIGA: MEMAHAMI MASALAH BANGSA

Pemimpin Masa Depan Teori dan PraktekSeorang presiden diwajibkan punya pemahaman akan masalah bangsa sekarang dan yang akan datang dan punya kemampuan manajerial untuk menyelesaikannya. Dia harus memahami persoalan bangsa secara menyeluruh, untuk kemudian mencari solusi terbaik. Ada empat bidang penting yang mutlak dipahami oleh seorang presiden yaitu ekonomi, politik, sosial dan hubungan internasional.

Untuk urusan ekonomi, seorang presiden harus memahami situasi ekonomi global yakni resesi/krisis ekonomi dan menjaga perekonomian Indonesia agar tetap tumbuh. Juga yang paling penting waspada dengan makin kuatnya dominasi asing, terutama korporasi multinasional, dalam penguasaan kekayaan alam dan aset-aset strategis ekonomi nasional.

Di bidang politik, Seorang presiden harus memahami tentang pentingnya penguatan demokrasi. Bagaimana lembaga-lembaga politik bisa menjadi palang pintu untuk menjaga kepentingan bangsa di atas kepentingan pasar (kekuatan kapital global).

Untuk urusan sosial, tugas presiden adalah dengan mewujudkan keadilan sosial. Penegakan hukum yang juga berpihak kepada rakyat miskin dan kaum marginal lainnya. Presiden juga harus mampu memperjuangkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama termasuk didalamnya perlindungan terhadap kelompok minoritas.

Sementara untuk hubungan internasional, seorang presiden harus paham dan mampu mengangkat posisi Indonesia sebagai kekuatan regional dan pemain global.  Tugas presiden adalah menjaga martabat  bangsa melalui kedaulatan ekonomi dan politik.

Kira-kira siapa dan dari latar belakang apa seorang pemimpin ideal ini bisa kita temukan?

TB Silalahi, Jendral akademisi yang sering dijuluki “gurunya para jendral “ dalam bukunya “Pemimpin Masa Depan” yang ditulis untuk anak didiknya di Lemhanas dan Sesko TNI menulis seperti ini:

Kita belum pernah memiliki seorang presiden yang berlatar belakang wartawan. Seorang wartawan senior adalah orang yang paling banyak mengetahui masalah-masalah negara. Karena memang tugasnya mencari informasi selengkap-lengkapnya dalam berbagai segi atau bidang meliputi masalah-masalah politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, teknologi dan pertahanan. Di samping itu, seorang wartawan senior juga menulis analisa maupun solusi dari permasalahan-permasalahan negara. Pengetahuan dan pengalaman seperti itu dibutuhkan oleh seorang calon presiden. (Pemimpin Masa Depan, h.7)

Tulisan TB Silalahi ini merujuk pada sosok Dahlan Iskan yang pernah diajaknya berduet mengajar di Lemhanas. Di hadapan para bupati , walikota dan ketua DPRD seluruh Indonesia TB Silalahi menjelaskan teori “Visionary Leadership”, sedangkan Dahlan memberi contoh praktek dari teori tersebut.

Mencatat Sejarah Bangsa Sejak 1974

Dahlan memang mempunyai pengalaman panjang mencatat, menganalisa dan memahami masalah bangsa sejak mengawali karir sebagai wartawan Mimbar Masyarakat tahun 1974. Tahun-tahun itu adalah tahun dimana demokrasi berkembang pada awal pemerintahan orde baru. Dahlan kemudian menjadi kontributor majalah Tempo, lalu kepala biro Tempo Surabaya sebelum merangkap sebagai pengusaha media saat diserahi tanggung jawab mengelola Jawa Pos.

Sebagai seorang pengusaha salah satu jaringan media terbesar di Indonesia. Kita tidak perlu meragukan pemahaman Dahlan tentang ekonomi makro dan mikro. Pemahaman Dahlan tentang ekonomi juga bisa kita telusuri dari tulisan-tulisannya. Contohnya tulisan tentang krisis moneter dunia tahun 2008. Krisis yang sangat ruwet dan pilihan cara penyelesaiannya itu berhasil diceritakan Dahlan dengan bahasa orang awam sehingga mudah dimengerti. Pelajaran bagaimana reaksi dunia untuk keluar dari krisis itu diceritakan dengan lugas, dengan bahasa yang sederhana dalam artikel “Fondasi Memang Rapuh, Bukan Konfiden yang Jatuh”

Pemahaman Dahlan akan demokrasi bisa kita nilai dari pandangannya seperti yang ada dalam cerita ini:

Kata Dahlan, demokrasi itu prinsip dasarnya adalah DARI rakyat, OLEH rakyat, UNTUK rakyat. Nah, mana dari 3 unsur prinsip itu yang didahulukan oleh pemimpin tadi? Kalau pemimpin demokratis itu mengedepankan UNTUK rakyat, maka dia akan dicintai rakyat sampai kapan pun. Tapi kalau pemimpin itu hanya mengutamakan DARI rakyat, maka rakyat pasti marah karena pemimpin itu sesungguhnya tidak bermanfaat sama sekali bagi rakyatnya. (Untuk Lebih Penting Dibanding Dari dan Oleh)

Kepemimpinan yang berpihak ke rakyat dan demi kepentingan bangsa dan negara itu dibuktikan Dahlan dengan kengototannya agar blok Mahakam 100% di kelola Pertamina. Sementara menteri ESDM yang punya kewenangan menentukan, cenderung sebaliknya.

Pemahaman Dahlan terhadap masalah sosial bangsa bisa kita temukan jejaknya pada program “Tekad Sayang” yang digagasnya awal dekade 2000-an. Prihatin dengan kerukunan etnis/suku yang merebak setelah reformasi, Dahlan membuat program pembauran untuk menghilangkan prasangka yang lekat di masyarakat. Seorang anak tinggal selama beberapa minggu di rumah orang tua angkat yang berbeda etnis, dan sebaliknya. Dengan Tekad Sayang, Dahlan berharap adanya saling kenal, saling memahami, dan bisa mentolerir adanya perbedaan dalam negara bhinneka tunggal ika ini. Sebagai pribadi Dahlan terlihat cair dan dekat dengan kalangan mana saja. Saat mau menjalani operasi ganti hati, umat dari berbagai agama ikut mendoakan kesehatan dahlan (Ganti Hati: Semua Berdoa Panjang, Saya Memilih Pendek Saja)

Pemahaman Dahlan akan hubungan internasional terbentuk karena berkali-kali ikut dalam rombongan kepresidenan dalam lawatan keluar negeri. Contohnya saat Dahlan berada dalam rombongan lawatan presiden SBY ke benua Amerika. Sepanjang perjalanan meliput pertemuan G20 di Washington, lalu lanjut ke Brazil dan APEC Summit di Peru itu, Dahlan menulis catatan berseri tentang  bagaimana Indonesia menjalin kerjasama dengan negara lain untuk menanggulangi dampak krisis. (Negara Berkembang Tak Boleh Cengeng)

Matang sebagai Menteri BUMN

Pengalaman Dahlan memahami masalah bangsa menuju kematangan saat dia ditunjuk menjadi Menteri BUMN. Membawahi 141 BUMN dan anak cucu perusahaan yang berjumlah 400 ratus lebih dengan total aset mencapai 3000 triliun. Perusahaan-perusahaan ini dibentuk untuk  mengelola hajat hidup orang banyak dengan tujuan mensejahterakan rakyat. BUMN-BUMN ini bergerak dalam bidang yang sangat beragam. Industri strategis, persenjataan, kapal terbang, perkapalan, telekomunikasi, transportasi, infrastruktur, energi, penerbangan, bank, asuransi kesehatan, pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan, tambang, logistik, kawasan industri dan perumahan, pembiayaan dan lain-lain. Mengelola BUMN, Dahlan seperti sedang belajar mengelola Indonesia mini.

Hasilnya? Dalam 1,5 tahun kepemimpinan Dahlan, BUMN kita melesat cepat. Ada kenaikan 8 persen setoran pajak negara dari BUMN. Tahun lalu pajak BUMN sebesar Rp 135 triliun naik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 125 triliun. Kalau pajak naik, artinya, pendapatan dan keuntungan BUMN juga naik. Tahun ini ditargetkan pendapatan BUMN mencapai 1600 triliun. Dahlan juga berhasil mensinergikan BUMN yang selama ini bersaing menjadi sebuah kekuatan pembangunan yang dahsyat. Dahlan mengistilahkannya sebagai ‘kekuatan tangan kiri’ untuk membantu ‘tangan kanan’ yaitu APBN. Kemampuan investasi BUMN memang setara dengan kemampuan investasi APBN. Dengan ‘kekuatan tangan kiri’, beberapa proyek infrastruktur berjalan cepat tanpa hambatan birokrasi. Tol Bali misalnya, selesai dalam waktu 14 bulan. Padahal tol dengan panjang yang sama di masa lalu ada yang sampai 12 tahun pengerjaannya!

Tapi Dahlan masih mempunyai beberapa pekerjaan rumah di BUMN. Tahun 2012, masih ada 16 BUMN dalam kondisi merugi, turun dari tahun 2011 yang berjumlah 23 BUMN. Salah satu PR yang paling berat adalah Merpati yang terancam bangkrut akibat hutang 6.5 triliun akibat kebijakan salah di masa lalu.

Seberapa kuat pengalaman sebagai wartawan dan pengusaha ini membentuk karakter kepemimpinan seorang Dahlan? Dalam sebuah wawancara setelah menerima gelar CEO of The Year 2010, Dahlan menjawab:

“Wartawan mengajarkan kepada saya untuk berpikir logis, mampu mesimplifikasi persoalan besar, mampu membedakan mana yang penting dan kurang penting, terbiasa mendahulukan yang terpenting dan berbuat untuk kepentingan umum. Tapi saya kan sudah lama berhenti sebagai wartawan. Lebih dari sepuluh tahun terakhir saya kan sudah lebih banyak sebagai orang bisnis. Bisnis mengajarkan saya banyak hal: kecepatan mengambil keputusan, menghitung resiko, memperhitungkan hilangnya kesempatan, dan menepati janji yang diucapkan. Saya kira latar belakang wartawan dan orang bisnis ikut menentukan. Tapi mungkin bapak saya yang mengajarkan kesederhanaan dan sikap egaliter.” Jawab Dahlan. (PLN Tak Mau Lagi Jadi Ban Belakang)

Lalu apa yang dipelajarinya saat menjadi birokrat baik sebagai dirut PLN dan dirut BUMN? Dahlan menyimpulkan bahwa hambatan terbesar Indonesia untuk menjadi negara maju adalah birokrasi yang sangat lambat. Dahlan mengatakan, jika reformasi birokrasi tidak segera dilakukan, maka sinkronisasi kehidupan masyarakat dengan birokrasi pemerintah tidak akan tercapai.

“Keinginan 130 juta orang yang tidak lagi miskin ini macam-macam keinginannya, maunya harus serba cepat, dan harus dipenuhi segera. Sementara birokrasi kita lambat, yang bisa menyelesaikan ini hanyalah reformasi birokrasi,” kata Dahlan.

Antara Siliwangi dan TB Silalahi

Yang sangat menarik adalah pandangan visioner Prabu Siliwangi tentang pemimpin masa depan yang berlatar belakang wartawan /penulis.

——-

Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih.

——-

Prabu Siliwangi menulis tentang ‘budak angon’ dengan penggembalaan yang spesial. “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui.

Bocah Angon memiliki kebiasaan menggembala Kalakay (lontar) dan Tutunggul (ranting untuk menulis). Sehingga Kalakay dan Tutunggul bisa diartikan sebagai kertas dan pena. Dengan kertas dan pena dia menulis setiap kejadian, melewati berbagai jaman. Dia menuliskan peristiwa, mencari titik permasalahanya dan belajar dari catatannya itu. Dengan kegemarannya menelusuri sejarah dan kejadian yang dituangkan dalam tulisan tersebut kelak masalah di Nusantara akan bisa dibereskan dengan mudah.

Budak angon yang dimaksud Prabu Siliwangi itu bisa jadi Dahlan atau mungkin orang lain. Tapi percaya atau tidak, pemikiran Prabu Siliwangi ini sangat masuk akal. Mirip dengan analisa TB Silalahi yang juga mudah diterima logika. Atau jangan-jangan tokoh masyarakat Batak ini pernah membaca Uga Wangsit Siliwangi karena lama menetap  untuk mendidik para calon Jenderal di Pusat Pendidikan Kavaleri di Purabaya, Padalarang?

Ke depan kita memang membutuhkan Presiden yang benar-benar memahami masalah Bangsa, sehingga mampu mencari solusi terbaik. Dengan begitu rumit dan kompleksnya masalah bangsa sekarang ini, kita butuh pemimpin yang bisa bergerak cepat dan licah mencari terobosan. Karena cuma keberanian mencari terobosan yang bisa memecahkan kebuntuan-kebuntuan.

Semua karakter itu sudah dipraktekkan Dahlan dalam setiap jenjang kariri proesional maupun birokrat-nya. (bersambung)

http://sosok.kompasiana.com/2013/08/01/menimbang-dahlan-iskan-jadi-presiden-5-578351.html


2 Komentar

  1. […] Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (5) […]

  2. @ndokaja mengatakan:

    Vote Dahlan Iskan for RI-1 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: