Beranda » Azrul Ananda » Kalau Terbang, Saya Paling Takut…

Kalau Terbang, Saya Paling Takut…

oleh : Azrul Ananda, Dirut Jawa Pos Koran

28 Januari 2015

Jam ’’terbang’’ saya termasuk yang tidak keru-keruan. Surabaya–Jakarta bisa seminggu dua kali, dan hampir selalu berangkat pagi pulang malam. Rekor pribadi saya adalah 75 penerbangan dalam 90 hari.

Dari dulu, saya paling suka nonton Discovery Channel atau National Geographic (setelah nonton sitcom). Sejak tahun lalu, saya suka sekali tayangan berseri Air Crash Investigation, cerita-cerita tentang kecelakaan pesawat dan penyelidikan serta solusi-solusinya.

Ketika ke Australia bersepeda/menonton/meliput Tour Down Under 17–25 Januari lalu, saya naik Malaysia Airlines.

Dari sebelum berangkat sampai pulang, entah berapa SMS/BBM/pesan yang saya terima mengucapkan: ’’Jangan hilang ya.’’

***

Rencana ke Australia kami buat sejak sekitar September/Oktober tahun lalu. Rencananya berlima, tapi akhirnya dua cancel dan hanya bertiga.

Karena itu event kelas dunia, dan puluhan ribu orang akan terbang ke Adelaide dalam masa yang sama, kami memang harus book tiket agak jauh hari.

Ada beberapa opsi: Ekonomi beberapa maskapai kondang. Ekonomi atau promo bisnis penerbangan low cost carrier. Dan ada bisnis yang sangat menggiurkan harganya: Malaysia Airlines.

Saya langsung pilih penerbangan itu. Harga setara ekonomi yang lain, tapi kelas bisnis. Teman saya, yang mungkin masih gemetaran dengan nama ’’Malaysia Airlines’’, yang tidak lama lalu mengalami kisah tragis pada dua penerbangannya, lantas memilih AirAsia –low cost carrier– yang menawarkan promo kelas bisnis.

Teman satu lagi tampaknya bimbang. Walau kemudian memutuskan untuk booking AirAsia juga. Pengantin baru, mungkin dia gemetar juga dengan opsi satunya.

Lalu, Desember lalu, peristiwa yang mengguncang kita semua itu terjadi. AirAsia Surabaya–Singapura jatuh.

Sekarang, dua opsi penerbangan yang kami punya sama-sama bisa bikin gemetar orang. Pada akhirnya, satu teman tetap naik AirAsia. Satu lagi, ketika ada opsi pembatalan tiket karena jadwal pulang harus berubah, memutuskan pindah ke Malaysia Airlines bersama saya.

***

Tahu saya akan naik Malaysia Airlines, entah mengapa, begitu banyak SMS/BBM/pesan yang masuk bilang, ’’Have a safe flight, jangan hilang ya…’’

Mungkin refleks jari-jemari mereka ketika mengetikkan pesan itu. Atau, refleks lidah mereka ketika mengucapkan pesan itu.

Terus terang, saya ini kategori orang yang sangat cuek. Saya percaya, semua ada waktunya. Kalau waktunya ya waktunya. Tidak harus naik kendaraan apa-apa, kalau sudah waktunya, kita berdiri diam tidak berbuat apa-apa di atas trotoar saja bisa jadi korban kecelakaan.

Dan saya termasuk yang paling gampang tidur di pesawat. Sudah tidur sebelum take-off, bangun begitu landing. Saya selalu bawa majalah untuk dibaca di pesawat, tapi selalu ketiduran sebelum benar-benar membacanya.

’’Majalahnya yang membaca AA,’’ celetuk teman-teman yang pernah satu pesawat dengan saya.

Tapi, mungkin karena saking banyaknya pesan yang saya dapat, ketika di pesawat itu dan pesawat agak goyang dikit, saya jadi kepikiran juga.

Hadeh hadeh

***

Pada akhirnya, tentu saja tidak terjadi apa-apa. Lha ini masih bisa nulis…

Justru, saya sangat terkesan dengan penerbangan naik Malaysia Airlines ini. Sebelum ini, mungkin hanya sekali saya naik maskapai yang sama. Dan saking lamanya, saya sampai lupa. Mungkin masuk hitungan belasan tahun lalu.

Pelayanan luar biasa, lebih baik dari kebanyakan penerbangan kelas bisnis lain. Makanan juga cocok, dan saya termasuk orang yang paling sulit makan di dalam pesawat. Hampir selalu minta/bawa mi instan kalau penerbangan jauh.

Saking sulitnya makan di pesawat, terbang naik AirAsia terus terang merupakan pilihan favorit saya. Walau harus bayar ekstra, di AirAsia, saya bisa MEMILIH mau makan apa. Termasuk mi instan kalau memang tidak pengin pilihan yang lain.

Saya tidak tahu, apakah pelayanan Malaysia Airlines sudah sehebat ini sebelum kejadian-kejadian yang tidak diinginkan itu. Kalau sudah, salut dan maaf saya tidak pernah menjadikan Malaysia Airlines sebagai pilihan ketika ada opsi tersebut.

Kalau lebih baik karena tragedi, maka itu adalah hal positif yang selalu kita dapatkan dari segala kesulitan.

Bonus buat saya: Ketika pulang dari Adelaide, ternyata saya satu pesawat dengan sedikitnya tiga tim balap sepeda WorldTour peserta Tour Down Under. Para bintang dunia itu duduk di sekeliling saya.

Mereka terbang via Kuala Lumpur sebelum melanjutkan penerbangan ke Eropa.

’’Kamu seperti ikan yang dicemplungkan ke kolam yang isinya ikan sejenis,’’ bunyi pesan BBM yang saya terima ketika diberi tahu serunya isi pesawat saya.

Hehehe… Saya selalu percaya, kalau kita tidak rewel, apa yang kita mau akan datang sendiri plus bonusnya. Kalau kita terlalu rewel, malah bisa nggak dapat apa-apa.

Kecuali mungkin yang kita hadapi memang harus direweli!

***

Memang, ada beberapa teman saya yang benar-benar takut naik pesawat. Ada juga yang sebelumnya tidak takut, dengan berbagai kejadian ini, sekarang malah takut.

Padahal, sekali lagi perlu ditegaskan, mungkin jalan raya lebih berbahaya daripada terbang di udara. Kayaknya lebih banyak orang tewas kecelakaan lalu lintas dalam setahun dibandingkan kecelakaan pesawat.

Bagi orang yang sering terbang seperti saya, mungkin lebih takut dapat ’’teman duduk’’ yang nggak asyik di pesawat…

Terus terang, saya sekarang paling takut naik Garuda. Bukan karena takut terbang, karena takut kenal terlalu banyak orang di dalamnya (di samping takut yang duduk di sebelah saya menghabiskan tempat melebihi jatahnya).

Bukan karena takut ketemu, tapi takut ngobrol wkwkwkwk

Seperti ditulis di atas, kalau di pesawat, saya hanya ingin tenang baca majalah, atau ’’dibaca’’ majalah alias tidur.

Kalau naik Garuda, biasanya memang ada atau banyak yang kenal. Maaf, dan tolong jangan dianggap saya ge-er, biasanya memang ada yang ingin kenalan dan ngajak ngobrol.

Kalau naik kelas bisnis sih lebih ’’aman’’, cuman saya kan lebih sering naik ekonomi. Hanya kalau kepepet/butuh cepat/situasi khusus baru naik bisnis.

Sekali lagi, itu tidak apa-apa. Senang, bangga, bersyukur malah. Cuman ya itu, kadang penginnya duduk diem, baca, atau tidur. Apalagi kalau sudah seharian kena macet di Jakarta (meeting-nya sih cuman beberapa jam) dan naik pesawat paling malam balik ke Surabaya.

Kalau teman ngobrolnya asyik (seperti Selasa pagi kemarin, 27 Januari, ketika ketemu Pak Hermawan Kartajaya di Garuda) sih nggak papa. Kalau SKSD, itu yang wadow(*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: