Beranda » Zaini Ahmad » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (6)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (6)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (6)

FAKTOR KEEMPAT: MOTIVATOR BANGSA

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (6)Siapa yang menyangkal bahwa kita adalah bangsa yang besar. Negara dengan potensi kekayaan alam dan sumber daya manusia yang luar biasa. Bangsa pejuang, pekerja keras yang tidak gampang menyerah selama berabad-abad. Melewati penjajahan beragam bangsa dan akhirnya merdeka dengan perjuangan sendiri. Kita juga punya Pancasila. Mahakarya jenius para founding father yang merekatkan keragamaan bangsa. Seharusnya dengan potensi seperti itu kita akan mudah menjadi negara maju. Tapi kenapa kita tak maju-maju? Kenapa kita justru menjadi negara yang terpuruk dengan hutang yang menggunung dan nyaris tanpa kebanggaan?

Salah satunya karena pesimisme dan apatisme yang dibiarkan, bahkan dieksploitasi oleh media. Akibatnya kita cenderung membiarkan berbagai kesalahan terus terjadi dan berulang.

Setidaknya itu kesimpulan Dahlan Iskan yang terinspirasi dari kemajuan pesat China. China bangkit dari keterpurukan setelah pemerintahnya secara sistematis menyuntikkan semangat optimisme pada rakyatnya. Pemerintah China menurut Dahlan, secara bejenjang menumbuhkan optimisme itu dengan merayakan kemenangan saat produk domestik bruto (PDB) mereka mampu mengalahkan ekonomi negara-negara dengan ranking di atas mereka. Berturut-turut China melampaui Inggris, Jerman, dan dua tahun lalu mengalahkan ekonomi Jepang. Tahun 2016 Pemerintah China mentargetkan akan melampaui Amerika, sehingga ekonomi China akan menjadi yang terbesar di Dunia dalam segala bidang.

Ketika China mampu mengalahkan Jepang, Pemerintahnya membuat perayaan besar-besaran dan masyarakat sangat antusias menyambutnya. “China-Jepang itu ‘musuhan’ seperti Indonesia-Belanda. Jadi, mereka sudah bisa balas dendam” Kata Dahlan.

Ironisnya, tidak banyak yang tahu bahwa tingkat ekonomi Indonesia sekarang sudah bisa mengalahkan ekonomi Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama ratusan tahun.
“Kita bisa mengalahkan Belanda sejak tahun 2011, karena produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat itu sudah 800 miliar dolar AS lebih, sedangkan PDB Belanda hanya 700 miliar dolar AS lebih,” kata Dahlan Iskan. Sayangnya kesempatan untuk menumbuhkan kepercayaan diri bangsa, membangkitkan optimisme rakyat seperti itu lewat begitu saja. Pemerintah kita kehilangan momentum, sementara media lebih tertarik menaikkan rating dengan mengekspos ribuan masalah bangsa dan kontroversinya seolah-olah Indonesia akan bangkrut besok.

“Hanya saya yang terus menerus mengkomunikasikan ini. Bahwa kita sudah mengalahkan Belanda yang pernah menjajah kita. Sebentar lagi harusnya kita bisa mengalahkan Spanyol, juga Singapura. Pasti mampu!” Kata Dahlan berapi-api dalam berbagai kesempatan. Biasanya akan dibalas dengan tepuk tangan gegap gempita peserta pendengarnya.

Komunikator Sekaligus Motivator

Seorang pemimpin harus punya kemampuan untuk memikat seseorang mengikuti pemikiran atau tindakan yang diinginkannya. Seseorang yang tidak mampu meyakinkan orang lain bukan seorang pemimpin. Untuk itu seorang pemimpin harus memahami cara berkomunikasi, sehingga ide dan gagasannya dimengerti rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin yang hebat harus dapat berkomunikasi secara efektif lintas media, menjangkau berbagai lapisan masyarakat dan lingkungan yang berbeda. Dia harus seorang pendengar yang aktif, pemikir yang cair, dan tahu kapan harus maju, menunggu, atau mundur.

Dahlan adalah seorang komunikator yang baik. Sebenarnya, dia bukan tipe orator dengan pidato pembangkit semangat yang berapi-api seperti Soekarno misalnya. Tapi dalam 2 kali kesempatan mendengarkan Dahlan berbicara di muka umum, penulis berkesimpulan dia adalah seorang motivator dengan gaya yang unik. Dengan gaya yang santai, banyak menyelipkan humor tapi mampu menularkan semangat dengan sangat cepat. Selalu spontan dan tanpa naskah. Lugas dan tanpa basa-basi. Mendengarkan Dahlan berpidato seolah sedang men-charge energi dan optimisme bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. “Kita mampu asal kita mau” kata Dahlan.

Kelebihan Dahlan dalam berkomunikasi tentu saja adalah kemampuannya menuliskan gagasan dan pikirannya dalam bahasa yang sederhana, mengalir dan enak dibaca. Pengalaman jurnalisme yang panjang menjadi generatornya. Sebuah topik yang rumit dan penuh istilah teknis-pun bisa diterjemahkannya oleh Dahlan dalam bahasa yang lebih merakyat sehingga mudah dipahami. Wajar kalau buku-buku tulisan Dahlan seperti “Ganti Hati’ “Pelajaran dari Tiongkok” “Tidak Ada Yang Tidak Bisa” selalu menjadi best seller nasional.

Di PLN, Dahlan rajin menulis “CEO Notes” yang awalnya di gunakan sebagai jembatan komunikasi antara direktur utama dengan seluruh jajaran PLN yang tersebar se Indonesia. Melalui CEO Notes, semangat dipompa, ide-ide disosialisasikan, problem solving dan kreaifitas menjadi pembelajaran PLN daerah lain, pendapat dan saran pun cepat tersalurkan. CEO Notes yang rutin dilakukan Dahlan merupakan cara komunikasi leadership baru di PLN dan selalu ditunggu kehadirannya oleh karyawan. CEO Notes ini kemudian dibukukan berjudul “Dua Tangis Ribuan Tawa” dan kembali menjadi best seller. Masyarakat tertarik untuk mengetahui rahasia kesuksesan Dahlan menyelesaikan masalah PLN yang sudah puluhan tahun tidak teratasi hanya dalam waktu 1,5 tahun.

Begitu menjadi menteri BUMN, kesuksesan CEO Notes coba dilanjutkan Dahlan dengan menerbitkan seri tulisan “Manufacturing Hope”. Industrialisasi harapan ini yang menurut Dahlan pertama kali harus di bangun untuk membangkitkan BUMN. Berbeda dengan “CEO Notes” yang awalnya untuk kalangan internal PLN “Manufacturing Hope” seperti ditulis Dahlan untuk melawan pesimisme dan apatisme yang terlanjur menjalar di masyarakat. Dahlan Iskan mengaku dirinya mengeksplorasi kemampuan jurnalistik yang dimilikinya dengan menulis “Manufacturing Hope” untuk menularkan optimisme.

Penularan optimisme melalui tulisan ini didukung oleh Goenawan Muhamad, guru jurnalistik Dahlan dalam kata pengantar buku “ I Love DIS Way”:

Bagi saya, langkah membangun harapan tidak hanya dilakukan dengan diam-diam. Sebab pada dasarnya yang harus dikalahkan ialah sinisme dan apatisme di masyarakat, karena di sekitar yang kita hadapi adalah korupsi dan ketidak-adilan dan kebohongan.

Dahlan melakukan hal-hal yang membuat banyak di antara kita sadar, langkah perbaikan bisa dilakukan, dalam keadaan ruwet dan orang banyak tak tahu harus dari mana memulainya. Tak sedikit yang mengagumi dan mengharapkannya, dan banyak pula yang mencurigainya bahkan merasa terancam olehnya. Tapi bisakah itu dielakkan?

Harapan Itu Disebar Tidak Hanya Dengan Tulisan

Ternyata tulisan saja tidak cukup untuk menyebarkan virus optimisme ini menurut Dahlan. Hampir dalam setiap kunjungannya ke daerah-daerah Dahlan selalu menyempatkan diri untuk berbicara di kuliah umum di kampus-kampus, seminar untuk komunitas pengusaha, bahkan ceramah di pesantren. Ini juga membuktikan kapasitas Dahlan sebagai seorang komunikator yang mampu berbicara pada berbagai lapisan masyarakat.

Dahlan begitu cair berbicara dihadapan santri dan kyai pesantren. Menularkan harapan bahwa lulusan pesantren-pun bisa menjadi menteri seperti dirinya. Di depan komunitas wirausaha, dia memompakan semangat untuk jangan takut gagal, kalo gagal bangkit lagi lebih tinggi. Motivasi itu menjadi valid karena Dahlan adalah pengusaha yang memulai dari nol, anak gembala yang tak mampu beli sepatu berubah menjadi konglomerat media. Di depan petani, Dahlan berubah menjadi penyuluh pertanian, menjelaskan langkah-langkah pemerintah dan BUMN membantu para petani, bahkan Dahlan ikut menangkapi tikus seperti yang dilakukannya di Sleman.

Di depan mahasiswa dan akademisi, Dahlan memompakan semangat bahwa Indonesia punya sumber daya manusia yang tangguh. Betapa negara ini membutuhkan ide-ide para peneliti untuk mengatasi masalah bangsa, dan tugas pemerintah adalah memberi kepercayaan pada putra-putra bangsa untuk mengaplikasikan keahliannya. Motivasi Dahlan pada para ilmuwan dan akademisi itu bukan sekedar janji, karena Dahlan mendorong dan menginstruksikan BUMN-BUMN untuk mengaplikasikan penemuan-penemuan dari universitas. (tulisan lengkap soal Dahlan dan para peneliti bisa dibaca disini)

“Jadi, optimisme itu besar nilainya untuk kemajuan sebuah bangsa, tapi penularan pesimisme itu juga luar biasa, karena itu kita harus melawan pesimisme itu dengan menularkan optimisme, sehingga pesimisme akan berhadapan secara imbang dengan optimisme. Itu karena pesimisme itu setengah dari kegagalan dan optimisme juga merupakan setengah dari kesuksesan, karena itu pesimisme wajib dilawan, karena kalau pesimisme yang menang, maka kegagalan kita sebagai bangsa akan benar-benar nyata di depan mata,” kata Dahlan.

Dalam konsep kepemimpinan Hasta Brata, ada tipe pemimpin matahari. Matahari atau enabling leader adalah pemimpin dengan wataknya yang memberikan transparansi, energi hidup dan penerangan, memberikan pencerahan dan kecerdasan hidup, memberdayakan atau memberikan pemberdayaan. Dahlan adalah satu dari sedikit pemimpin kita yang akhir-akhir ini bisa menginspirasi optimisme bangsa ini. (bersambung)

SELANJUTNYA: FAKTOR KELIMA, NASIONALISME.

http://sosok.kompasiana.com/2013/08/06/menimbang-dahlan-iskan-jadi-presiden-6-579477.html


3 Komentar

  1. […] Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (6) […]

  2. @ndokaja mengatakan:

    Vote Dahlan Iskan for RI-1 2014

  3. Bukannya Presiden nanti Pak Satrio? Lengkapnya DR. Dr. Ing. Satrio Pininggit, SE, MsC sekarang Beliau masih kuliah untuk meraih gelar Bebas Korupsi/BK di Universitas Taman Impian Jaya Ngocol ( Univ. TAIJANGO)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: