Beranda » Zaini Ahmad » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden » Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (7)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (7)

Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (7)

FAKTOR KELIMA: PEMIMPIN NASIONALIS

Peringatan Kemerdekaan Indonesia ke 68 tahun ini harus kita rayakan secara prihatin. Salah satu sebabnya adalah rasa prihatin karena beberapa bulan terakhir ini inflasi bangsa besar ini ditentukan oleh harga daging sapi dan bawang. Ini menunujukkan bagaimana tidak berdaulatnya bangsa kita. Komoditas-komoditas sederhana yang dibutuhkan rakyat ternyata gagal kita produksi sehingga harus kita impor dalam jumlah yang sangat besar.

Kondisi ini karena adanya ketergantungan yang mencandu para elite pemimpin nasional terhadap kepentingan asing. Ironisnya, ketundukan pada pengaruh asing itu lalu dicari pembenarannya dengan kampanye ketidakmampuan bangsa. Alasan paling sering didengar adalah asing harus masuk karena kita belum mampu. Tapi masak iya kita tak mampu menanam bawang? Masak iya kita tak mampu beternak sapi? Sikap seperti itu membuat bangsa ini merdeka tapi tak mampu meraih kedaulatannya. Kita terlalu tergantung pada kepentingan asing.

Akibatnya dahsyat. Kekayaan alam dan pasar kita dikuasai pemodal asing. Belum cukup,  potensi kita dikerdilkan dan kemampuan putra bangsa dibonsai karena tak pernah diberi kesempatan. Harga diri bangsa karam di dasar terendah. Nyaris tak ada kebanggaan sebagai bangsa yang kekayaan alam dan sumber daya manusianya membuat iri bangsa lain.

Kita membutuhkan pemimpin yang bisa dan mau memerdekakan bangsa ini dengan sebenarnya. Pemimpin yang mendahulukan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi, golongan, juga yang paling penting kepentingan asing. Pemimpin yang bisa menggerakan semua potensi yang kita miliki untuk mewujudkan kedaulatan. Kedaulatan pangan, kedaulatan energi dan kemerdekaan harga diri bangsa. Cuma pemimpin yang memperjuangkan kedautan bangsa yang akan membawa negara ini menjadi negara yang bermartabat dan terhormat dalam tatanan dunia.

Bagaimana rekam jejak kebijakan Dahlan Iskan dalam hal ini?

Sebagai menteri BUMN, Dahlan berhasil mensinergikan berbagai potensi anak bangsa untuk membuktikan bahwa kita mampu. Hanya saja selama ini kita tidak mau bekerja keras memanfaatkan potensi itu. Masalahnya ternyata bukan pada kemampuan,  tapi pada kemauan. Terutama kemauan pemegang kewenangan.

Alangkah hebatnya Indonesia kalau semua potensi tersebut disatukan dalam koordinasi yang utuh. Kalau saja ada kesatuan di dalamnya, kita bisa memproduksi pabrik apa pun, alat apa pun, dan kendaraan apa pun. Pembangkit listrik, pabrik gula, pabrik kelapa sawit, pesawat, kapal, kereta, motor, mobil, dan apalagi sepeda, semua bisa dibuat di dalam negeri. (Dahlan Iskan, Neraka dari Manajemen Musyrik)

Ketika kebutuhan pasar monorel terbuka setelah beberapa daerah berencana membangun angkutan massal ini, Dahlan langsung membentuk konsorsium Bumn. Terdiri dari INKA, Telkom, Adhi Karya dan LEN. Dalam waktu beberapa bulan, 3 prototype monorel  berhasil dibuat. Monorel made in Madiun membuktikan bahwa kita mampu membuat monorel dengan kualitas yang bahkan lebih baik dari monorel negeri tetangga. Seorang teknisi INKA bahkan menyebut bahwa membuat monorel jauh lebih mudah daripada membuat kereta listrik (KRL). Terbukti monorel produksi BUMN itu memiliki kualitas, desain dan kapasitas angkut yang lebih baik dari monorel sejenis di Sidney dan Kuala Lumpur. Gambar monorel berwarna merah putih ini menghiasi berbagai media menjadi ilustrasi berita Jakarta Monorail. Sayangnya, itu sebatas ilustrasi, karena monorel Jakarta memilih menggunakan monorel buatan Cina. 
Begitu juga Monorel Bandung Raya. Pengprov  Jawa Barat memang bekerjasama dengan BUMN, namanya China National Machinery Import & Export Corporation (CMC). Ya, ternyata bukan BUMN kita, tapi BUMN Cina.

Padahal Dahlan berkali-kali mengaskan bahwa konsorsium BUMN siap membantu pemerintah daerah mewujudkan proyek monorel. Teknologi, konstruksi, opersional bahkan modalnya murni 100% bumn, tanpa menggunakan APBD apalagi APBN. Yang kurang hanya kemauan pemerintah daerah. Alangkah lucunya negeri ini.

Mobil listrik juga salah satu cara Dahlan mengangkat harga diri bangsa. Ketergantungan kita pada BBM membuat bangsa kita tersandera. Impor BBM kita semakin besar dari tahun ke tahun, padahal cadangan minyak kita terus menipis. Beberapa ahli mengatkan cadangan minyak kita hanya kan bertahan 11 tahun lagi. Ironisnya, BBM yang subsidinya 300 triliun pertahun itu dipakai untuk menghidupkan mesin mobil dan motor yang tidak satupun mereknya produk bangsa. Kita tidak menikmati secuilpun kue pasar otomotif kita yang merupakan pasar terbesar no.4 di dunia. Yang kita ‘nikmati’ hanya asap polusi yang meracuni udara kita. Juga kemacetan yang menimbulkan inefesiensi puluhan triliun per tahun.

Kita terjajah di jalanan kita sendiri, dan nyaris tidak melakukan apa-apa selama puluhan tahun. Dahlan kemudian berinisiatif membentuk tim putra petir untuk melakukan riset mobil listrik. Mobil listrik adalah pilihan paling masuk akal karena kita sudah tertinggal puluhan tahun dalam pengembangan mobil berbahan bakar minyak. Dahlan menegaskan, kita tidak boleh lagi mengulangi kesalahan yang sama. Riset mobil listrik harus berhasil. 30 tahun lagi, kita harus jadi raja di jalanan kita sendiri.

Kini mobil listrik generasi kedua sedang dikembangkan dengan berbagai pelajaran dari kekeurangan generasi pertama. Baterainyaupun sudah menggunakan baterai lithium khusus mobil listrik bikinan Cileungsi, Bogor. Inilah sebenar-benar mobil nasional. Ujian pertama mobil listrik nasional bergabai jenis itu adalah melayani tamu-tamu negara pada KTT APEC Oktober nanti.

Dengan berbagai langkah itu, secara otomatis Dahlan juga memberikan kesempatan pada putra-putra terbaik bangsa untuk mewujudkan karyanya. Karena terobosan Dahlan, perlahan masyarakat kemudian megenal putra-putra terbaik bangsa, dari Ricky Elson, pemilik paten berbagai motor listrik di Jepang sampai Dr Ir Bambang Prihandoko, pakar baterai lithium dari LIPI. Dari pakar sorgum Prof Dr Sungkono, sampai Prof Dr Herry Suhardiyanto, pakar tanaman buah tropis dari IPB. Juga para srikandi seperti Dr-Eng Eniya Listiani Dewi pakar fuel cell, sampai ahli inseminasi sapi Drh. Herliantien. Dahlan adalah oase bagi para peneliti. Pejabat yang memperhatikan dan memberikan kesempatan mewujudkan penelitian mereka.

Dahlan juga memberikan kesempatan yang sangat luas pada para enginer di BUMN dengan mensinergikan kemampuan mereka menggarap proyek-proyek ‘merah putih’. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kita akan punya 30 PLTU yang 100% buatan bangsa sendiri. Kondensornya dibikin Bima Bosma Indah, turbin oleh PT NTP Bandung, anak perusahaan PT DI, generatornya oleh Pindad, Boilernya dibuat PT Barata Surabaya dan PT Wika membangun sipilnya. Demikin juga pabrik gula ‘merah putih’ di Glenmore, Banyuwangi. Pabrik gula pertama yang dibangun pemerintah setelah 30 tahun lebih. Dan masih banyak proyek merah putih lain yang diinisiasi oleh Dahlan Iskan.

Pada kasus Blok Mahakam yang akan habis kontrak karyanya. Dahlan sangat ngotot dan berusaha meyakinkan pemerintah bahwa Pertamina mampu mengelola 100% Blok Mahakam. Dengan mengelola Blok Mahakam, impor BBM yang menghabiskan devisa itu akan berkurang signifikan.  Bahkan Pertamina akan punya ‘jalan tol’ untuk mengejar ketertinggal dari saingan regionalnya yaitu Petronas. Sayangnya kengototan Dahlan itu berbanding terbalik dengan kebijakan kementerian ESDM yang berwenang memutuskan ini. Sempat terjadi perang statemen di media antara Dahlan dan Djero Wacik. Akibatnya, keputusan tentang Blok Mahakam ditunda dan akan diserahkan pada pemerintahan baru.

Kengototan Dahlan dalam ‘perebutan’ Blok Mahakam ini menunjukkan sikapnya yang tegas akan kepemilikan modal asing. Kontrak yang habis tidak perlu diperpanjang dan harus dinasionalisasi. Kontrak yang masih berjalan harus di negosiasikan ulang sehingga bangsa kita menerima manfaat yang lebih besar.

“Negosiasi ulang adalah jalan terbaik, business to business, karena itulah cara-cara negara modern yang bermartabat, yang menghormati hukum-hukum internasional” kata Dahlan di hadapan mahasiswa ITS.

Nasionalisme seorang Dahlan juga diwujudkan dengan perjuangannya melawan impor beberapa komoditas yang tidak masuk akal. Dahlan seringkali mengungkapkan rasa malunya mendengar kenyataan bangsa yang besar harus impor komoditas dari negara lain. Garam dari singapura. Beras dari Vietnam. Buah-buahan dari Cina. Daging dari Australia dalam jumlah besar-besaran yang menghabiskan devisa. Dahlan yang memang membawahi banyak BUMN pertanian, perkebunan, kehutanan dan logistik itu berpikir seharusnya kita tidak harus ketagihan mengimpor. Dahlan lalu berusaha melawan impor itu dengan kekuatan korporasi BUMN. Impor beras dilawan dengan pembukaan lahan pertanian modern terbesar sepanjang sejarah republik bernama Food Estate Ketapang, Kalbar. Impor sapi dilawan dengan sapi sawit di Jambi, Sapi Savanah di Sumba, Peternakan sapi kombong terintegrasi di Sidrap Sulawesi. Bahkan BUMN berencana membeli peternakan sapi di Australia. Impor gandum dilawan dengan budidaya sorgum. Impor buah dengan revolusi oranye. Impor garam dengan membranisasi. Dahlan menunjukkan bahwa kita punya segalanya untuk mencukupi kebutuhn kita sendiri, sebagai bangsa yang mandiri. Ada ‘harga diri’ bangsa yang mampu kita perjuangkan. Asal mau.

Tentu saja usaha- usaha Dahlan ini mendapat tentangan dari pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan dari perdagangan komoditas penting di atas. Jangan lupa bahwa jaringan ini selama ini bisa beroperasi karena dukungan oknum aparat dan birokrat. Orang biasa menyebut mereka sebagai mafia atau kartel. Dibutuhkan pemimpin bernyali dengan integritas tinggi dan tanpa rasa takut untuk mendobrak kemapanan ini.

Darimana datangnya keberanian Dahlan? Dalam sebuah interview dengan TVRI Jawa Tengah, Dahlan menjawab: “Saya sudah perhitungkan, tapi kan resiko terberat sudah saya lewati, yaitu ‘mati’. Alhamdulillah saya diberi rahmat oleh Allah sehingga masih hidup sampai saat ini”

Dahlan memang sudah ‘melewati’ kematian saat divonis umurnya tinggal 6 bulan karena kanker hati. Itulah kenapa setelah mendapat ‘hidup baru” Dahlan bertekad mewakafkan hidupnya untuk orang banyak. Dia bahkan menyediakan tubuhnya menjadi donor stem cell.

Semula, tidak lama setelah saya siuman dari pengaruh anestesi selama 13 jam, setelah saya menyadari bahwa operasi saya berhasil (meski masih untuk sementara), setelah saya mengucapkan rasa syukur, saya pun bertekad untuk tidak lagi mau mengurus perusahaan. Terutama karena selama dua tahun saya sakit toh perusahaan tetap berkembang.

Lalu, saya hanya ingin mau mengerjakan tiga hal saja: menjadi guru jurnalistik, menulis buku, dan kembali mengurus pesantren keluarga. Kebetulan, keluarga kami memiliki lebih dari 100 buah madrasah yang tergabung dalam Pesantren Sabilil Muttaqien, yang didirikan oleh seorang mursyid tarekat Syathariyah. Saya merasa bersalah karena selama itu saya terlalu sibuk “mencari duit” sehingga kurang ikut mengurus pesantren ini. (Dahlan Iskan, Setelah Hidup Diperpanjang Lima Tahun)

Rencana Dahlan ini berubah karena dipaksa mengabdi di pemerintahan oleh presiden SBY. Awalnya sebagai Dirut PLN, tapi baru 1,5 tahun di paksa lagi menjadi Menteri BUMN. Karena tekadnya untuk mengabdi dan tidak lagi mencari uang, Dahlan tidak pernah mengambil gaji dan fasilitas negara selama menjabat sebagai Dirut PLN maupun Menteri BUMN. Gaji sebagai menteri BUMN pun diberikan untuk ‘menggaji’ Ricky Elson, salah satu putra petir yang rela meninggalkan karir cemerlangnya di Jepang untuk mengembangkan mobil listrik dan pembangkit tenaga angin di pedalaman Sumba (Cerita lengkap tentang Ricky bisa dibaca disini)

Tentu saja ini bisa dilakukan Dahlan karena dia tidak membutuhkan gaji menteri. Majalah Globe Asia edisi Juni 2013 menempatkan Dahlan sebagai orang terkaya nomer 93 se-Indonesia dengan kekayaan ditaksir mencapai mencapai USD 370 juta. Rangking itu sebenarnya terus menerus turun dari tahun sebelumnya sejak Dahlan memutuskan berhenti dari dunia bisnis. Kekayaan sebesar itu sepertinya tidak akan habis melihat gaya hidupnya yang praktis dan sederhana.

 Sebagai menteri BUMN yang mengelola aset 3000 trilun, Dahlan tinggal berdua dengan istri dalam sebuah apartemen berukuran standar tanpa pembantu. Dia benar-benar sudah ‘selesai’ dengan ego-nya sendiri.

Cuma seorang pemimpin dengan integritas tinggi dengan dasar agama yang kuat, sudah ‘melewati’ rasa takut terbesar, pemimpin yang sudah selesai dengan hidupnya sendiri, pemimpin yang sudah tidak memikirkan kekayaan pribadi dan keluarganyalah yang bisa bebas dari kepentingan dan intervensi. Pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan bangsa saat ini. Pemimpin yang bisa membawa Indonesia menjadi negara yang berdaulat, bermartabat dan terhormat. Pemimpin yang bisa menegakkan kemerdekaaan harga diri bangsa.

Potensi pemimpin setangguh ini ada pada diri seorang Dahlan Iskan. (bersambung)

http://sosok.kompasiana.com/2013/08/26/menimbang-dahlan-iskan-jadi-presiden-7-584150.html


2 Komentar

  1. […] Menimbang Dahlan Iskan Jadi Presiden (7) […]

  2. @ndokaja mengatakan:

    Vote Dahlan Iskan for RI-1 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: