Beranda » Tak Berkategori » Undang Menteri, Modal ”Ngeyel”

Undang Menteri, Modal ”Ngeyel”

Joko Intarto - Undang Menteri Modal NgeyelApa yang yang paling diinginkan mahasiswa ketika mengundang Menteri BUMN Dahlan Iskan ke kampus mereka? Menjadi motivator wirausaha! Itu saja.

Mahasiswa umumnya ingin tahu bagaimana lika-liku Dahlan membesarkan Jawa Pos Group. Dari sebuah koran bernama “Jawa Pos” yang bangkrut pada 1982, Dahlan dan seluruh karyawannya berhasil membangun Jawa Pos Group yang menguasai pasar media di Indonesia.

Jawa Pos Group saat ini memiliki 207 koran, 65 percetakan, 42 stasiun TV lokal, jaringan pemberitaan, pabrik kertas hingga belasan gedung perkantoran. Keberhasilan Dahlan menyehatkan banyak BUMN selama dua tahun menjadi menteri, semakin membuat penasaran para mahasiswa.

Bagaimana cara mengundang Dahlan ke kampus? Sejauh yang saya ketahui, mengundang Dahlan ke kampus bukan masalah yang sulit. Tetapi, memang harus tahu triknya.

Dahlan sangat senang setiap menerima undangan untuk menjadi pembicara dalam kegiatan mahasiswa. Apalagi bila kegiatannya bertema wirausaha.

Menurut Dahlan, seminar-seminar wirausaha yang digagas mahasiswa itu merupakan sebuah pertanda bahwa generasi muda Indonesia sudah berubah orientasi, dari pekerja dan pegawai pemerintah menjadi pengusaha. Perubahan orientasi itu, akan menentukan pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.

Karena pentingnya ‘’orientasi wirausaha’’ bagi generasi muda, Dahlan selalu berusaha memenuhi undangan seminar entrepreneurship dari mahasiswa. Sebaliknya, Dahlan tidak tertarik bila mahasiswa mengundangnya untuk diskusi politik.

Dahlan berpandangan, kaum muda perlu mengenal dunia politik, tetapi jangan buru-buru terjun ke politik praktis. Orang muda lebih baik menjadi pengusaha. Kegiatan politik diterjuni kalau sudah mapan saja.

Sejak jatuhnya Orde Baru pada 1998, politik tiba-tiba kembali menjadi panglima. Semua orang sibuk luar biasa untuk menjadi politisi. Energi kelas menengah dihabiskan untuk menjadi anggota legislatif dan pemimpin politik.

Para politisi berjibaku agar berhasil merebut “kursi”. Mereka berpendapat bisa mengatasi kemiskinan dan kebodohan apabila sudah memegang kekuasaan.

Padahal, kemiskinan dan kebodohan tidak bisa diatasi dengan diskusi dan pidato. Kemiskinan dan kebodohan hanya bisa diatasi dengan kerja, kerja dan kerja.

Kerja, kerja dan kerja adalah karakter pengusaha. Sementara diskusi dan pidato, adalah hobi penguasa dan politisi. Dahlan tidak ingin generasi muda lebih bangga pandai berdiskusi dan jago berpidato, tetapi tidak cakap bekerja.

Namun, tidak semua undangan seminar wirausaha dari mahasiswa bisa dipenuhi Dahlan. Umumnya karena keterbatasan waktu, sementara jumlah undangan memang bejibun.

Agar undangan Anda peluang dipilih, ‘’ngeyel’’ adalah trik sederhana yang paling kerap berhasil. Mengapa Dahlan suka mahasiswa yang ‘’ngeyel’’? Karena ‘’ngeyel’’ adalah salah satu karakter pengusaha yang sukses.

‘’ Yang tidak ngeyel berarti mudah menyerah. Yang mudah menyerah berarti tidak berkarakter pengusaha. Jadi panitia seminar wirausaha tidak boleh mudah menyerah. Harus antusias. Ngeyel adalah ekspresi antusias itu,” kata Dahlan.

Selamat mencoba.

Joko Intarto @IntartoJoko

http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/10/26/undang-menteri-modal-ngeyel-605156.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: