Beranda » Joko Intarto » Caranya Berbeda, Tujuannya Sama

Caranya Berbeda, Tujuannya Sama

Melihat dari Dekat Sekolah Petani Kampar (3)

Sebagai Bupati Kampar, Jefry Nur dihadapkan pada problem kesejahteraan rendah di pedesaan. Dari 800 ribu penduduk, 21 ribu di antaranya berstatus miskin.

Membangun sekolah petani adalah salah satu strategi Jefry untuk mengatasi kemiskinan di kalangan masyarakat petani dan pedesaan. Jefry meyakini, kemiskinan di pedesaan disebabkan kurangnya pengetahuan para petani. Maka sekolah petani adalah solusinya.

Selama 15 hari, petani digembleng dengan berbagai pengetahuan pertanian terpadu. Budi daya tanaman, peternakan dan perikanan adalah pelajaran wajibnya. Pengetahuan tambahannya ada beberapa macam, mulai membuat proposal proyek untuk mengajukan kredit sampai pengenalan potensi pasar komoditi.

Peserta yang lulus pendidikan akan memperoleh sertifikat. Dengan sertifikat itu, peserta berhak mengajukan proposal ke bank perkreditan rakyat terdekat. “Pemegang sertifikat berarti petani yang telah mendapat pelatihan 15 hari dan dinilai memiliki kecakapan untuk mengerjakan proyeknya,” kata Jefry.

Apakah hanya cukup dengan sertifikat? “Skema pinjaman petani yang kami kembangkan bukan kredit tanpa agunan. Jadi, skemanya bisnis biasa. Petani meminjam uang ke bank dengan agunan. Sertifikat itu hanya untuk referensi bahwa petani itu memiliki keahlian yang memadai,” lanjut Jefry.

Sekolah petani Kampar menerima 90 peserta untuk setiap angkatan. Berarti setiap bulan ada 180 orang yang belajar. Saat ini sekolah sudah meluluskan 13 angkatan atau berjumlah 1.170 orang. Targetnya, setiap peserta merekrut 10 petani. “Dalam dua tahun, saya optimistis bisa mengentaskan kemiskinan 21 ribu petani di Kampar,” papar Jefry.

Sekolah petani Kampar dikelola oleh guru-guru yang berpengalaman. Kebanyakan sarjana dari Institut Pertanian Bogor. Sarananya juga cukup lengkap. Ada kandang sapi, ternak lele, patin, arwana, sawah, kebun dan pusat pembibitan.

Yang menarik, petani belajar di sekolah itu secara gratis. Dari mana dananya? “Kami tidak menggunakan dana pemerintah daerah maupun dana pemerintah pusat. Kami gunakan dana sendiri untuk membiayai sekolah ini,” jelas Jefry.

Menteri BUMN Dahlan Iskan benar-benar tertarik dengan keberhasilan para petani alumni sekolah itu. “Saya tertarik untuk mengintegrasikan program sapi – sawit yang sekarang dikelola PT Perkebunan V dengan program peternakan sapi dengan pertanian di sekolah ini,” kata Dahlan.

Saat ini, PT Perkebunan V mengelola ribuan sapi. Akan menjadi sinergi yang saling menguntungkan, apabila sebagian sapi milik PT Perkebunan V diintegrasikan dengan pola pemberdayaan petani yang digagas Jefry. “Prinsipnya adalah bisnis. Sapi bisa dikelola petani dengan pola yang saling menguntungkan,” kata Dahlan.

Bagaimana pola kerjasamanya? “Saya mengundang Pak Bupati ke Jakarta untuk mendiskusikan lebih jauh bagaimana teknis integrasinya. Prinsipnya, kita semua sudah sama visinya, untuk meningkatkan kesejahteraan. Jalannya berbeda-beda, tetapi satu tujuan,” jelas Dahlan.

Joko Intarto @IntartoJoko

http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/10/16/melihat-dari-dekat-sekolah-petani-kampar-602074.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: